Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 82 Narendra Atau Nehan


__ADS_3

Chapt 82


Di tepi sungai yang aliran airnya cukup tenang, dengan warna air bening kehijauan, namun tidak untuk yang sedang duduk di sebuah batu besar. Disana, Nindiya duduk dengan sesekali melemparkan batu-batu kecil ke tengah sungai. Tak ingin larut dalam kesedihan, perempuan itu pun segera melangkahkan kakinya berniat untuk menyelesaikan lamunannya.


"Kuharap, kau masih hidup, Nehan!" gumamnya sembari menyunggingkan senyum. Ia tidak percaya, suaminya telah meninggalkannya untuk selamanya.


Terus berjalan dengan sesekali menengok ke belakang. Disana terbayang wajah lelaki tersebut. Yah, wajah tampan dari seorang tabib hebat. Namun apakah sang tabib tersebut dapat mengobati dirinya sendiri? berbagai kenangan muncul dalam angannya. Ketika ia mengingat waktu berharga mereka.


Nehan adalah sosok lelaki yang baik. Tetapi sebagai seorang isteri, ia bahkan belum bisa membalas kebaikannya. Sebagaimana ia sadari. Ia tidak belum belum menjadi isteri yang sempurna. Tetapi ia telah berjanji pada diri sendiri. Ia akan menuruti permintaannya yang terakhir.


"Nehan ... aku akan belajar lagi. Sebulan kini telah berlalu. Tetapi kau masih belum juga menemuiku. Apa kabar kau disana? aku sudah belajar dengan baik. Ayahku telah mengajariku banyak hal. Dan sekarang ... kuingin kau kembali padaku!" ucapannya lirih tetapi terasa perih di dalam dada.


Dengan langkah kecilnya, ia menatap langit biru. Menampakan bayangan lelaki itu. Yah dia yang telah sah menjadi suaminya. Walaupun mereka hanya bertemu hanya hitungan hari, secepat itulah perasaan cinta tumbuh di hati Nindiya.


Selama hidupnya, diusia dua puluh tahun, ia baru pertama kali merasakan apa itu cinta. Dan perasaan itu mendalam. Tumbuh dengan baik, tersimpan dalam sanubari.


"Aduh!!" refleksnya karena kakinya terantuk batu.


"Kok bisa kesandung gini?" ucapnya sambil memegangi kakinya yang kini berdarah.


"Hei gadis ... apakah kau terluka?" suara itu, yah Nindiya ingat dengan baik suara tersebut.


Senyum Nindiya mengembang karena ia ingat betul, siapa pemilik suara tersebut. Ia membalikan badannya, tetapi alangkah terkejutnya, saat ia melihat ke belakang, bukanlah pemilik suara yang dibayangkannya.


"Nehan? eh bukan?" ucapnya dengan nada bertanya.


"Nehan? maaf ... itu bukan namaku. Bolehkah aku membantumu?" tanyanya ketika ia melihat Nindiya meringis kesakitan.


Sosok pemuda dengan memakai topeng, tetapi yang membuat Nindiya yakin itu bukan Nehan adalah, karena Nehan tidak pernah terlihat membawa panah, sedangkan sosok pemuda bertopeng di depannya terlihat sebagai pemburu di hutan.


"Aku sedang berburu di hutan ini. Tak kusangka akan menemui gadis cantik di hutan sendirian. Kalau boleh, aku temani?" pemuda tersebut mengambil bubuk obat dari sakunya. Ia melepaskan kain putih yang terikat di lengan kirinya.


"Eh ...?" Nindiya merasa kaget, karena pemuda tersebut segera menaburkan bubuk tersebut, kemudian membalut luka Nindiya dengan kain putihnya.


"Ini adalah jimat keberuntunganku. Aku selalu membawa kain putih ini. Tetapi ternyata keberuntungan berada di pihakku sekarang? karena aku bisa bertemu gadis secantik dirimu ...," pemuda tersebut kemudian berdiri dan membangunkan Nindiya.

__ADS_1


"Kau ... Nehan?" ia ingin memastikan bahwa mungkin saja ia adalah Nehan. Karena ia juga dapat menyembuhkan luka goresan dari batu tersebut.


"Nehan? maaf gadis manis. Tetapi Nehan itu bukan namaku. Tetapi jika kau memanggilku dengan nama itu, aku tidak keberatan. Hehehe ..." tawanya terasa garing.


"Kau bukannya seorang tabib? itu kau bisa sembuhkan kakiku?" ia hanya tahu, hanya seorang tabib yang bisa menyembuhkan luka seperti Nindiya.


"Ooh ... apakah hanya tabib saja yang bisa menyembuhkan orang? aku ini pemburu, kalau tidak bisa mengobati luka seperti ini," pemuda itu menunjuk luka Nindiya yang sudah di obati olehnya.


"Maka aku tidak bisa bertahan di hutan ini. Setiap pemburu pasti wajib memiliki bubuk obat. Karena resiko pemburu, itu kadang terluka oleh hewan buas." terangnya sembari menatap langit.


"Ooh ...." Nindiya hanya berooh saja.


"Selain kamu yang terluka di kaki, ternyata aku juga terluka." ia memegang dadanya sendiri.


"Luka? kau kenapa?" karena ia tidak tegaan, tidak sengaja ia menyentuh tangan pemuda tersebut.


"Sentuhlah dadaku. Disana ada luka yang teramat dalam." sambil menuntun tangan Nindiya untuk menyentuh dadanya.


"Disini, aku terluka. Di dalam hatiku." ucapnya dengan nada yang dibuat-buat.


"Hooh ... kini hatiku benar benar terluka oleh seorang gadis. Ooh Tuhan ... mengapa nasibku seperti ini? kukira, Kau telah mengirimkan jodoh untukku, ternyata? oh Tuhan ...." Ucapnya sambil mendongakkan kepalanya keatas.


"Dasar orang gila!" umpat Nindiya.


"Iya ... kau benar. Aku sudah gila karena dirimu. Oooh, bidadariku. Datanglah kau pada pangeran tampanmu ini. Oooh ... aku milikmu sayang." Ucapnya sambil berlutut di depan Nindiya dengan mengangkat busur panah.


"Terimalah busur panah ini, sebagai tanda cintaku padamu. Jika mau, kau bisa memanah hatiku yang terluka ini. Ooh sang dewiku. Kau bagaikan kupu-kupu yang menari nari di dalam hatiku." Ia masih berlutut di hadapan Nindiya.


"Heh ..." Nindiya tersenyum lebar. Ia tidak menyangka, ada orang gila yang menghibur hatinya yang sakit karena kehilangan suaminya.


"Berarti, kau menerima rasa cintaku? maka terimalah busur panah ini sebagai tanda kau menerima cintaku." pemuda tersebut masih setia berlutut, menunggu reaksi dari Nindiya.


"Maaf, aku sudah menikah. Aku tidak bisa menerima cintamu." Ucapnya setelah ia menyadari. Ia tidak bisa berpaling ke hati yang lain. Karena hatinya telah terpaut oleh satu orang.


"Jadi kau menolak cintaku? aku jadi sedih ..." pemuda tersebut kemudian berdiri.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Jika kau sudah menikah sekalipun. Akan kutunggu jandamu! kuharap aku sabar menunggu, walau aku harus menunggu hingga sepuluh tahun, dua puluh tahun, tiga puluh tahun, atau seratus tahun sekalipun. Aku tetap setia menunggu kau menjadi janda!" pemuda tersebut mengangkat busur panahnya. Memandang tinggi ke atas.


"Hah ... tetapi kau ini lucu hehehe." Gumam Nindiya sambil terkekeh.


"Apapun itu, tetapi kau dengarkan baik-baik. Simpan namaku di hatimu. Dan perkenalkan. Namaku adalah Narendra!" ia mengulurkan tangannya kepada Nindiya, berharap perempuan tersebut menerima uluran tangannya.


"Aku Nindiya. " Nindiya membalas uluran tangan pemuda tersebut.


"Ooh Nindiya. Kau memang memiliki kelebihan tersendiri. Kau Nindiya, yang berarti memiliki kelebihan. Dimana kelebihan itu, adalah wajahmu yang cantik jelita bak bidadari dari langit. Kelebihan lainnya adalah hatimu yang murni, suci dan selalu menjadi gadis baikku yang kucinta." Narendra mengungkapkan apa yang di pikirannya dengan gamblangnya.


"Berarti kau benar-benar bukan Nehan?" gumam Nindiya, sebenarnya ia berharap lelaki yang di hadapannya adalah Nehan, suaminya.


"Ooh Nehan? aku suka nama itu. Kalau mau, kau bisa memanggilku dengan nama itu. Nehan, yang berarti merasa bahagia. Yah, memang diriku merasa bahagia dengan melihat wajah elokmu itu. Duh Nindiya. Betapa cantiknya dirimu?" Narendra menatap wajah Nindiya dengan bahagia.


"Tetapi kau bukan Nehan? aku pikir kau mirip dengannya."


"Nehan? siapakah dia? kupikir kau menyebutnya berulang kali. Apakah orang yang bernama Nehan itu sangat berarti untukmu?"


"Dia suamiku. Tetapi karena suatu hal, kami berpisah. Dan aku tidak tahu, apakah dia masih hidup atau mati."


"Jadi itu nama suamimu? aku tidak mau dipanggil dengan nama Nehan. Pasti suamimu itu menyesal, telah meninggalkanmu. Aku yakin itu. Mengapa kau masih mengingat orang yang telah meninggalkanmu?"


"Dia tidak pernah meninggalkanku." jawabnya murung.


"Lalu?"


"Ada orang yang jahat yang menusuknya dengan golok besar. Dan melemparkannya ke sungai itu." Sambil menunjuk ke arah sungai. Nindiya tak kuasa meneteskan air matanya.


"Maaf. Aku membuatmu menangis. Tetapi aku berdoa untukmu. Semoga kau bisa bertemu dengannya lagi. Semoga kau hidup bahagia dengannya. Walau itu tidak denganku. Aku rela, asalkan kau bahagia." Narendra menyentuh pundak Nindiya.


"Tidak perlu. Terima kasih." Ungkap Nindiya yang berlari sambil menangis.


Nindiya berlari walau ia sedang meneteskan air matanya. Ia tidak menyadari jika ia masih memiliki luka di kakinya. Tetapi karena perasaan sedihnya, ia tidak merasakan sakit di kakinya. Karena yang sakit adalah hatinya.


"Maafkan aku Nindiya. Aku tidak menjadi lelaki yang baik untukmu. Kuharap kau mau memaafkanku. Aku akan berdoa untuk kebahagiaanmu." Gumam Narendra lalu berjalan menuju hulu sungai.

__ADS_1


***


__ADS_2