Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Konflik Hati Sekar


__ADS_3

"Hei, apakah kamu mau tahu, di luar ada seorang pendekar wanita. Dia cukup hebat saat menggunakan pedang. Namun sayangnya dia jago sekali untuk makan. Mungkin dia akan lebih cocok sebagai ahli makan daripada ahli bela diri," tutur Nehan kepada wanita yang kesehariannya hanya makan bubur yang diberikan oleh Nehan.


Tabib itu dengan telaten menyuapi dan membersihkan bibir wanita itu dengan kain putih bersih. Setelahnya, ia memberikan air minum masih dengan sendok secara perlahan.


"Ini sudah cukup untuk bisa membuatmu hidup. Kamu mau makan lagi, kah? Tapi aku tidak akan memberimu makan lagi untuk hari ini. Kau juga harus memberi ruang pada perutmu ini." Nehan berkata dengan lemah lembut.


Setelah memberi makan wanita itu, Nehan keluar dari kamar. Pergi ke dapur untuk melihat Sekar yang sudah makan cukup banyak. Namun kali ini Nehan tidak memasang jebakan apapun lagi.


"Huh, nasib baik tidak ada jebakan lagi. Awas saja kalau ada jebakan di dapur ini! Akan kuhabisi juga itu tabib gila!" ketus Sekar sambil memanyunkan bibirnya.


Nehan yang mendengar perkataan Sekar, langsung menyahut, "Kamu mau menghabisiku, hemm? Kita lihat, seberapa hebat kamu dalam ilmu kecerdasan." Dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada, Nehan melihat dengan senyuman menyeringai terhadap gadis pendekar tersebut.


Sekar menyadari kedatangan sang tabib, lantas menggenggam pedangnya. Dengan posisi siaga, bersiap mengeluarkan pedang dari sarungnya. Namun tidak bisa dipungkiri, dirinya belum tahu apakah di rumah itu masih ada jebakan atau tidak. Tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda jebakan.


"Kamu cukup berhati-hati saat makan, bukan? Kamu juga berharap ada jebakan yang aku pasang di dapur ini? Tapi tahukah kamu, aku bisa saja menaruh jebakan di makanan yang kau makan itu?" goda Nehan, tersenyum puas melihat ekspresi wajah Sekar.


"Apa maksudmu?" Dalam kebingungan, ia mulai berpikir dan menemukan sebuah gagasan, dirinya bisa saja di racun. "Sialan! Kau meracuniku?" Setelah menyadari, bisa saja ia terkena racun, ia mengangkat pedangnya lalu mengeluarkan dari sarungnya.


Sebelum bisa menyerang Nehan, Sekar tersedak makanan yang belum ia telan. Membuatnya memegangi lehernya. Nehan menggelengkan kepalanya, melihat gadis itu mengalami kemalangan itu.

__ADS_1


"Dasar pendekar bodoh. Menyusahkan saja kerjaannya," cetus Nehan, dengan sigap memukul tengkuk gadis itu hingga keluar nasi yang nyangkut di tenggorokan itu. "Dasar wanita rakus juga," cibirnya kemudian.


"Hohh ... ohh ... air ... air." Dengan nafas ngos-ngosan, ia mencari air yang ada di gentong dari tanah liat. Ia mengambil air mentah itu dengan gayung batok kelapa. Ia meminumnya dengan segera.


"Itu air mentah, kamu minum juga? Lagian di kendi juga masih ada air yang matang. Menjadi orang bodoh, ternyata cukup mudah, yah," ledek Nehan sambil menyengir kuda.


Dengan nafas ngos-ngosan karena efek tersedak tadi, ia baru menyadari kalau tidak ada racun yang ia rasakan masuk ke dalam tubuhnya. Ia murni karena terlalu banyak makan, mengakibatkan dirinya tersedak. Tapi bagaimana pun juga, ia merasa Nehan juga telah bersalah. Karena sudah membuat dirinya mengalami hal memalukan seperti itu.


Setelah keadaan tenang, Sekar menatap tabib muda itu dengan bengis. Dirinya selalu dijadikan mainan olehnya. Bagaimana mungkin dia menerima perlakuan tabib gila itu? Dalam hatinya, ia tidak bisa memaafkan orang yang telah melecehkan dirinya itu.


"Kau berkali-kali melecehkanmu, Sialan!" umpat Sekar dengan nada emosi tinggi. "Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatan buruk itu hari ini juga!" imbuhnya dengan dada naik-turun. Masih dengan emosi yang sama dan belum juga reda.


"Sialan! Bukan itu maksudku, Bodoh! Maksudku, kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu kepadaku!" Amarah yang semakin memuncak, membuat Sekar gelap mata dan menghancurkan meja di depannya dengan pedangnya.


"Hei, kau yang telah menghancurkan mejaku! Apa kau dikirim ke sini hanya untuk menghancurkan rumahku saja, kah?" tanya Nehan dengan geram.


Bagaimana tidak membuat Nehan marah, meja yang telah dihancurkan oleh Sekar, merupakan meja yang biasa digunakan untuk makan dan meracik obat. Apalagi semua makanan dan peralatan makan juga pecah.


"Kurasa ini cukup untuk mengganti kerugian yang telah aku alami. Kau kira, aku bersedia untuk menikah denganmu? Ingatlah ... walau aku di kirim ke sini untuk menjadi istrimu, tapi sebenarnya aku di kirim ke sini untuk membunuhmu. Apa kau tahu, di perguruan kami, tidak ada seorang wanita pun yang berhubungan dengan orang luar. Apalagi memiliki hubungan khusus dengan seorang pria."

__ADS_1


"Oh, sayang sekali, Nona. Hari ini kau memang tidak bisa membunuhku. Kau tahu, yang kau makan barusan adalah sebuah racun yang mulai berefek tiga hari kemudian. Jika kau membunuhku, kau tidak akan bisa sembuh."


"Kau cukup percaya diri, rupanya? Baiklah ... kita lihat bagaimana aku memperlakukan kamu sebagai calon mayat. Apakah aku takut dengan gertakan darimu itu, hemm?" Dengan percaya diri, ia yakin tidak akan bisa dikalahkan semudah itu. Apalagi dengan berita bohong yang dikarang oleh tabib muda itu.


Sekar menghunuskan pedangnya, mengarahkan ke arah Nehan, menusuk ke perut tabib itu hingga mengeluarkan darah. Namun bukannya menghindar, Nehan malah tersenyum sambil menerima tusukan itu semakin dalam.


"Kalau aku mati hari ini, bukan kamu saja yang mati tiga hari kemudian. Tapi juga adik seperguruanmu. Karena obat yang kuberikan tidak bisa menghilangkan racun sepenuhnya. Hanya aku yang tahu bagaimana membuat penawarnya." Dengan sebuah senyuman dari bibirnya, Nehan percaya diri tidak akan mati hari ini.


"A-apa? Apa yang kau katakan ini benar? Jadi ... aku harus bagaimana?" Sekar belum mencabut pedangnya di perut Nehan. Tapi ia dalam kebimbangan sekarang. Bagaimana kalau yang dikatakan Nehan itu benar adanya? Maka ia menarik pedangnya dan menyarungkannya kembali.


Walau darah telah mengalir di perutnya, ia yakin kalau Sekar adalah orang baik. Wanita itu tidak mungkin tega membunuhnya. Terbukti, pendekar wanita itu langsung mencari kain yang menutupi jendela dan menyobeknya. Lalu ia gunakan untuk mengikat perut Nehan.


"Bodoh ... aku ini seorang tabib hebat. Bagaimanapun juga, kau telah salah memberi pertolongan! Kau ambil bambu yang tutupnya kain berwarna merah itu. Di sana ada bubuk untuk menyembuhkan luka," tunjuk Nehan ke rak yang berisi bahan obat-obatan.


Sekar berlari ke arah rak obat dan mengambil benda yang dimaksud. Lalu ia serahkan kepada Nehan yang meringis menahan sakit. Untungnya tusukan itu tidak terlalu dalam. Tapi tetap saja membuat luka di organ dalamnya. Ia tahu organ dalamnya tergores pedang itu. Membuatnya harus menjalani pengobatan sendiri di rumah.


"Aku tidak bisa keluar dari rumah ini karena harus menjalani pengobatan diri. Kalau kau mau membunuhku, bunuh sekarang juga. Tapi aku mohon, kau rawat wanita yang ada di kamar itu." Nehan menunjuk ke kamarnya. Lalu ia meneruskan ucapnya, "Dia mungkin akan bisa melihat beberapa hari lagi. Maka kau buka perban di matanya. Lalu kau bisa memberikan perawatan lainnya."


Perkataan Nehan membuat Sekar semakin bingung. Bagaimana bisa ia biarkan Nehan mati sebelum selesai mengobati orang? Apalagi saat ini sedang merawat seorang wanita yang tidak berdaya.

__ADS_1


***


__ADS_2