Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 71 Hutan Warujati 2


__ADS_3

Chapt 71


Nindiya dan Kirana berjalan di depan. Sementara Nehan mengikuti dari belakang. Kedua perempuan tersebut berjalan dengan saling merangkulkan tangan mereka. Sesekali mereka akan berjalan berjingkrak. Yah, itulah Kirana yang telah mengajarkan gerakan aneh tersebut kepada Nindiya.


Sementara Nehan yang sedari tadi, hanya bisa mengikuti dua perempuan tersebut. Ia sudah berjalan dengan beban berat di punggungnya. Walaupun hanya berisi beberapa pakaian dan beberapa makanan. Tetapi lumayan berat juga.


"Satu ... dua ... tiga ...." Kirana kegirangan melompat lompat. Ia melompat bersama Nindiya.


"Ayo lompat lagi." Ajak Nindiya kemudian.


"Uuhh ... capek! kita istarahat dulu deh." Ucap Kirana sambil mengelap keringat yang ada di wajahnya. Badannya pun sama berkeringat.


"Ehh ... kok kamu nggak capek?" tanyanya saat melihat Nindiya yang masih terlihat fresh, walaupun sudah bergerak dengan lincahnya.


"Enggak. Belum." Jawabnya singkat.


"Sudah. Kita istirahat dulu." Nehan meletakan bungkusan kain yang dibawanya di atas rumput.


Mereka sudah berada di hutan yang sama dengan Jumantara dan yang lainnya itu sebabnya mereka mendengar seperti ada pertarungan. Mereka mendengar lengkingan suara yang memekakan telinga.


"Itu, seperti ajian milik kakek. Tapi sedikit berbeda." Nindiya mendengar dengan seksama.


"Owhhh! Keras banget suaranya. Telingaku sakit." Kirana menutup telinganya karena tidak dapat menahan suara yang sangat memekakan telinganya. Namun ia melihat Nindiya maupun Nehan, tidak terpengaruh dengan suara itu.


"Nehan. Bolehkah kalau kita kesana?" tanya Nindiya pada Nehan yang diam tak bergeming.


"Jangan!" teriak Kirana. Ia tidak ingin telinganya semakin sakit lagi.


"Ayo kita kesana!" Nehan mengajak Nindiya ke arah pertarungan tersebut.


"Tidak. Aku tidak mau." Namun Kirana sudah tidak sanggup menahan rasa sakit di telinganya.


"Kamu tunggu disini!" Nehan meletakan barang barang yang dibawanya. Menyuruh Kirana tetap tinggal.

__ADS_1


Nehan menarik tangan Nindiya. Tetapi Nindiya yang tidak sabaran itu, membawa Nehan melesat dengan kecepatan tinggi. Sehingga mereka pun segera sampai di tempat pertarungan berlangsung.


Yang dilihat pertama kali, adalah Bayu dan Indera yang sedang kesakitan karena telinga mereka mengeluarkan darah. Di samping mereka, Gemani terlihat bingung. Karena ia tidak bisa menyembuhkan, atau tidak tahu cara agar terhindar dari ajian yang dikeluarkan oleh Jumantara.


Sementara Jumantara sendiri, ia terlihat sedang bertarung dengan sosok uang tidak terlihat oleh Nehan. Tentu saja Nehan tidak dapat melihat sosok tersebut, karena ia tidak memiliki kemampuan melihat makhluk halus.


"Apa yang terjadi?" Nindiya mendekati Gemani yang terlihat masih baik baik saja. Ia tentu bertanya padanya.


"Jumantara menghancurkan batu bertuah. Tiba tiba muncul makhluk tersebut," ucapnya sambil menatap Nindiya yang terlihat belum paham.


"Mungkin dia mengganggu makhluk lain. Jin atau semacamnya." Nehan melihat Jumantara yang sudah terlihat luka luka di sekujur tubuhnya. Ia terlihat sedang bertarung tanpa ada lawannya.


Nehan mendekat kearah Jumantara. Walau sekarang, ia tidak dapat melihat sosok makhluk tersebut. Tetapi ia dapat merasakan keberadaannya.


"Huhh! Bagaimana aku harus melawannya? Dengan ajian macan putihku pun tidak berhasil!" umpatnya pada makhluk yang tidak bisa disentuhnya. Tapi bisa menyerangnya dengan mudah.


"Sampai kapanpun, kau tidak bisa mengalahkanku, manusia!" makhluk tersebut terus menyerang dan mencabik tubuh Jumantara dengan cakar panjangnya.


Nehan tidak bisa melihat makhluk ghaib. Karena ia tidak memiliki makhluk pendamping seperti jin yang akan mengikutinya. Sementara Jumantara adalah seorang yang memiliki Jin pendamping atau mereka biasa menyebutnya sebagai jin khodam. Namun hingga saat ini, jin khodam tersebut tidak bisa membantunya.


Daerah hutan warujati terlihat biasa saja, tetapi bagi mereka yang memiliki kekuatan spiritual, mereka akan merasakan keberadaan makhluk dari dunia lain. Lebih tepatnya, dunia ghaib. Dunia yang isinya para jin setan dan iblis. Jika mereka bisa melihat mereka, mereka akan melihat berbagai makhluk dengan bentuk yang berbeda beda.


Seperti saat ini, Jumantara sedang berhadapan dengan makhluk yang memiliki bentuk yang bisa berubah ubah. Itu karena makhluk yang berhadapan dengannya adalah sejenis jin berbentuk asap hitam yang bisa berubah menjadi sosok menakutkan, dengan taring dan kuku yang tajam.


Mereka sebenarnya hidup dengan bebas di hutan warujati. Karena mereka jauh dari keramaian. Tetapi akhir akhir ini, kehidupannya terusik oleh manusia manusia bodoh yang percaya akan batu yang bertuah. Mereka pikir, batu terse bisa mendatangkan kebahagiaan atau kesenangan dunia. Tetapi mereka adalah manusia-manusia sesat yang percaya dengan makhluk yang tidak bisa menolongnya.


Sosok makhluk ghaib itu awalnya risih. Tetapi lama lama, mereka merasa manusia manusia bodoh itu memang nyata. Mereka nyata nyatanya menyebarkan rumor tentang batu besar yang bisa mendatangkan jodoh mereka. Membuat mereka berbondong bondong datang.


Tak disangka. Jerat jerat setan itu nyata. Dan mereka semakin tersesat. Hingga mereka mati karena menuruti kemauan makhluk yang mereka puja-puja. Yaitu setan penghuni hutan warujati.


Nehan yan menyadari keberadaan makhluk itu, ia memejamkan matanya. Terlihat ia merapalkan sesuatu di dalam hatinya. Ia menghadapkan wajahnya ke atas. Dia angkat tangannya, lalu meramalkan kalimat kalimat yang tidak semua orang tahu. Ya ... saat ini, ia sedang berdoa.


Teriak Makhluk tersebut,"Awwhh! Panas!"

__ADS_1


Disusul dengan, Nehan yang mengarahkan telapak tangannya, mengarahkan kearah makhluk tersebut. Sehingga makhluk itu merasakan panas di sekujur tubuhnya.


'Ajian apa itu? dia bisa mengalahkan makhluk itu dengan hanya sebentar saja?' pikir Jumantara. Ia merasa sakit di tubuhnya yang membuatnya lemas.


Jumantara sudah merasa lemas, tetapi ia tersenyum. Dengan adanya Nehan dan Nindiya, ia yakin, kalau mereka akan membantunya untuk mencari keberadaan Puteri Padmasari. Yah, itu harapannya saat ini. Apa salahnya berharap kan?


"Terima kasih. Tetapi, kalau boleh tahu, nama ajian yang gunakan. Apa itu?" Jumantara melihat Nehan yang diam tak bergeming. Ia memang terlihat pendiam dan tidak banyak bicara. Tetapi di lain waktu, ia akan menjelaskan sesuatu dengan detail. Tetapi bukan untuk saat ini.


Yang dilakukan Nehan, adalah memapah Jumantara. Karena ia meninggalkan obat yang dibawanya. Ia tidak berbicara kemudian. Dan itu membuat Jumantara pun diam. Tetapi ia bersyukur, meskipun ia tidak tahu, apa yang Nehan lakukan. Sebuah ajian atau entah apa. Yang bisa mengalahkan makhluk halus hingga kepanasan dan memutuskan untuk melarikan diri.


Jumantara akan mendapatkan jawabannya nanti. Dimana saat Nehan akan menceritakannya. Yah. Itu jika mungkin. Dan ia bisa juga ingin memiliki ilmu seperti barusan.


"Ayo, kalian ikuti kami!" Nindiya mengajak mereka untuk mengikutinya. Kali ini, ia tidak menggunakan ilmu seperti saat membawa Nehan, tetapi mereka berjalan kaki.


"Sebaiknya, kita obati kalian terlebih dahulu." Ucap Nehan akhirnya. Itu cukup membuat Jumantara tersenyum. Akhirnya lelaki itu berbicara juga.


"Baiklah. Tetapi kau berhutang penjelasan padaku. Ajian apa yang kau gunakan?"


Terang Nehan. "Kurasa, tidak ada ajianpun yang kugunakan. Ini hanyalah doa mengusir jin dan sejenisnya."


Tak lama, mereka sampai di tepat Kirana berada. Segera Nehan mengambil obat-obatan untuk menyembuhkan telinga Bayu dan Indera. Sementara Kirana mengambil obat untuk diserahkan kepada Gemani.


"Ini, untuk mengobati luka luka Jumantara." Kirana menyerahkan obat tabur. Ia tahu, obat tabur yang diberikan, akan mempercepat penyembuhan.


***


Lama update yah ....


Maaf yang menunggu lama


Tolong beri masukan, kritik dan sarannya


terima kasih ...

__ADS_1


__ADS_2