
"Hahahaha! Dasar tabib bodoh! Mendingan kau mati saja, huahaha!" tawa sang pendekar gada besar itu. Ia terus mendorong Nehan ke arah temannya.
"Hahaha! Ini bisa menjadi hiburan yang seru untuk kami! Seorang pemuda lemah sepertimu, kabarnya juga seorang yang ahli pembuat senjata, bukan? Apakah kau mau mencoba senjata buatan kami, hemm?" gumam pendekar dengan rantai di tangan kanannya. Sementara tangan kirinya ia gunakan untuk mendorong Nehan.
Kini giliran pendekar pengguna senjata tombak trisula. Ia sudah menancapkan senjatanya di sampingnya. Ia menerima Nehan seraya tertawa sambil berkata, "Huahaha! Kau ini sungguh lucu. Seorang pria muda yang sedang bersama dengan pendekar wanita itu, hemm? Jangan-jangan, kalian sedang merencanakan sesuatu di tempat yang sepi ini."
"Hohohoh! Kalian tahu, aku memang merencanakan sesuatu untuk kalian semua," balas Nehan yang badannya dilempar ke sana ke mari. "Heh, kalian akan aku kalahkan, hanya tinggal menunggu waktu saja, huahaha!"
Tawa Nehan malah membuat para pendekar itu bersemangat. Ini baru pertama kalinya melihat seorang yang tidak terlihat tersiksa walau sedang dipermainkan. Badan Nehan, semakin lama semakin oleng. Pemuda itu juga sedang merencanakan sesuatu tanpa diketahui oleh siapapun.
"Hahaha! Kalau begitu, lanjut! Kita teruskan sampai dia benar-benar pusing, huahaha! Kau lihat, Wanita! Apa kau tahu, priamu ini sungguh menyenangkan sekali?" Pendekar gada itu menengok ke arah Sekar. Ia melemparkan Nehan ke arah temannya kembali.
Sekar yang merasa takut dengan tiga pendekar itu tidak berani membela Nehan. Bahkan untuk menghunus pedangnya, tangannya gemetaran. Walau di dalam benaknya, ingin mengalahkan tiga pendekar itu. Tapi ia tidak mungkin bisa mengalahkan mereka.
'Mereka bertiga dalam keadaan masih prima. Mereka baru bertemu denganku dan Nehan. Bagaimana mungkin bisa menang melawan mereka? Salahkan saja pada tabib yang bodoh itu. Aku tidak mungkin bisa menolongnya saat ini,' batin Sekar mengeluh.
Situasi berbeda di tempat Nehan yang tertawa dengan senang. Bahkan karena tertawaan pemuda itu, membuat tiga pendekar itu semakin menjadi. Mereka mempercepat dorongannya. Tapi tetap saja tidak bisa membuat Nehan berhenti tertawa. Tapi lama kelamaan mereka juga kesal sendiri karena ulah tabib gila itu.
"Sialan! Kau ini dasar tabib, memang sudah gila!" umpat pendekar trisula. Ia sangat geram dengan sikap senang Nehan.
"Kurasa ini bocah, harus kita bunuh saja! Kesal mendengar orang ini seperti tidak ada rasa takut-takutnya!" imbuh pendekar yang memegang rantai di tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya, terus mendorong Nehan ketika datang padanya.
__ADS_1
"Hemm, sayang sekali kalau tabib gila ini harus mati. Tapi ini sudah resiko kalau berani menghadang langkah kami!" Pemimpin dari mereka, pendekar gada besar itu memutuskan untuk berhenti.
"Hei, kalian yang menghadang jalan kami, kenapa malah memutar balikan fakta, hah?" Nehan sudah merasa kelelahan, badannya sudah semakin lemah. Tapi ia masih tetap tersenyum.
"Kurang ajar! Kalau begitu, kau harus merasakan bagaimana rantai ini merobek semua kulitmu, hah!" geram pendekar yang memegang rantai itu. Ia lalu menjulurkan rantai ke samping dan membuatnya semakin panjang.
"Hahaha! Apa kalian apakah sudah bosan bermain-mainnya?" tanya Nehan dengan senyum menyeringai. "Ayo, kita akhiri sampai di sini!"
Karena kesal, ketiga pendekar itu masing-masing mengayunkan senjatanya. Namun tidak disangka, mereka tidak bisa bergerak. Ketiga pendekar itu tidak tahu apa yang terjadi. Bahkan tubuh mereka sangat lemah.
Yang membuat Sekar melongo, melihat benang yang berukuran sangat kecil telah mengikat tiga pendekar tersebut. Wanita itu sungguh tidak menyangka, Nehan memiliki senjata rahasia berupa benang yang sangat tipis dan mampu membuat mereka tidak berdaya.
"Apa yang kau lakukan, Tabib bodoh! Lepaskan!" perintah pendekar rantai itu dengan amarah yang amat tinggi. Tidak ada yang bisa membuatnya seperti ini sebelumnya. Sebagai seorang pendekar yang telah membunuh ribuan orang itu tidak berdaya saat ini.
"Kau! Kurang ajar, Tabib gila! Akan kubunuh kau!" gertak pendekar tombak yang tombaknya sudah semakin jauh.
Karena telah menyadari badannya sudah terikat, mereka memberontak dan berusaha melepaskan diri. Tapi Nehan malah menarik benang yang membuat ikatan semakin erat. Karena gerakan mereka juga semakin membuat ikatan semakin membuat mereka mengikat diri sendiri.
Nehan melihat Sekar dan melihat pedang batu yang cukup berat itu. Kepalanya juga sedikit pusing karena telah dilempar ke sana ke mari oleh tiga pendekar itu.
"Hehehe, kalian mungkin pendekar hebat dan merupakan pembuat senjata yang tidak kalah hebat. Tapi kau harus tahu, otakku lebih hebat dari kalian bertiga, hahaha!" tawa Nehan sambil menepukkan tangannya.
__ADS_1
Mereka tidak menduganya karena ukuran benang juga sangat tipis dan transparan. Mungkin jika hanya satu ikatan, mereka bisa melepaskannya. Tapi sekarang mereka sudah diikat dengan puluhan ikatan, dengan benang yang sangat kokoh. Membuat mereka semua kesulitan untuk melepaskan diri.
"Sekarang kami pergi dulu, yah! Sekar, ayo kita pulang ke rumah kita, hemm." Nehan menyeret pedang batu itu karena baginya itu juga sangat penting dan berharga. "Mereka akan segera melepaskan benang itu beberapa waktu kemudian," imbuhnya.
"Kenapa tidak kita kalahkan mereka saja? Bukankah kita memiliki kesempatan untuk mengalahkan mereka?" Sekar menghunuskan pedangnya ke arah tiga pendekar itu. Bersiap untuk membunuh tiga pendekar yang meresahkan baginya.
"Hei, kita tidak punya banyak waktu! Sebelum kau membunuh mereka, mereka akan melepaskan diri! Jadi tidak ada waktu bagi kita untuk berlama-lama di sini! Aku ingin segera menikah denganmu! Ayolah ... kita segera pulang dan bikin anak-anak!"
"Dasar tabib sinting!" pekik Sekar, memukul orang yang telah mengalahkan para pendekar itu. "Apa kau mau mati di tanganku, hah!"
Melihat mereka yang semakin beringas, membuat Sekar segera menarik tangan Nehan. Ia sadar kalau dirinya tidak mungkin bisa membunuh tiga pendekar yang sangat sadis itu. Kalaupun ia berhasil membunuh satu, bukan tidak mungkin kalau yang lainnya membebaskan diri. Satu pendekar cukup mengalahkan Sekar.
"Tabib itu tidak bisa dianggap remeh! Sialnya kita mendapatkan ini semua karena benang menyebalkan ini. Kita harus melepaskannya."
Sekar menggunakan tenaga dalamnya untuk bisa melakukan langkah angin, berlari lebih cepat dari biasanya. Sedangkan Nehan merasa tangannya pegal karena harus menyeret pedang itu di satu tangannya. Hingga mereka sampai di depan rumah, Nehan menghempaskan tubuhnya di tanah.
"Hoh hohh hohh ... kamu berlarinya cepat sekali, hohh hohh hohh ...." Nehan ngos-ngosan, melihat ke atas. Dan memejamkan matanya. Jelas ia lelah dan juga tangan terasa sangat pegal.
"Kenapa malah tiduran di sini? Apa kau tidak akan masuk ke dalam rumah untuk melakukan pekerjaanmu? Dasar orang gila!"
"Siapa yang kau sebut gila? Oh, bukankah kau yang nantinya akan menjadi gila? Kau akan tergila-gila karena aku. Jadi kau jangan khawatir, aku akan menemanimu untuk menjadi gila."
__ADS_1
Sekar meremas pedangnya dengan geram. Ia menghunuskan pedangnya kepada tabib yang tiduran di tanah dengan santai itu. Wanita itu tidak meneruskan apa yang ia inginkan tadi. Ia menyarungkan kembali pedangnya dan memutuskan untuk masuk ke rumah itu.
***