Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 26 Siasat Kobra Api


__ADS_3

Chapt 26


Pergunjingan tersebut cepat menyebar di seluruh desa. Ada dua sosok pendekar yang misterius. Satunya memiliki gerakan yang cepat, dan satunya ahli racun. Atau mereka masih menyembunyikan kekuatan mereka. Karena mereka terlihat percaya diri.


Berbagai pujian terlontarkan namun tidak sedikit yang terancam. Mereka pendekar pendekar hebat yang terancam karena bisa jadi mereka lawan yang merepotkan.


"Apa?! Pendekar ahli racun? Dan kecepatan mereka? Tunggu. Kau bilang pendekar itu yang mengalahkan anaku? Bunuh mereka! Aku tidak terima, anaku mengalami luka luka itu."


Pimpinan perguruan Kobra Api yang mendapat berita tersebut menjadi naik tikam. Pasalnya, anak sang pemimpin tersebut adalah murid perguruan yang digadang gadang memiliki kehebatan palin hebat dari murid lain.


"Baik tuan. Akan kami lakukan." Hormat sang bawahan.


"Kupastikan. Perguruan kobra api akan melenyapkan mereka semua." Menggenggam gelas keramiknya. Ia meremas dan menghancurkannya.


Dua orang yang menyampaikan berita tersebut keluar dari ruangan pimpinan. Melihat pimpinan mereka yang marah tersebut membuat mereka sedikit ketakutan. Siapapun yang menyinggung keluarga sang pemimpin akan mendapatkan hadiah yang tidak mereka kira. Dan yang terparah adalah kematian.


"Sepertinya, guru sangat marah. Apa sebaiknya kita gunakan racun untuk melawan mereka?"


"Tetapi mereka ahli racun. Bagaimana kita melawannya? Dan kudengar, mereka tidak mempan racun dari perguruan Gendani Ireng. Kau tahu, racun mereka itu juga kita tidak tahu penawarnya. Tetapi pendekar itu."


Sang lawan bicara nampak berpikir. Ia menunjuk dahinya dengan telunjuknya. Sesekali ia terlihat bahagia. Sesekali ia nampak berpikir kembali. Kini ia harus berpikir cepat. Sebelum mereka keluar dari desa.


"Sebaiknya kita jangan gegabah. Sepertinya kita tidak akan menghadapinya dengan cara pendekar."

__ADS_1


"Maksudmu?"


"Kita gunakan otak kita. Kita dekati mereka. Dan kita akan bunuh mereka saat mereka lengah. Bagaimana?" Ungkapnya sambil tersenyum misterius.


"Hmmm... Menurutku, itu ide yang bagus. Lebih mudah dengan cara seperti itu. Daripada kita menghabiskan tenaga kita. Sepertinya kita gunakan cara ini. Baiklah, bagaimana cara kita mendekatinya?"


"Kau ikut denganku. Kita perlu bantuan orang lain untuk melaksanakan tugas kita."


"Baiklah kawanku. Kita akan melakukannya."


Keduanya segera bergegas. Mereka mendatangi sebuah penginapan di desa dan segera menemui pemilik penginapan tersebut. Karena hanya ada satu penginapan di desa tersebut.


Mengingat hari sudah menjelang sore, mereka berpikir kalau Jayasetya dan Kurasenta tidak akan meninggalkan desa. Mereka akan memasang jebakan pada untuk mereka.


***


"Kenapa kau sekejam ini?" Wanita lemah tersebut tengah berlutut lemas tidak bertenaga.


Melihat ada dua belas wanita cantik dihadapannya, Jayasetya dan Kurasenta tidak tertarik. Walaupun mereka sudah hampir telanjang. Beberapa pakaian mereka telah robek menyisakan kain yang menutupi dada mereka.


"Tenang saja, aku tidak tertarik dengan tubuh tua kalian. Tetapi... Hei... Ada seorang gadis muda." Kurasenta mengamati seorang gadis muda yang berumuran enam belas tahun.


"Kau mau apa?" Pemimpin wanita tersebut menatap miris.

__ADS_1


"Tenang saja.. aku tidak akan melukainya. Tetapi aku tertarik dengan gadis ini." Kurasenta menyentuh dagu gadis itu. "Siapa namamu gadis cantik?" Tanyanya dengan senyum khas lelaki hidung belang.


"Aaa... Ampun tuan." Gadis tersebut nampak ketakutan. Ia tidak menyangka. Dalam misi pertamanya ini, akan mendapatkan kejadian yang membuatnya dalam bahaya.


"Hei... Aku tanya siapa namamu." Kembali ia mengelus rambut gadis tersebut. "Aku tidak akan melukaimu sayang. Aku hanya ingin tahu namamu."


"Aku aku..."


"Iya?"


"Sudahlah Kurasenta. Sejak kapan kau menyukai wanita lain? Bukankah isterimu lebih cantik? Dan itu seorang gadis. Itu lebih cocok sebagai anakmu. Apa kau mau gadis itu?" Jayasetya menatap bawahannya itu. Ia tidak pernah tahu, sejak kapan ia menyukai seorang gadis yang pantas menjadi anaknya itu.


"Tuan. Apakah anda akan mengijinkanku merawat gadis ini?"


"Apa yang kau pikirkan Kurasenta? Sepertinya kau kena pelet atas kecantikan gadis itu. Tetapi apapun itu, asal kau jangan beri mereka ruang."


"Tidak tuanku. Aku hanya ingin gadis ini." Kurasenta memegang pundak gadis tersebut. Gadis itu tampak ketakutan. Tetapi Kurasenta memberikan senyuman hangat.


"Jangan kau sentuh gadis itu!" Seorang wanita berteriak. Tetapi suaranya tidak bisa keras, karena kini tenaganya hampir tidak tersisa.


"Aku tidak peduli wanita wanita tua ini. Tetapi melihat gadis ini." Kurasenta menyentuh dagu gadis itu yang tengah menangis.


***

__ADS_1


__ADS_2