Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 25 Ahli Racun


__ADS_3

Chapt 25


"Apakah anda tuan Jayasetya?" Seorang wanita menghampirinya. Bersama beberapa wanita lain di belakangnya.


"Untuk apa kau tanyakan tuanku?" Kurasenta melirik wanita tersebut. Ia tahu berhadapan dengan siapa. Dia salah satu guru dari perguruan Gendani Ireng.


"Maaf aku tidak bertanya dengan bawahan sepertimu." Wanita tersebut menatap kearah Kurasenta dingin.


"Aku hanya ingin kau kembalikan senjata milik kami." Menatap Jayasetya dengan tatapan garangnya.


"Ohh... Senjata milik kalian? Oh baiklah. Tetapi aku bertanya padamu. Kenapa kau ingin melenyapkan rekanmu sendiri? Bukankah kalian sama. Dari perguruan yang sama?"


Jayasetya menyuarakan isi pikirannya. Menurutnya, mungkin ada masalah internal antara pendekar satu perguruan tersebut. Apapun masalahnya, mungkin bisa menjadi kelemahan perguruan wanita tersebut.


"Kau tidak perlu tahu urusan perguruan kami. Hanya saja, kalian harus tahu. Kalau wanita sialan itu, bukan lagi bagian dari perguruan kami. Dan anda tahu? Racun yang ada di tubuh kalian, hanya perguruan kami yang memiliki penawarnya." Ucap wanita itu sinis.


"Sial. Jadi senjata itu beracun? Tetapi kami tidak merasakan efek racunnya. Kurasa anda berbohong padaku, nyai." Tentu Jayasetya tidak mudah percaya ucapan wanita tersebut. Karena memang ia tidak mengalami efek racun sedikitpun setelah bertarung dengan Gayatri.


"Kau terlalu percaya diri tuan Jayasetya. Tentu racun perguruan kami itu sangat unik. Tetapi jika ingin mati, maka tunggulah sampai matahari terbenam. Ayo pergi." Wanita tersebut menginstruksikan bawahannya untuk meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


"Tunggu." Cegat Jayasetya.


"Hmm" wanita tersebut berbalik dan.


"Sraangg!" Wanita tersebut menangkis bola setan itu dan melompat mundur. Ia tidak akan mengambil resiko. Bola tersebut pun berubah menjadi lempengan lempengan baja yang bisa merobek apapun yang terkena. Namun hanya berantakan menghambur di tanah.


"Refleks yang bagus. Tetapi kau terkena racun ku. Kau tahu? Aku sudah memberi racun pada bola setan itu. Jika kau ingin selamat, kita bertukar penawar racun itu. Bagaimana?" Senyuman menyeringai dari Jayasetya.


"Hehh... Seorang Jayasetya. Pun bisa begitu licik terhadap wanita lemah sepertiku. Kurasa aku akan senang hati. Tetapi maaf tuan Jayasetya yang terhormat. Kami tidak akan tertipu olehmu. Hahaha..."


Memang benar, tidak ada racun yang digunakan untuk membuat bola setan. Mengingat harga yang harus mereka bayar untuk membeli bahan bahan racun tersebut. Mereka tidak mengambil resiko memberikan racun pada senjata yang bukan miliknya itu. Karena sewaktu waktu senjata itu mengenai dirinya sendiri.


"Begitupun dengan diriku. Kau yakin aku terkena racun? Kau bodoh sekali, nyai. Aku memiliki seorang ahli racun. Dan kau pasti tidak tahu. Kurasenta!" Yang dipanggil pun berdiri menyungging senyuman.


"Iya tuan." Kurasenta mengambil beberapa jarum. Ia melemparkannya pada beberapa wanita yang berada dibelakang pemimpin mereka. Tentu mereka tidak waspada. Dan empat orang terkena jarum tersebut.


Setidaknya mereka harus membela diri. Tidak mungkin mereka melawan pendekar wanita dengan jumlah mereka yang banyak. Apalagi luka yang mereka dapat belum sembuh benar. Masih terdapat goresan goresan luka yang belum sepenuhnya kering.


"Hah bagaimana?" Jayasetya menunjuk beberapa pendekar wanita mengalami hal aneh. Mereka tampak pucat. Tubuh mereka lemas dan terhuyung jatuh ke tanah.

__ADS_1


"Senjata yang dipakai wanita itu tidaklah beracun. Di perguruan kami, aku adalah seorang ahli racun nomor dua. Kemampuanku meracik racun, dan mengenali racun, aku yakin kalian bukanlah perguruan ahli racun. Dan aku lihat dari senjata ini." Kurasenta memperlihatkan sebuah pisau berbentuk sabit.


"Ba... Bagaimana kau mendapatkan senjataku?" Pemimpin wanita tersebut mencari senjatanya di kantongnya. Namun ia tidak menemukan apapun ia kehilangan semua senjata rahasianya.


"Sial!" Umpatnya.


"Selain ahli racun, Kurasenta memiliki keahlian khusus lainnya. Tanpa kalian sadari. Dia mengambil senjatamu. Hahaha..." Tawa keras Jayasetya terdengar sampai membuat para warga bergidig.


Melihat tawa yang begitu mendominasi serta pertarungan yang membuat jantung mereka berdebar. Dari tadi, dari jauh, berpasang pasang mata menonton mereka dari jauh.


"Mereka bukan orang sembarangan." Bisik seseorang pendekar.


"Tentu saja. Orang itu, berhasil melawan pendekar muda yang digadang gadang memiliki keahlian dan kehebatan luar biasa. Ia hanya menghindari serangan. Tetapi sekali menyerang, ia berhasil membuat lawannya penuh luka."


"Wah benar benar hebat."


"Kurasa ia sangat hebat. Kita bisa berguru pada mereka."


Semua orang pun saling melempar Pujian ada pula yang tidak suka dengan pendekar itu. Mereka bisa menjadi lawan tanding yang amat sulit. Apalagi mereka mempunyai senjata senjata yang hebat.

__ADS_1


***


__ADS_2