
Kekuatan Nindiya sudah berangsur kembali. Walau tidak sepenuhnya, ia merasa cukup senang. Ia mengira wajahnya juga sudah kembali seperti semula. Tapi disaat ia meraba wajahnya, ia merasakan luka itu masih buruk.
"Kamu kenapa? Bukankah aku sudah katakan, aku akan menyembuhkan wajahmu? Aku pasti akan menepati janjiku padamu! Aku ini adalah tabib terhebat di dunia ini! Apa kamu percaya, aku bahkan bisa mengobati seorang wanita muda yang tidak bisa ditangani tabib lain. Tentu aku akan menyelamatkan kamu! Tapi sayangnya aku belum mengumpulkan semua bahannya! Kamu harus bersabar dengan itu."
Walau Nehan sudah berjanji dan ia sangat yakin dengan kemampuan suaminya, ia khawatir kalau wajahnya tidak sama seperti dahulu lagi. Apakah Nehan akan mengenalinya atau tidak. Itulah yang membuat dirinya kepikiran terus.
"Terima kasih, Nehan. Aku bukannya tidak percaya kepadamu. Tapi apakah kamu bisa membuat wajahku kembali seperti dahulu?" tanya Nindiya. Ia sungguh berharap wajahnya akan kembali. Tentu agar Nehan bisa percaya padanya.
"Hei, kamu sudah ku rawat selama satu bulan. Luka di tubuhmu sudah delapan puluh persen pulih. Dan tentu tubuhmu sudah sangat menggoda lelaki manapun, hehehe. Hanya saja berbeda dengan kulit wajahmu yang berbeda dengan kulit lainnya."
Pada akhirnya pertanyaan darinya tidak dijawab oleh Nehan. Yang sudah pasti tabib muda itu tidak bisa menyembuhkannya. Waktu satu bulan untuk bisa sembuh dari luka bakar pun tergolong lama baginya. Tapi ia tidak bisa menyalahkan Nehan yang hanya menggunakan bahan sederhana untuk mengobati dirinya. Hawa kehidupan di hutan itu juga mencekam dari pertama kali ia bisa melihat lagi sampai saat ini.
"Baiklah ... aku akan menunggumu mengobati wajahku. Walaupun nanti wajahku tidak seperti dulu lagi, aku akan selalu berada di sisimu." Tentu wanita itu tidak akan melepas Nehan lagi. Ia tidak akan membiarkan peristiwa seperti dulu terulang kembali. Di saat dirinya melawan pendekar golongan hitam yang berusaha membunuh dirinya dan Nehan saat berada di wilayah kerajaan Lokapraja.
"Mungkin malam ini kita akan tidur di sini! Tapi bahan obat yang ku kumpulkan berada di bukit itu!" tunjuk Nehan ke arah bukit yang berada di depannya. Ia sudah mengumpulkan beberapa bahan obat untuk ia jual. Namun ia tidak sempat mengambilnya karena fokus menggendong Nindiya.
Kalau gitu, kita kembali saja ke sana! Lagian kita sudah tidak apa-apa lagi sekarang. Aku juga sudah memiliki pedang ini. Kalau makhluk itu muncul lagi, aku bisa menggunakan pedang ini, kan?" usul Nindiya, menunjukkan pedang di tangannya.
__ADS_1
Nehan tidak ingin mengajak Nindiya karena khawatir. Tapi ia juga tidak tahu nantinya kalau bertemu dengan orang. Wajah wanita itu belum sembuh dan ada kemungkinan membuat orang takut atau akan ada banyak yang menghinanya. Karena itu, Nehan menyerah dan membiarkan Nindiya ikut bersamanya. Selain karena ilmu kanuragan yang dimiliki oleh Nindiya yang sudah kembali pulih.
"Kalau kamu ikut, baiklah ... tapi jangan jauh-jauh! Kita hanya akan mengambil bahan-bahan obat itu. Tapi tidak untuk masuk dan kembali ke dalam alam ghaib itu lagi!" ujar Nehan.
"Baiklah ... kalau begitu, aku menutut sama kamu. Kalau gitu, ayo kita berangkat sekarang juga!" cetus Nindiya. Ia memegang pinggang Nehan lalu melompat, menggunakan tenaga dalamnya untuk melompat ke atas dahan.
"Eh, apa ini? Apakah kau membawaku menggunakan ilmu tenaga dalammu?" Nehan tidak menyangka akan dibawa oleh wanita di sampingnya dengan ilmu meringankan tubuh.
Mereka seperti terbang, saat Nindiya melompati dari dahan satu ke dahan lainnya. Mereka bisa melihat keadaan di bawah yang membuat Nehan dan Nindiya sendiri takjub. Karena desa itu banyak memiliki pohon yang daunnya berwarna kuning dan merah. Daun mahoni yang berada di sekitar mereka saat ini sedang berguguran. Dan saat itu, seluruh daun akan menguning dan mengering bersamaan. Dan akan tergantikan oleh daun baru yang akan menggantikannya.
"Lihatlah ... ini daun yang berwarna kuning ini! Lebih baik kita jalan kaki saja dari sini! Perjalanan tidak terlalu lama. Jadi kita tidak perlu terburu-buru. Di lain waktu, usahakan jangan terlalu banyak menggunakan tenaga dalam."
"Eh, ada bijinya juga. Hemm ... apakah kau pernah bermain dengan biji mahoni?" tanya Nehan kepada Nindiya yang menggeleng. "Oh, kalau begitu, aku akan tunjukkan padamu, bagaimana kita bisa bersenang-senang dengan biji mahoni ini."
Nehan mengumpulkan biji-biji mahoni yang berserakan di tanah. Ia lalu melemparnya satu ke atas. Biji mahoni itu turun dengan berputar-putar menuju ke bawah. Nindiya bertepuk tangan dengan senangnya. Ia tidak tahu kalau biji mahoni akan menjadi sebuah hal yang menarik perhatiannya. Ia menangkap dan melemparnya kembali. Nehan yang melihat itu, lantas melemparkan semua biji mahoni itu ke atas.
"Woaahhh! Ini keren banget! Hahahaha! Ayo lemparkan lagi, Nehan!" seru Nindiya. Ia melupakan dirinya yang memiliki tampilan yang tidak menarik lagi seperti dulu. Ia bersenang-senang dengan biji mahoni itu.
__ADS_1
Nehan melihat senyuman Nindiya pun merasa senang. Saat melihat wajah Nindiya, ia seperti melihat wajah sang istri. Sama persis seperti Nindiya istrinya yang dikabarkan telah mati. Bahkan karena saking senangnya, ia mengangkat Nindiya. Ia tarik tubuh wanita itu lalu menggendongnya di depan. Ia melakukan gerakan berputar di tengah-tengah gugurnya daun mahoni yang menguning.
"Waaaaahhh! Huuuaaaa! Ayo Nehan! Hahahaha!" tawa Nindiya kegirangan saat tubuhnya diangkat di depan sang suami. Ini juga yang sudah ia rindukan dari sang suami. Walau Nehan tidak lagi mengenalnya. Tapi untuk saat ini, dirinya sudah cukup puas.
Nehan terus memutar Nindiya dengan senang hati. Tertawa bersama dan menikmati gugurnya daun. Angin berhembus dengan kencang, membuat semakin banyak dedaunan yang sudah memenuhi jalanan. Daun-daun itu juga mulai terbawa angin. Berputar, memutari Nehan dan Nindiya yang sedang memegang pedangnya sambil diayunkan.
Pedang Angin menjadi mainan baru bagi Nindiya. Karena dengan pedang itu, ia tidak perlu mengeluarkan tenaga dalam untuk membuat angin kencang itu. Bahkan mereka terbawa terbang oleh angin, dengan dedaunan yang mengelilinginya.
"Hei, kita terbawa angin? Apa kamu menggunakan tenaga dalammu? Hei, kamu tidak boleh menggunakan tenaga dalammu dahulu! Turun!" perintah Nehan tegas. Walau ia yang dalam posisi menggendong wanita itu, masih bisa menggunakan tenaga dalamnya untuk terbang.
"Aku tidak bisa terbang, Nehan. Aku hanya bisa meringankan tubuh." Walau ia meneruskan di dalam hatinya, 'Juga ajian sepi angin. Tapi tidak untuk saat ini. Aku tidak bisa menggunakannya sekarang.'
Nehan merasa ngeri tapi tidak lama setelah itu, Nindiya menggerakkan pedangnya dan perlahan angin menurunkan mereka. Dalam posisi Nehan yang mengangkat Nindiya.
Hal yang terjaga baru saja terjadi ketika daun mahoni dengan cepat meluncur ke arah mereka. Yang mengenai lengan Nehan. Membuat lengan itu tergores dan berdarah.
"Hehehe, kita sepertinya bertemu lagi. Mungkinkah ini juga merupakan jodoh?" Seorang pria tua yang berpenampilan jenggot putih dengan pakaian serba hitam. Ia tersenyum lalu melempar daun-daun mahoni ke arah Nehan dan Nindiya
__ADS_1
***