
Nindiya masih memikirkan ucapan Mahadri, setelah ia pergi untuk melakukan aktivitas seperti biasanya. Gadis itu tidak beranjak dari tempat tersebut hingga Mahadri memanggilnya.
"Nindiya!" teriak Mahadri yang kini berada di dalam rumah.
"Iya kek?!" sahutnya sembari berteriak dan segera melangkah untuk menemui sang kakek.
"Katanya mau ambil air ke sungai!?" ucap Mahadri mengingatkan pada Nindiya.
"Ooh iya yah. Kalau begitu aku ambil wadah air dulu yah."
"Iya cepetan. Hari mulai sore."
"Nindi berangkat dulu ya kek." Ucapnya setelah ia membawa dua wadah air yang terbuat dari bambu.
***
Seorang wanita tengah bertarung dengan pria yang dianggap mengganggunya. Mereka sudah bertukar beberapa jurus. Namun belum ada tanda-tanda pertarungan mereka akan berakhir.
"Wanita ini sungguh hebat." Gumam pria yang yang sedang bertarung tersebut.
Beberapa pukulan dilancarkan pria itu, namun wanita tersebut berhasil menghindar, mereka pun saling membalas serangan. Sudah beberapa jurus yang mereka keluarkan namun keduanya masih memiliki stamina yang belum terkuras banyak. Apalagi wanita yang saat ini bertarung sendiri tanpa ada yang membantunya.
"Sepertinya kau butuh bantuan?" ucap seorang pendekar pria yang bermaksud membantu rekannya.
"Tentu. Bantu aku menghancurkan kepala wanita ini!" balasnya sambil tersenyum lepas. Terlihat gigi-giginya yang telah menguning, dan bekas cabe yang tertinggal di sela-sela gigi.
"Cuihhh... Kalian berdua, majulah! Dasar pendekar tidak tahu malu. Yang beraninya mengeroyok seorang wanita." Wanita tersebut menatap kedua pendekar tersebut dengan tatapan jijik.
"Wanita?! Kau bahkan tidak layak disebut wanita. Dasar jal*ng!" umpat satu pendekar yang pertama kali melawannya.
"Untuk menghadapi hal*ng sepertimu, kami bisa melakukan apapun. Bahkan kami berniat mengulitimu hidup-hidup. Hahaha ...."
__ADS_1
"Hahaha ...."
Tawa mereka terdengar hingga orang-orang penasaran atas keributan itu. Membuat orang yang mendengar pun segera berdatangan. Melihat pertarungan yang tidak imbang tersebut, ada yang menyayangkan karena pertarungan seorang wanita yang menghadapi dua pendekar dari golongan hitam.
"Hahaha ... ternyata kalian tidak berbeda dengan banci. Beraninya keroyokan. Baiklah, mari kita selesaikan semua ini!" sembari mengeluarkan sebuah tongkat pendek dari besi.
Kedua pria tersebut tersenyum lega, karena senjata yang digunakan wanita tersebut hanyalah tongkat besi pendek yang hanya memiliki panjang setengah meter. Sedangkan mereka menggunakan pedang.
"Kau yakin mau menggunakan besi kecil itu untuk menghadapi kami?" pendekar tersebut merasa senang karena ia pikir, senjata yang digunakan wanita tersebut adalah bukanlah senjata yang berbahaya.
"Kau pikir, tongkat pemukul anjingmu itu setara dengan dua pedang milik kami? hah ... yang benar saja. Majulah kalau berani!" tantangnya sembari mengacungkan pedangnya.
"Aku pikir, ini cukup untuk membunuh kalian semua!" teriaknya sambil memutar tingkat tersebut.
Dari tongkat besi itu keluar lempengan lempengan besi. Memanjang dan lentur, sehingga membuat dua lawannya terperangah. Mereka tidak tahu senjata yang digunakan wanita tersebut.
"Itu apa... Sebenarnya kau ini pendekar dari mana?" kedua pria tersebut saling memandang.
"Mari lihat ini. Apa kalian bisa menghadapi pedang tanpa tuan ini?" wanita itu melesat menyerang kedua pria tersebut.
Ketika pedang kembar berbenturan dengan pedang tanpa tuan, pedang yang terbuat dari lempengan baja tipis memanjang itu, berpencar. Tangan pendekar wanita tersebut terampil menggunakan senjata yang aneh tersebut. Membuat kedua pendekar tersebut kewalahan.
"Sial! senjata aneh itu bisa melukaiku." Gumamnya sambil menarik tubuhnya untuk mundur.
"Hahaha ... kalian baru tahu senjata ini kan?!" sambil tersenyum, wanita tersebut menghentakkan pedang tanpa tuan.
Wanita tersebut menghentakkan senjatanya agar lempengan lempengan baja tipis tersebut berurai, dan ini menjadi senjata yang berbahaya karena lempengan baja tipis tersebut bergerak ke segala arah.
Kedua pendekar tak mampu melawan lagi, kini sekujur tangannya dipenuhi luka gores akibat terkena sabetan. Pedang tanpa tuan tersebut berguna untuk memberikan luka sayat. Tetapi bukan untuk menebas atau menusuk lawan. Namun itu cukup untuk membuat lawannya panik dan luka goresan yang tertinggal akan sangat banyak, sehingga darah korbannya akan mengucur dari segala luka sayatan tersebut.
Walaupun senjata tersebut sangat hebat, tidak semua orang bisa menggunakan senjata tanpa tuan tersebut. Karena sesuai dengan namanya, senjata itu tidak mengenal mana lawan dan mana tuan. Maka pengguna pedang tersebut haruslah seorang yang ahli.
__ADS_1
"Nehan?" wanita itu melihat ke belakang dan seorang pemuda menghampirinya.
"Iya bibi." Jawab pemuda yang saat ini sedang mendekat dari belakangnya.
"Ayo pergi!" ajaknya sambil melangkahkan kaki untuk meninggalkan dua pendekar yang saat ini telah tergeletak di tanah dengan luka gores, serta ketertekanan mental akibat luka yang mereka dapatkan.
"Baik."
Lempengan lempengan baja tersebut masuk kembali ke tongkat besi. Dan seperti tongkat biasa. Lalu menghilang saat wanita itu mengangkat tangannya.
Pemuda yang dipanggil Nehan mengikuti dari belakang. Nehan membawa bungkusan kain merah. Di bungkusan itu ia menggendong pedang berukuran besar.
Kedua pendekar yang tergeletak tersebut merasakan sakit yang luar biasa. Dengan darah terus bercucuran dari tangan, wajah serta sekujur tubuhnya.
Gayatri, adalah seorang pendekar wanita yang dulunya adalah seorang pendekar golongan hitam yang berasal dari perguruan Gendani Ireng. Sementara saat ini, ia sudah keluar dari perguruan karena suatu hal. Saat ini, ia bersama dengan seorang pemuda yang bernama Nehan Hadinata.
Nehan Hadinata adalah seorang pemuda bukan dari golongan pendekar. Namun ia adalah pemuda yang sangat berguna. Apalagi Nehan adalah seorang tabib hebat yang mampu mengobati berbagai macam penyakit.
Walaupun tidak memiliki bakat untuk menjadi seorang pendekar, pemuda tersebut sebenarnya mampu membela dirinya sendiri. Selain sebagai seorang tabib muda, ia juga memiliki sebuah senjata yang sedang digendongnya. Sebuah pedang yang hanya bisa digunakan oleh dirinya.
Para pendekar pun tidak menyadari keberadaan pedang tersebut, karena mereka tidak pernah melihat pedang yang dibawa oleh Nehan. Sedangkan Gayatri, memiliki pedang yang juga tidak bisa dianggap remeh. Yaitu pedang tanpa tuan. Bentuk dari pedang tersebut seperti pedang pada umumnya. Selain mendapat julukan pedang tanpa tuan, biasa juga disebut dengan pedang mata tujuh. Karena jumlah lempengan baja tersebut jumlahnya ada tujuh lempengan yang bergerak dengan lentur sesuai hentakan tangan pengendali pedang tersebut.
Saat ini, mereka berada di desa Papringan. Sebuah desa yang letaknya tidak terlalu jauh dari desa Banyuasih. Mereka tidak memiliki tujuan pasti, tetapi karena Gayatri yang suka dengan berpetualang ke tempat-tempat yang mereka kunjungi. Mereka sering ke desa Papringan, tetapi karena penasaran, menurut warga desa Papringan, desa Banyuasih adalah desa kutukan.
Karena Gayatri penasaran, maka dengan nyali tingginya, ia mengajak Nehan untuk mencari tahu kebenarannya. Apalagi kebebasan Gayatri karena keluar dari perguruan yang membesarkan namanya tersebut, membuatnya tidak terkekang oleh siapapun. Walau ia kini menjadi incaran rekan perguruannya karena sebuah penghianatan Gayatri tempo dulu.
"Disana mungkin desa Banyuasih berada. Tetapi apakah kau berani kesana?" tanyanya pada pemuda tersebut.
"Baiklah bibi, kau tenang saja."
Nehan mengikuti Gayatri di belakangnya dan menatap lurus ke depan. Jalan setapak yang mereka pijak mulai menghilang dengan semakin jauhnya dari desa Papringan.
__ADS_1
***