
Di dalam dunia persilatan, bukan hal yang langka jika dendam akan selalu ada di dalam hati. Meskipun itu adalah sebuah kesengajaan atau sebuah kesalahpahaman. Setiap manusia yang merasa kehilangan mungkin akan memiliki dendam kesumat yang membuatnya terus mengingat dan membalaskan dendam itu.
Ini bukan sebuah dendam karena pembunuhan keluarga atau dendam seorang anak karena orang tuanya mati dibunuh oleh seseorang. Ini adalah pembalasan dendam yang menyangkut teman perguruan. Yah, dua anak muda yang tidak bisa melupakan tentang perbuatan seseorang kepada rekan seperguruannya.
"Ini adalah pembalasan kami karena perbuatan yang kamu lakukan!" geram seorang pemuda dengan menyalakan api di tangannya.
"Apakah kamu yakin, akan membakar rumah itu?" tanya rekan satu seperguruannya. Ia tidak bisa menghentikan temannya yang diburu dengan dendam.
"Apalah kamu rela, teman kita dibuat cacat olehnya? Sampai saat ini, Raditya masih belum sembuh dan kondisinya lumpuh total!"
"Indra, aku tahu maksudmu. Tapi apakah kamu yakin?"
"Aku yakin, Bayu. Inilah waktu yang tepat untuk membunuh wanita itu. Kalau tidak beruntung, dia akan mati. Kalau beruntung, maka tubuhnya akan terbakar. Dan kalaupun masih hidup, mana ada yang mau dengan dia? Pasti wajahnya akan rusak karena apiku ini," ungkap Indra yakin.
"Kalau begitu, akan ku gunakan energi anginku untuk memperbesar api. Dengan begitu, kita pasti berhasil membunuhnya. Kalaupun masih hidup, pasti akan menderita!"
"Ayo kita lakukan!" Dengan kekuatannya yang bisa menggunakan api di tangannya, ia lemparkan api ke pagar rumah itu. Api itu membakar pagar yang terbuat dari bambu.
Setelah api mulai menyala, Bayu mengeluarkan ilmu elemen anginnya untuk membuat api semakin besar. Dengan seperti itu, api semakin besar dan segera membakar rumah itu.
Sementara di dalam, seorang wanita tengah terlelap dan tidak tahu ada api yang membakar rumahnya. Ia baru terbangun ketika merasakan panas dan suara letupan dari bambu yang terbakar. Malam itu ia hanya seorang diri dan tidak ada yang mengetahui kebakaran di tengah malam itu.
"Panas ... ah." Wanita itu terbangun dan melihat api sudah menjalar ke seluruh ruangan. Tubuhnya belum bisa bergerak dengan leluasa karena syarafnya masih belum bangun. Ketika itu, api sudah membakar pakaiannya.
__ADS_1
Dengan susah payah, ia berusaha untuk keluar dari kobaran api yang sudah menghabiskan separuh rumah itu. Pakaian yang dikenakannya sudah terbakar seluruhnya. Ia mencoba berlari dari dalam rumah. Dan tiba-tiba sebuah balok dengan nyala api besar menghantam kepalanya. Wajahnya yang cantik itu terbakar seketika dan yang dirasakan adalah rasa sakit dan panasnya terbakar api itu.
"Tidak! Panas!" teriaknya. Namun tidak ada yang bisa menolong karena malam itu, semua orang masih terlelap.
"Akhirnya rumah itu terbakar juga," ungkap Bayu dengan lega. Ia berhasil melampiaskan dendamnya.
"Hahaha! Nindiya ... akhirnya kamu mati juga!" seru Indra. Ia pun mengajak Bayu, meninggalkan tempat itu. "Ayo pergi!"
"Hahaha! Ayo!" Bayu sangat bahagia. Dengan tawa lantang, ia yakin tidak akan ada yang menolong wanita itu.
Bayu dan Indra sebelumnya telah mengasapi setiap rumah dengan sebuah benda yang ketika dibakar, membuat orang tertidur dengan lelap. Mereka juga sudah mengasapi rumah Nindiya dan berharap Nindiya tidak bangun walau tubuhnya terbakar.
Efek obat itu pun bekerja. Hingga Nindiya terbangun, tubuhnya sulit digerakkan. Hingga ia harus merasakan api membakar tubuhnya. Kini luka bakar sudah sampai di sekujur tubuhnya. Ia berlari menuju jalan keluar. Ajian yang dimilikinya pun tidak bisa membantunya di saat seperti ini.
"Sakit," lirih Nindiya. Ia sudah berhasil merangkak keluar dari dalam rumah. Matanya pun tidak bisa melihat dengan jelas. Dan ia berharap bisa cepat ke sungai untuk mendinginkan tubuhnya dengan air.
Nindiya berusaha dengan sekuat tenaga yang dimiliki. Karena kekuatannya lumpuh dan tidak bisa digunakan setelah menghirup asap yang digunakan Bayu dan Indra.
"Kenapa? Kenapa aku tidak bisa mengeluarkan tenaga dalam? Oh, sakit sekali! Ya Tuhan ... tolonglah hambaMu ini." Nindiya terus merangkak di malam itu. Tanpa ada yang melihatnya dan tanpa ada pertolongan dari siapapun.
Letak sungai dengan rumahnya berkisar dua puluh meter. Ia terus merangkak dan baru bisa menggerakkan tubuhnya setelah separuh perjalanan. Ia berdiri dan berjalan dengan berpegangan pohon-pohon kecil.
Tanpa mengandalkan matanya, ia mendengar suara gemercik air. Ia semakin ingin segera merasakan dinginnya air mengubah rasa panas itu. Namun saat tiba di air, Nindiya kembali merasakan perih yang teramat perih.
__ADS_1
Luka bakar itu tidak hanya membuatnya merasa dingin tapi juga merasakan perih. Karena sebelumnya tubuhnya sudah terbakar dan menimbulkan luka. Luka bakar semakin terkena air, akan semakin perih.
"Aakh!" teriak Nindiya menahan rasa perih yang teramat.
Ia tidak bisa berdiri dengan benar dan tidak bisa berenang. Saat itu sedang musim hujan dan karena itu, air sungai saat ini sedang deras. Walau malam ini terang benderang, namun air sungai tetap deras. Nindiya terbawa arus sungai dan hanyut.
Nindiya sampai tidak sadarkan diri dan terbawa arus sungai yang deras. Air sungai itu membuat siapapun akan terseret aliran air yang mengalir.
Senyuman dan tawa tidak bisa ditahan oleh dua pemuda itu. Setelah menjelang pagi, mereka memeriksa tempat semalam. Banyak orang sudah berkumpul dan mencari keberadaan Nindiya. Siapa tahu mereka bisa mencari Nindiya kalau masih hidup. Namun itu terasa mustahil. Hampir sembilan puluh sembilan persen, rumah itu menjadi arang dan abu. Jika ada orang di dalam, kemungkinan sudah menjadi abu dan tidak akan berbentuk lagi.
Wardana yang baru saja kembali dari desa sebelah. Ia baru menemui seorang pendekar dan mencari informasi tenang Nehan. Namun setelah kembali ke rumahnya, ia hanya bisa melihat sisa dari rumah yang terbakar.
"Tidak! Menantu!" Wardana mengingat menantunya sedang berada di rumah semalam. Namun ia tidak menemukan menantunya itu. Ia bertanya-tanya pada warga di mana Nindiya berada.
Meskipun ia menanyai semua orang di tempat itu, tidak ada yang mampu menjawab pertanyaan darinya. Ia berlari ke arah sisa-sisa rumah yang terbakar menjadi arang dan abu. Ia mengais-ngais abu. Namun tidak juga menemui menantunya itu.
"Bagaimana caraku menjelaskan pada Nehan, nantinya? Oh, menantuku yang baik. Apakah kamu sudah tiada lagi di dunia ini?" Wardana hanya bisa pasrah. Ia menggenggam abu yang masih hangat dan membantingnya.
Dunia persilatan kehilangan sosok pendekar wanita terhebat. Kini tidak ada lagi yang bernama Nindiya Hariyani, pendekar terhebat di seluruh penjuru kerajaan Lokapraja.
Sementara Indra dan Bayu, meninggalkan tempat itu dengan senyum kemenangan. Mereka sudah cukup puas dan yakin, Nindiya telah tidak ada lagi di dunia karena telah menjadi debu.
***
__ADS_1