
Chapt 84
Aura hitam tersebut semakin pekat. Membuat nyali Gayatri menjadi ciut karena menantang Nindiya barusan. Tetapi ia bukan wanita penakut yang akan terpengaruh oleh aura hitam tersebut.
"Cuih ... kau pikir dengan aura seperti itu, aku akan takut denganmu?" ucapnya dengan gemetar, ia tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya.
"Aku ingin membunuh! BUNUH!!" suara Nindiya menggema ketika ia mengatakan itu. Ia mencengkram leher Gayatri, sehingga wanita itu tidak berdaya dan tidak bisa berbuat apapun.
"Nindiya, ap ... apa yang kau ... lakukan?" ucap Gayatri terbata.
"Membunuh!!" jawab Nindiya, walau tidak menggema seperti tadi.
"Tidak nduk, kamu ... apa yang kau perbuat ini?" Dewandaru yang merasakan aura dari tubuh Nindiya semakin menghitam, tetapi tidak mungkin Nindiya akan membunuh Gayatri bukan?
"Akh ... am ... pun ..." dengan ucapan yang terbata, Gayatri merasa hidupnya berada diujung tanduk.
"Nindiya! apa yang terjadi?" suara Daniswara terdengar dari kejauhan.
"Daniswara?" Dewandaru tidak menyadari kehadirannya karena tidak merasakan kekuatan Daniswara yang memang tidak seperti waktu dulu.
"Apa yang terjadi? Nindiya, apa yang kau lakukan? tenangkan lah dirimu!" namun Daniswara tidak bisa menghentikan Nindiya yang telah dikuasai oleh aura hitam tersebut.
"Apa yang terjadi dengan menantuku? apa ada yang bisa menjelaskannya?" Wardana pun sudah berada di dekat mereka yang datang bersama Daniswara dan Mahadri.
"Guru, apa yang terjadi dengan puteriku?" tanya Daniswara pada Dewandaru dan Mahadri yang dipandanginya satu per satu.
"Entahlah, aku tidak pernah tahu, aura apa ini? aku tidak pernah mewariskan kekuatan ini padanya." Mahadri menutup matanya sejenak.
"To ... long ..." dengan leher tercekat, Gayatri mencoba meminta bantuan. Tetapi mereka tidak bergerak dari tempatnya berada.
"Nindiya, ini ayah, nduk. Tolong hentikan! apa yang kau lakukan?" meskipun ia ayahnya, ia tidak tahu harus berbuat apa. Karena ini diluar kemampuannya.
Daniswara tidak ingin ada korban atas kemarahan Nindiya yang ia sendiri belum tahu apa masalahnya. Yang pasti, mungkin ini ada hubungannya dengan Nehan atau gimana. Daniswara mencoba memegang pundak Nindiya.
Nindiya yang dipegang pundaknya dari belakang, lalu berbalik menghadap Daniswara. Dari sudut mata Nindiya, terpancar sinar merah yang menyala terang. Saat ini, ia seperti tidak menyadari apa yang ia lakukan.
"Apakah dia kesurupan?" komentar Wardana. Ia tidak melihat apapun, tetapi ia tahu kalau orang kesurupan, tidak mengenali lawan atau lawan.
__ADS_1
"Baiklah, serahkan semuanya padaku." dengan percaya diri, Wardana maju dan menatap mata Nindiya dalam dalam.
"Sebenarnya kau siapa? jika kau ingin mengikuti menantuku ini, jangan lakukan itu, dia adalah milik anakku, Nehan. Jika kau ingin punya tempat tinggal, ikutlah denganku. Kasihan anak ini." bujuk Wardana.
"Kau tidak perlu ikut campur, ayah ..." ucap Nindiya dengan suara menggema. Seperti dirasuki, tetapi memanggil Wardana dengan sebutan ayah.
"Ayah?! tidak! kau bukanlah anakku. Ohh baiklah, jika kau mau menantangku!" tantangnya pada makhluk yang merasuki menantunya.
Nindiya yang melepaskan gayatri dengan melemparnya ke tanah. Saat itu, kekuatan gayatri sudah diserap setengahnya, sehingga wanita itu merasa lemah tidak berdaya. Nindiya tersenyum karena melihat kesungguhan Wardana yang menantangnya.
"Ibu ..." Kirana yang melihat kejadian itu, lantas menghampiri Gayatri.
"Ibu tidak apa-apa, nduk. Sepertinya Nindiya sedang kerasukan." ucap gayatri memberi tahu Kirana.
"Iya, ibu. Sebelumnya, kak Nindiya tidak seperti ini." Ucapnya merenungi nasib Nindiya.
Kirana tidak terlalu khawatir, karena ibunya tidak mengalami luka dalam dan parah. Hanya kekuatannya yang terserap oleh Nindiya yang sedang kerasukan. Saat ini, Nindiya berhadapan dengan Wardana. Tidak ada pertarungan dengan fisik. Hanya saja, Wardana memegang tangan Nindiya.
"Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan dengan puteriku, Wardana?" tanya Daniswara ketika ia hanya melihat Wardana yang memegang tangan Nindiya, tetapi perempuan itu hanya membalasnya dengan tatapan menakutkan dan juga seringai senyum.
"Tak kusangka. Seorang manusia dapat berkomunikasi dengan kami." Ucap Nindiya dengan suara menggema, karena sedang dirasuki.
"Tidak! saya hanya ingin dia membalaskan dendamnya. Aku hanya ingin membantu saja. Bukankah ini yang manusia lakukan jika orang yang dicintai dibunuh?"
"Lalu hubungannya apa dengan wanita itu?" Daniswara menunjuk Gayatri yang berada di kejauhan.
"Heiy, aku hanya bermain-main dengan wanita itu. Aku tidak akan membunuh kalian. Tetapi jika menghalangiku untuk balas dendam, aku akan membunuh kalian juga. Hahaha!!!" tawa Nindiya.
"Siapa kau? ini urusan manusia. Jadi, setan sepertimu, tidak perlu ikut campur." Ucap wardana dengan tenang.
"Tidak. Tahukah siapa diriku? saya adalah qorin dari anakmu, Nehan. Dan aku tidak terima, Nehan mati. Jadi, biarkan aku yang membalas kematiannya. Bukankah ini menyenangkan. Hemmm?" Nindiya yang dirasuki itu berkata dengan menyunggingkan senyum.
"Tidak mungkin. Anakku Nehan masih hidup. Juga, kau bukanlah qorin dari anakku. Kau hanya setan pembual saja. Pergi dari sini!" bentak Wardana, lalu membacakan sebuah mantra untuk mengusir sosok makhluk yang merasuki Nindiya.
"Kau tidak akan berhasil, manusia. Aah ... tidak!" Nindiya berteriak dengan keras. Ia memegangi kepalanya yang terasa sangat panas.
"Apa yang kau lakukan pada puteriku, Wardana?!" tanya Daniswara dengan nada tinggi. Ia tidak tega melihat puterinya kesakitan.
__ADS_1
"Tenang Daniswara. Dia bukanlah puterimu. Dia adalah setan yang berpura-pura menjadi qorin anakku.
"Kau salah. Aakkkhh ... aku adalah iblis ... kau akan mati di tanganku!" tidak bisa menahan sakitnya, sosok yang berada di dalam tubuh Nindiya, mengeluarkan aura hitam yang lebih pekat. Matanya berubah menjadi hijau, yang bersinar terang.
"Matanya jadi hijau? ternyata tidak hanya satu."
"Apa yang terjadi?"
Semua yang hanya bisa melihat Nindiya seperti ini, membuat mereka merasa kasihan. Mereka akhirnya membantu Wardana untuk menyadarkan Nindiya. Tetapi karena aura hitam yang berbentuk asap semakin pekat, mereka tidak tahu harus berbuat apa.
"Sepertinya kita harus turun tangan." Ucap Dewandaru sambil menatap Mahadri.
"Baiklah. Mari kita coba."
"Kalian semua ingin melawanku? baiklah. Ayo kalian mati bersama." Nindiya membentuk bola hitam di telapak tangannya.
"Matilah kalian!" teriaknya sambil melemparkan aura hitam yang diubah berbentuk bola.
Bola hitam tersebut semakin membesar ketika dilemparkan. Bola tersebut diterima oleh tubuh Daniswara hingga ia terpental jauh. Kemudian Nindiya kembali membuat bentuk bola dari aura hitam yang mengelilinginya. Kali ini, ia mempercepatnya. Hingga semua terlempar jauh.
"Aku akan membalaskan dendam ini, jadi kalian cukup duduk manis disini."
"Tidak. Ayo kita hadapi makhluk itu!" seru Gayatri yang sudah memulihkan kekuatannya.
Gayatri langsung menyerang Nindiya, tetapi serangannya dapat ditangkis dan sekali serang, Nindiya mengarahkan bola hitam ke arah Gayatri, yang membuatnya terpental mengeluarkan darah dari mulutnya.
Tidak sampai disitu. Nindiya pun memukul mundur semua yang berada di tempat. Daniswara dan Wardana tidak luput dari serangan Nindiya yang memukul mundur mereka.
"Kalau begini terus, bisa-bisa kesadaran Nindiya diambil seumur hidupnya. Kita harus berbuat sesuatu."
"Kau benar Daniswara. Tetapi kekuatanku tidak cukup untuk menghadapinya. Mungin dia benar, dia adalah iblis yang merasuki puterimu. Aku tentu tidak terima. Karena puterimu adalah milik puteraku." Ungkap Wardana.
"Aku juga tidak ingin terjadi sesuatu dengan Nindiya. Semua ini karena Ubhaya!" umpat Daniswara menggenggam tangannya.
Saat ini, Dewandaru dan Mahadri sedang bertarung dengan Nindiya yang tengah dirasuki. Karena Daniswara dan Wardana telah mengalami luka lumayan parah karena mendapat pukulan hebat dari Nindiya.
"Hei iblis, keluarlah dari tubuh cucuku!" perintah Mahadri, tetapi nindiya ysng yang telah dirasuki, terus menyerang dengan tendangan dan pukulannya.
__ADS_1
"Apa aku harus menggunakan ajian sepi angin, atau aku gunakan Waringin sungsang? Tetapi akan berbahaya jika menggunakan waringin sungsang. Aku bisa menyerap kekuatan iblis. Jika ku gunakan sepi angin saja, apa iblis itu juga memiliki ajian itu? mari kita coba." tutur Mahadri yang tengah memikirkan cara melumpuhkan Nindiya.
***