Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 62 Konflik Kecil Jumantara dan Indera


__ADS_3

Chapt 62


Bayu dan Indera tentu kecewa. Jika Nindiya dan Nehan ikut serta dalam pencarian sang Puteri, maka akan ada dua bantuan yang menurut mereka cukup membantu.


Bila Nindiya ikut, maka mereka tidak terlalu khawatir jika dalam perjalanan, mereka tidak terlalu repot menghadapi para penjahat atau pendekar golongan hitam. Jika Nehan ikut serta, mereka tidak khawatir tentang luka mereka. Lagipula Nehan memiliki keahlian membuat jebakan yang sangat hebat.


"Sayang sekali kalian tidak bisa bergabung dengan kami." Ungkap Bayu kecewa.


"Sebenarnya kami butuh uluran bantuan kalian. Selain kehebatan kalian, kami juga perlu orang yang mengetahui wajah Puteri Padmasari. Semakin banyak yang tahu, semakin besar harapan kita. Kita tidak bisa mengandalkan orang yang tidak tahu apa apa tentang Puteri." Tambah Indera.


"Hei kau! Kau menyinggungku bukan?" Maki Jumantara. Ia merasa dirinya telah disinggung.


"Maaf, Jumantara. Bukan itu maksudku." Elak Indera.


"Bukan itu bagaimana? Kau belum merasakan pukulanku bukan?" Ucapnya tersenyum sinis.


"Eh bukan bukan. Emmm..." Indera bingung harus jawab apa.


"Sudahlah Jumantara, kau tidak perlu tersinggung. Kita memerlukan bantuanmu. Bukankah kau sudah kami jadikan pemimpin dalam perjalanan ini?" Ucap Bayu tenang.


"Benar juga. Kita jangan bertengkar karena hal seperti ini." Gemani ikut menengahi.


"Nehan. Kuharap kau pikirkan lagi. Walaupun Puteri Padmasari tidak ada hubungannya denganmu, tetapi kau punya rasa berperikemanusiaan bukan?" Entah darimana kata kata yang diucapkan Bayu. Semuanya mengalir karena ia memang sangat butuh.


"Nehan. Mereka benar, bisakah kita membantu mereka?" Bujuk Nindiya.


"Kau yakin?" Nehan bertanya pada Nindiya. Dipandangnya isterinya itu.


"Iyah. Aku yakin. Apa salahnya kita membantu orang." Imbuh Nindiya.


"Aku mohon." Ucap Bayu memohon.


"Aku juga memohon untuk membantu." Tambah Indera.


"Eh... Apa hebatnya mereka?" Tanya Jumantara.


"Heih... Bisakah kau diam?" Sergah Bayu.


Jumantara tidak melihat keistimewaan Nehan dan Nindiya. Mereka terlihat biasa saja. Selain melihat Nindiya yang memiliki wajah cantik rupawan, ia hanya melihat Nehan yang tidak terlihat seperti pendekar. Kalaupun mereka ikut, pasti malah membuat beban untuknya.


"Kalian sungguh orang orang tidak berguna. Lihatlah pemuda ini. Dia tidak terlihat berguna. Tetapi kalau gadis perempuan cantik ini, kurasa bolehlah." Jumantara tersenyum kearah Nindiya.


"Hei..." Gemani menyenggol lengan Jumantara.


"Iya ada apa?" Tanyanya heran.


"Apa perempuan itu lebih cantik dariku?" Ucap Gemani kesal.


"Eh tidak tidak. Di dunia ini, kamu yang paling cantik. Hanya saja, perempuan itu berada di level bawahmu. Iya. Dia cantik juga. Tetapi cantikan kamu." Ungkapnya merayu.

__ADS_1


"Benarkah?" Tersipu malu.


"Duh... Nasib jomblo." Indera mengusap dadanya.


"Nasib nasib." Bayu pun sama dengan indera.


"Pada ngomong apaan sih?" Tanya Nindiya penasaran.


Nindiya memandangi satu persatu ekspresi mereka. Ia kemudian memandang Nehan yang mungkin bisa menjawab pertanyaan dalam hatinya.


"Sudahlah Nindi, mari kita jalan jalan." Ajak Nehan menarik tangan Nindiya.


"Aku ingin jalan jalan bareng mereka." Ungkap Nindiya.


"Baiklah. Tetapi kita harus kembali ke desa Guntur. Kita harus berpamitan dahulu."


"Akhirnya." Senyum sumringah tercetak di bibir Bayu dan Indera.


Dengan begini, setidaknya ada bantuan yang memang mereka butuhkan. Berbeda dengan Jumantara yang memasang wajah kesal. Ia ingin menolak. Sebagai pemimpin, ia bisa menentukan semuanya. Tetapi jika mereka memilih untuk tidak bergabung dengannya, bagaimana ia bisa mengetahui sang Puteri, ia tidak pernah bertemu sebelumnya.


"Baiklah, kami akan ke desa Guntur dahulu. Kalian mau ikut, atau menunggu disini?" Tanya Nindiya.


"Sebaiknya kami ikut." Jawab Bayu yang disetujui Indera.


"Kalian membuatnya lama. Aku pemimpin disini. Mengapa kalian memutuskan sendiri?" Jumantara merasa kesal. Kepemimpinannya tidak dianggap oleh mereka.


"Kau menyesal?" Ejek indera.


"Kau!" Kesal Jumantara.


"Hei.. tenang tenang." Gemani mencoba menenangkan Jumantara.


"Mereka membuatku kesal, Gemani."


"Tenanglah. Ini mungkin sulit, tetapi kita juga membutuhkan mereka."


"Kau membela mereka, Gemani? Aku pemimpin disini. Tetapi seakan aku tidak punya hak." Dengusnya kesal.


"Tidak Jumantara. Kita butuh pemimpin sepertimu. Tetapi kita butuh mereka." Terang Gemani.


"Hei Gemani, kami nggak butuh Jumantara. Kau boleh bergabung dengan kami. Tapi kami tidak butuh Jumantara." Ledek Indera menatap Jumantara dengan senyum mengejek.


"Sial. Kubunuh kau!" Hardik Jumantara.


Jumantara mengepalkan tangannya. Hendak maju menyerang Indera yang mengejeknya. Emosinya tidak dapat dipendam.


"Tunggu." Cegah Gemani.


Gemani mencoba mencegah Jumantara yang hendak memukul Indera. Tentu saja Indera tidak takut pada Jumantara. Karena saat ini, macan putih tidak bersamanya. Ini kesempatan Indera untuk membalas semua perbuatan Jumantara.

__ADS_1


"Saya emosi, Gemani. Lihat mereka mengejekku." Dengus Jumantara.


Sementara Nehan sudah menarik Nindiya untuk tidak terlibat masalah. Nindiya nampak senang karena ia sedang berada di tempat yang Nindiya inginkan. Ia melihat beberapa baju yang terlihat bagus.


"Wah... Pakaian pakaian ini bagus." Senyuman Nindiya juga membuat Nehan tersenyum.


"Pilih yang kamu suka." Ucap Nehan.


"Iya..." Nindiya tampak melihat lihat. Ia memilah milah beberapa pakaian yang cocok untuknya.


Sementara Bayu dan Indera baru sadar Nehan dan Nindiya sudah tidak ada ditempat. Mereka sibuk berurusan dengan Jumantara. Akibat adu mulut mereka yang membuat dengan mudah, Nehan mengajak Nindiya untuk tidak ikut campur.


"Heiy dimana Nehan dan Nindiya?" Bayu mencari cari kedua sosok tersebut.


"Aku tidak peduli mereka."


"Heiy. Bisakah kalian tidak seperti anak kecil?" Gemani mencoba menengahi.


Sebaiknya kita cari mereka. Gemani, bisakah kamu temani saya mencari mereka?" Pinta Bayu.


"Baiklah. Walaupun saya tidak tahu, mengapa kalian ngotot untuk membawa mereka untuk ikut serta urusan ini, tetapi mungkin kalian memiliki alasan lain." Tebak Gemani.


Gemani melepaskan Jumantara yang masih kesal dan berniat bertengkar dengan Indera. Ia mengikuti Bayu yang mencari dua orang yang ia rasa penting.


"Kau benar Gemani. Mereka sangat berguna jika mereka ikut dengan kita." Aku Bayu.


"Maksudmu? Apakah mereka pendekar hebat? Tetapi dilihat dari penampilannya, kurasa pemuda itu bukan pendekar. Dan lihat perempuan itu, apa ia juga berguna?" Tanyanya.


"Pertanyaan bagus. Untuk lelaki bernama Nehan itu, ia adalah tabib yang sangat hebat. Meskipun bukan pendekar seperti kita, asal kau tahu, dia ahli membuat jebakan." Terang Bayu.


"Lalu perempuan itu? Apa dia tidak merepotkan kita?" Tanyanya tidak yakin.


"Sepertinya kau tidak tahu. Nindiya itu lebih hebat dari kami. Aku akui itu." Bayu menerawang mengingat bagaimana Nindiya menggunakan ajian sangat hebat.


"Ooh... Sepertinya saya tidak bisa menyepelekan mereka. Kurasa memang mereka bisa membantu. Kurasa kau tidak berbohong padaku?"


"Tidak. Untuk keselamatan kita, bagaimana aku bisa menipumu?"


"Tapi, kenapa kita harus menyelamatkan mereka tadi? Aku tidak bisa melihat pertarungan perempuan itu."


"Yah... Aku tidak sempat melihat dengan jelas. Aku tidak berpikir bahwa itu mereka. Tetapi kau harus percaya. Sungguh aku tidak berbohong."


"Baiklah. Aku percaya."


Mereka berdua pun meneruskan jalannya. Melihat lihat ke segala arah. Mereka tidak bisa pergi sekarang. Menemukan setidaknya beberapa orang yang hebat, membuat mereka terbantu. Dan membawa seorang tabib, tentunya juga bisa menjadi andalan untuk masalah pengobatan.


Mencari keberadaan Puteri, memang mereka tidak pernah tahu sampai kemana. Mereka harus mencari beberapa petunjuk. Terutama dimana terakhir mereka melihat sang Puteri.


***

__ADS_1


__ADS_2