
Chapt 37
"Nindiya puteriku. Kuharap kau baik baik sekarang. Jika ucapan Wardana benar, kuharap kau bahagia. Dan aku ingin melihatmu bahagia. Jika ucapannya salah, yang penting, aku bisa bertemu denganmu."
Dengan keyakinannya. Ia harus berhasil mengembalikan kekuatannya itu. Sudah lima belas tahun ia hidup dalam gua. Tenaga dalamnya telah habis dan tidak bisa mengumpulkannya lagi.
Untuk mendapatkan tenaga dalam, ia memiliki dua cara, yaitu dengan latihan pernafasan atau dengan menggunakan mantra atau doa. Ia memilih menggunakan latihan pernafasan. Alasannya karena ini adalah latihan yang cukup aman.
Semakin baik ia mengatur pernafasan, ia akan dapat menyerap energi dengan baik. Jika ia menggunakan mantra, itu bisa saja ia dengan mudah memiliki tenaga dalam dengan jumlah lebih besar. Tetapi resikonya, ini bisa mengundang jin atau setan yang dapat memberikan kekuatannya.
Jin atau setan itu bisa meningkatkan kekuatannya sangat pesat. Tetapi jin atau setan itu pun sewaktu waktu bisa mengendalikannya.
"Kurasa kata kataku memberikan semangat untuknya." Wardana dari luar menatap Daniswara yang berusaha berlatih tenaga dalam.
"Semoga kita tidak mengulangi kesalahan lagi Daniswara, orang yang tidak berguna ini, akan berusaha membantumu." Wardana menghunus pedangnya.
Pedang yang dihunus dari sarungnya. Sekarang ia membelah sarung pedangnya. Ia melemparkan sarung pedang yang telah dibelah ke arah Daniswara.
"Daniswara, pelajarilah ilmu itu, kurasa kau ingin menemui puterimu. Aku hanya membantumu dengan cara ini. Bukankah kau juga ingin menggendong cucu kita suatu hari nanti?"
"Wardana. Semoga ucapanmu benar." Ia melihat belahan sarung pedang tersebut. Ia pun tahu apa itu.
__ADS_1
Daniswara melihat kalimat yang menggunakan aksara Jawa. Seperti sebuah kitab, kalimat tersebut sangat berguna bagi pendekar.
"Sepertinya kau berhutang banyak padaku. Jika anakmu memberikan seorang cucu, aku yang akan memberi nama. Maka kau tidak berhutang lagi padaku. Anggap saja itu imbalan yang aku inginkan."
"Baiklah. Tidak usah kuatir. Tidak peduli siapa yang memberikan sebuah nama. Yang aku inginkan adalah melihat puteriku bahagia."
"Yah. Seperti yang diharapkan." Wardana berbalik dan keluar dari goa.
Wardana menjauhi goa tersebut. Dilihatnya pedang yang tidak memiliki sarung itu. Ia harus mendapatkan sarung pedang baru. Karena satu satunya sarung pedang tersebut telah dirusaknya sendiri.
"Sesungguhnya pedang ini tidak lebih berguna daripada sarungnya. Tidak ada yang mengira bukan?"
Selama ini, inilah pemikiran dari para pendekar. Tetapi Wardana menyangkal semua ini. Ia lebih baik kehilangan pedangnya daripada sarungnya. Karena ia akan selalu menjaga sarung pedang itu. Tidak ada orang yang peduli dengan sarung pedang. Maka dari itu, Wardana menyimpan rahasia di dalam sarung pedang.
"Tidak kusangka. Kitab ini ada pada sarung pedang ini. Wardana, kau selalu memberi kejutan yang tidak terduga. Aku akan mengingatnya. Lalu akan kuhancurkan kitab ini."
Daniswara membacanya dengan serius. Setidaknya ia harus menghafal semuanya. Tetapi ia tidak yakin, apakah setelah menghancurkannya, ia masih tetap hidup di waktu yang lama?
Tidak. Setidaknya ia harus memastikan. Ilmu yang ada di kitab itu harus memiliki penerusnya. Setidaknya ia harus memikirkan masa yang akan datang. Tetapi bagaimana kalau yang menggunakan ilmu itu orang yang tidak bertanggung jawab? Ia lebih banyak berpikir daripada membaca.
Akibatnya dia hanya membaca tanpa bisa masuk ke dalam pikirannya. Ia memutuskan untuk menghentikannya. Ia tidak boleh ragu dalam mengambil keputusan. Ia harus percaya kepada Sang Illahi.
__ADS_1
"Kurasa ini tidak berguna sama sekali." Daniswara melempar benda itu.
Daniswara memutuskan untuk tidak mempelajari kitab yang tidak berguna itu. Ia akhirnya memutuskan untuk mengelola pernafasannya karena teknik pernafasan ini adalah sarana pegolahan tenaga dalam paling aman.
"Mungkin akan sedikit lebih lama. Kau tunggulah nak. Aku pasti akan menemuimu. Kamu satu satunya keluargaku yang tersisa. Nindiya." Daniswara menyelesaikan latihannya.
Ia melihat rantai yang terus melilitnya. Untuk saat ini, ia tidak dapat memutuskannya. Karena ia benar benar tidak bisa mengumpulkan tenaga dalam dengan cepat. Sekuat apapun ia mengumpulkannya, maka ia akan semakin kehabisan tenaga dalamnya lagi.
"Ternyata kau sama sepertiku Daniswara. Tetapi kau masih memiliki harapan."
"Yah walaupun harapan ada. Tetapi ini masih terlalu dini kau mengatakan itu. Di kitab ini, bahkan aku tidak bisa menyentuh pedang langit sekalipun."
"Tidak masalah. Karena masih ada pedang bumi. Kau bisa menggunakannya. Bukankah pedang bumi lebih cocok untukmu?"
"Jangan katakan pedang bumi. Itu adalah pedang neraka."
"Sebaiknya kau hati hati dengan ucapanmu."
Setelah mengatakan itu, Wardana pergi meninggalkan tempat tersebut. Ia tidak ingin berdebat mengenai pedang tersebut. Karena ada pendapat tentang pedang tersebut. Ada yang mengatakan pedang itu disebut pedang bumi, ada pula yang menyebut itu pedang neraka.
***
__ADS_1