
Chapt 63
"Apakah mereka sudah selesai berkelahi?" Ungkap Nindiya. Ia menatap Nehan yang tidak berekspresi.
"Entahlah. Kurasa belum. Kamu mau kemana lagi?" Tanya Nehan.
Dari tadi, Nehan menuruti kemana Nindiya berjalan. Nindiya sangat senang berjalan kesana sini tanpa merasa lelah, sementara Nehan yang mengikutinya sudah berkeringat.
"Emmm... Udah." Balasnya. Ia tidak tega melihat Nehan yang nampak lelah.
"Kita pulang?" Tanya Nehan.
"Eh... Tidak. Kita temui mereka dulu." Ucap Nindiya.
Nindiya menggembungkan pipinya. Ia terlihat manis saat melakukan itu. Nehan yang melihatnya pun tersenyum. Rasa lelahnya seakan menguap. Disentuhnya kedua pipi Nindiya dengan telapak tangan Nehan.
"Euhh... Kamu ngapain?" Dengus Nindiya.
"Kamu lucu." Jawab Nehan.
"Uuhh..." Balasnya.
Keduanya melanjutkan jalannya. Saat ini, sudah banyak barang barang yang dibawa Nindiya. Berupa pakaian dan beberapa souvernir yang dibelinya di pasar.
Namun dalam jalannya yang agak sepi, mereka telah berada di belakang pasar. Seorang yang menggunakan topeng tengkorak. Ia bersama beberapa orang yang memakai topeng mereka. Tampak lima orang yang memakai topeng yang sama.
"Heiy tunggu kalian berdua." Seorang dari mereka yang memegang gada besar.
Nehan dan Nindiya berhenti. Tak ada rasa takut dari mereka berdua. Nehan tahu niat para pendekar bertopeng tersebut. Mereka adalah kelompok Topeng Tengkorak. Mereka bukanlah perampok atau penjarah orang orang dipasar. Tetapi mereka akan menjajal semua pendekar yang lewat.
Nehan pernah bertemu mereka, tetapi tidak pernah sekalipun mengusiknya. Karena yang dicari Topeng Tengkorak adalah kepuasan. Mereka suka bertarung dan bermain wanita. Kalau dirasa ada yang cantik dan bening, mereka akan berada di garis depan.
"Serahkan perempuan itu pada kami." Ucap salah satu dari mereka.
"Nehan. Siapa mereka?" Tanya Nindiya.
"Mereka menyebutnya Topeng tengkorak. Mereka selalu mencari perempuan untuk melampiaskan nafsu mereka. Kalau tidak, mereka akan bertarung dengan pendekar yang lewat." Terang Nehan.
"Apakah kau akan menyerahkan gadis itu, anak muda?" Seringaian senyum di balik topengnya
"Nindiya. Apa kau bisa hadapi mereka?" Kini Nehan mengambil beberapa barang yang ada di tangan Nindiya.
"Kau tenang saja." Ucap Nindiya.
Sebuah kesalahan bagi mereka yang memilih orang yang salah. Nindiya tersenyum manis kepada para pendekar bertopeng. Dan para pendekar bertopeng tersebut merasa senang. Mereka menyambut kedatangan Nindiya yang berjalan mendekat.
"Tak kusangka. Kau menyerahkan diri begitu saja. Apa kau siap menghadapi kami semua?" Tanya salah satu dari mereka.
"Aku hanya ingin main main." Jawab Nindiya.
"Baiklah. Mari kita bermain." Ia memegang pundak Nindiya.
"Krak!" Suara keras tulang yang patah.
__ADS_1
"Akhh!" Rasa sakit teramat karena Tulang lengannya yang patah.
"Tak kusangka, isteriku begitu hebat. Kuharap ia tidak melakukannya padaku." Gumam Nehan.
"Perempuan sial. Ternyata dia pendekar!" Umpat pendekar yang tangannya sudah patah.
"Serang dia!"
Mereka berlari mengayunkan senjata mereka. Seorang memegang tongkat berbentuk tulang dan mengayunkan pada Nindiya. Namun Nindiya menghilang begitu saja.
"Kemana dia?" Mereka kebingungan.
"Sial!"
"Kemana kau!"
Mereka mengumpat dan mencari keberadaan Nindiya yang menghilang tiba tiba. Mereka tidak menyadari, seseorang telah terkena pukulan keras. Ia ambruk ke tanah dan telah terkapar.
"Bahkan ia sangat hebat." Puji Jumantara.
"Benar bukan?" Bayu tersenyum.
"Apa kau bisa melakukannya?" Ejek Indera.
Bayu, Indera, Jumantara dan Gemani tidak sengaja melihat Nehan dan Nindiya diserang. Namun mereka memilih melihat dari jauh. Karena Bayu dan Indera sudah memberitahu Jumantara, bahwa Nindiya bukan perempuan sembarangan.
"Ajian sepi angin." Ucap Jumantara.
"Apa?" Tanya Bayu.
"Sepertinya aku pernah mendengarnya." Ucap Gemani.
"Ajian sepi angin? Ajian apa itu?" Bayu terlihat bingung.
"Ajiang ini sangat berbahaya. Saya pernah mendengar, ajian ini adalah ajian tingkat tinggi. Pengguna ajian ini bergerak sangat cepat seperti angin. Tenang seperti angin. Bukankah kalau kalian menggunakan ilmu meringankan tubuh, kalian akan meninggalkan hembusan angin kencang?"
"Iya." Jawab mereka.
"Kalau menggunakan ajian sepi angin, bahkan musuh tidak dapat melihat bahkan mendengar orang yang sedang menggunakan ajian tersebut. Bahkan harimau putih milikku. Pendengarannya sangat tajam. Tetapi mereka tidak dapat mendengarnya."
"Jadi? Harimau putih, dapat mendengar jarak jauh?" Tanya Bayu.
"Bahkan saat kalian membicarakan ku di belakang."
"Apa?" Mereka berdua kaget bukan main.
"Apa yang kalian lakukan disini?"
Tiba tiba, Nindiya telah berada di samping mereka. Tentu mereka sangat kaget karena mereka sedang membicarakannya.
"Hei... Bagaimana bisa?" Kata Bayu tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Karena Nindiya berada tepat di depannya.
Sementara yang lainnya hanya terbengong. Mereka tidak dapat berbicara lagi setelah melihat kemampuan Nindiya. Sedangkan ditempat Nindiya bertarung, telah tergeletak pendekar pendekar bertopeng tersebut.
__ADS_1
"Ini sulit untuk dipercaya. Tetapi benarkah kau menggunakan ajian sepi angin?" Tanya Jumantara.
"Ajian sepi angin? Entahlah. Aku hanya menggunakan ilmu yang diajarkan kakekku."
"Siapa nama kakakmu?" Tanya Jumantara.
"Sebenarnya beliau bukan kakekku. Tetapi guru dari mendiang ayahku. Tapi aku memanggilnya kakek."
"Siapa namanya?" Tanya Jumantara sekali lagi.
"Kakek Mahadri." Jawabnya.
"Hahh! Benarkah itu?" Jumantara tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya.
"Kau tahu kakekku?" Tanya Nindiya.
"Oohh... Ia adalah... " Jumantara sudah untuk berucap.
Dulu ia pernah ditolong oleh kakek Mahadri. Saat itu, ia juga menggunakan ajian yang sama. Dan ia pernah mendengar, bahwa kakek Mahadri memiliki murid yang kekuatannya sangat hebat. Ia memiliki pedang langit yang melegenda.
"Apakah kau anak dari Daniswara?" Tanya Jumantara memastikan.
"Kau tahu ayahku?" Nindiya menatap Jumantara yang seperti mengetahui sesuatu.
"Ahh. Aku hanya pernah mendengar namanya. Di dunia persilatan, beliau adalah orang yang sangat hebat. Namun kau apakah tahu, ayahmu dimana?"
"Tidak?" Mengingat ayahnya, membuat Nindiya sedih.
Nindiya berlari menuju kearah Nehan yang berjalan mendekatinya. Nindiya memeluk Nehan dan menangis di pelukan Nehan.
"Ada apa? Mereka menyakitimu?" Tanya Nehan mengusap punggung Nindiya.
"Ayah. Aku ingat ayah."
"Tenang. Tenang." Ucap Nehan sambil mengelus rambut Nindiya.
Soal bertarung, Nindiya adalah yang terhebat. Namun soal perasaan, ia sangat lemah. Ia tidak sampai sekarang belum bisa melupakan orang tuanya. Entah dimana ayahnya sekarang. Masih hidup atau sudah tiada. Ia tidak tahu sampai sekarang.
"Kau membuatnya menangis?" Bayu menatap Jumantara yang serba salah.
"Aa... Aku tidak tahu itu. Dia sangat hebat bertarung. Tapi aku tanya ayahnya, kok jadi seperti ini?"
"Gadis yang lemah." Kata Gemani pelan.
Gemani merasa iba. Ia juga merasakan hal yang sama dengan Nindiya. Tetapi ia sudah benar benar kehilangan kedua orang tuanya. Ia melihat orang tuanya sebelum kematian mereka. Sedangkan Nindiya, ia tidak tahu dimana ayahnya. Masih hidup atau mati, tidak ada yang tahu.
Hal yang semua orang tahu, pedang langit yang menjadi pedang andalan Daniswara, berada di perguruan Pedang Dewa. Tetapi mereka tidak mengkonfirmasi darimana mereka mendapatkan kembali pedang tersebut.
"Tidak menyangka, ternyata Nindiya ada hubungannya dengan pendekar guru dan murid tersebut. Tentu saja tidak mustahil, dia bisa menggunakan ajian sepi angin. Pasti Mahaguru Mahadri yang mengajarinya." Terang Jumantara.
Jumantara tidak pernah menyangka. Ia akan bertemu dengan keturunan sang legenda yang mampu menguasai pedang dewa. Memang menurut rumor, semua orang mampu menggunakan pedang dewa, penggunanya pun bisa menjadi pendekar terhebat. Namun mereka semua tidak tahu kebenarannya.
Pedang langit, tidaklah sesederhana itu. Butuh kekuatan besar untuk menguasainya. Tidak sembarang orang bisa menguasai, seperti halnya pedang bumi yang digendong Nehan. Namun mereka semua tidak menyadarinya.
__ADS_1
Mereka tidak menyadari Nehan yang menggendong pedang bumi. Tetapi Bayu dan indera sudah tahu pedang itu. Tidak memberitahukan kepada Jumantara dan Gemani. Tapi setelah mereka tahu, pasti mereka akan lebih terkejut lagi.
***