Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Pedang Tanpa Tuan 2


__ADS_3

"Tuan. Sepertinya ini batas desa Papringan dan desa Banyuasih." Seorang pendekar berbicara dengan pendekar lain yang dipanggil tuan tersebut.


"Kau benar, Kurasenta. Sepertinya wanita dan pemuda tersebut bermaksud untuk pergi kesana. Apa yang ada dipikirkan olehmu, Kurasenta?" sebelumnya, ia ingin mengetahui apa yang akan diucapkan Kurasenta terhadapnya.


"Mungkin mereka hanya ingin pergi kesana. Sudah lama, tidak ada yang berani pergi ke bekas desa yang telah dihancurkan oleh tuan guru Ubhaya tersebut,, bagaimana menurutmu?" Kurasenta balik bertanya pada pria tersebut.


Kurasenta merupakan tokoh pendekar golongan hitam. Bersama dengan Jumantara yang menjadi pemimpin setiap perjalanan yang mereka lakukan. Keduanya termasuk sebagai guru dari perguruan golok darah. Tentu saja karena nama perguruan yang didirikan Ubhaya tersebut telah menyebar luas, dan menjadi sebuah perguruan golongan hitam nomor satu.


Kedua pendekar tersebut mengikuti langkah Gayatri dan Nehan ke hutan yang dulunya bernama desa Banyuasih. Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh, mereka dengan cepat menyusul kedua orang tersebut.


"Tunggu nyai. Maaf mengganggu perjalanan anda dan pendekar muda ini." Jumantara mencoba bersopan santun untuk menghindari konflik antara mereka.


Namun hanya tatapan tidak suka dari Gayatri menandakan kehadiran keduanya yang mengganggu. Karena ia merasa dirinya tidak ada urusan apapun dengan seseorang. Apalagi jika orang tersebut adalah dua pendekar yang membawa golok besar. Lantas, Gayatri hanya memandang dua pria itu sejenak.


"Maaf, kami tidak ada urusan dengan kalian berdua. Jadi tolong biarkan kami lewat." Ucap Gayatri dengan angkuhnya. Bahkan wanita tersebut merasa jijik dengan para pendekar yang memamerkan kehebatan mereka. Kalau bisa, ia akan lebih senang jika melihat kedua orang tersebut mati tercabik-cabik oleh pedang tanpa tuan miliknya.


"Maaf ... Nyai. Sebelumnya perkenalkan. Namaku Jayasetya, dan ini Kurasenta. Kalau boleh tahu, apa maksud kedatangan nyai dan pemuda ini?"


"Hehhh ... mana peduliku?! mau namanya Jayasetya dan Kurasenta kek atau nama Jayasetan dan Kurasetan kek, mana aku peduli!! aku tidak ada waktu meladeni kalian berdua!" ucapnya sambil senyum mengejek.


Gayatri terus berjalan tanpa peduli perkataan kedua pendekar tersebut. Ia tidak berurusan dengan siapapun. Dan jika ada yang mengganggunya, maka hanya kematian yang menantinya. Dalam hidupnya, Gayatri tidak akan segan untuk membunuh siapapun yang berani mengganggu jalannya.


"Tunggu, nyai... Setidaknya tinggalkan nama nyai ... maka kami persilahkan pergi." Kurasenta mencoba untuk menghentikan Gayatri dengan menghadangnya.


Kurasenta telah berada di depan Gayatri, karena kehebatannya karena kecepatan langkah kaki Kurasenta yang cepat.


"Berarti kau menginginkan kematian rupanya!" sebelum mengeluarkan senjatanya, Gayatri menyunggingkan senyum. Ia akan sangat berbahagia jika kedua orang tersebut menemui ajalnya.


"Maaf nyai. Kita sesama pengembara. Jadi alangkah baiknya kita tidak saling bermusuhan. Kami hanya ingin menjadi rekan nyai." setidaknya, Kurasenta harus berhati-hati. Karena ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, Gayatri adalah pembunuh berdarah dingin.


"Sudah aku katakan. Jangan halangi jalan kami. Apa kalian tuli?!" suaranya lebih keras dari sebelumnya. Ia kini ia tidak dapat menahan emosinya lagi.


"Tuan ... sepertinya kita salah orang." dengan kecepatannya pula, Kurasenta berpindah di depan Jayasetya.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan?"

__ADS_1


"Kita harus waspada. Sebisa mungkin, kita tidak harus berurusan dengannya." bidiknya sembari mengawasi sekitar. Ia tidak mau tiba-tiba Gayatri menyerang mereka.


"Benar Kurasenta. Mungkin wanita tersebut tidak mau bersahabat dengan kita. Tetapi aku bingung, kenapa dengan pemuda itu? dia hanya diam, sementara wanita tersebut banyak bicara? dan kau lihat bungkusan yang digendong pemuda tersebut?" ia melirik ke arah Nehan yang menggendong sebuah pedang, walau mereka tidak tahu kebenarannya.


"Sepertinya itu sebuah pusaka, tuan?!" tebak Kurasenta.


Karena setiap orang membawa pusaka, biasanya orang tersebut akan menyembunyikannya. Seperti yang sedang dilakukan Nehan dengan pedang buminya. Bagi yang belum tahu, pedang bumi adalah sebuah pusaka yang keberadaannya dianggap sebagai misteri. Tidak seperti pedang langit, yang dikabarkan berada di perguruan pedang dewa, pedang bumi dikabarkan telah musnah atau hanya mitos belaka. Karena sampai saat ini, keberadaannya belum ada yang tahu. Biarpun ada yang tahu, itu hanya segelintir orang yang miliki kehebatan lebih dalam dirinya.


"Sepertinya kita harus pergi dari sini." Melihat Gayatri yang semakin tidak suka, mereka pun memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut.


Wanita itu menyadarinya. Ia melihat Nehan yang sempat ditunjuk salah satu dari mereka. Mereka pun terlihat membicarakan dirinya atau Nehan. Kewaspadaannya membuat ia mengeluarkan tongkat besi dari telapak tangannya.


"Maaf, nyai. Kami tidak ingin bertarung denganmu." Kurasenta dan Jayasetya mundur beberapa langkah.


"Tidak ingin bertarung? tapi kurasa tidak, hmmm? kalian hanya ingin menyetorkan nyawa padaku?!" sembari mengeluarkan memutar-mutar tongkat besinya, ia pun memberi sebuah senyuman mematikannya.


Dari tongkat besi itu, keluar lempengan-lempengan tembaga yang sangat tajam. Siapapun tidak mudah untuk menghindari senjata tersebut. Karena hal itu, mereka berdua hanya meningkatkan kewaspadaan bersiap untuk bertarung. Dengan mengangkat golok mereka, maka mereka telah memiliki pertahanan untuk menghadapi Gayatri.


"Maaf, nyai. Kami tidak bermaksud," sebelum menyelesaikan perkataannya, Gayatri memotongnya terlebih dahulu.


Pertarungan tak terhindarkan lagi. Kedua pendekar tersebut menghindar sambil menangkis serangan pedang tersebut. Akan tetapi Gayatri tidak lengah dan terus menyerang.


"Sial, senjata ini merepotkan sekali!" umpat Jayasetya karena tangannya telah terkena sabetan pedang tanpa tuan tersebut.


Kedua pendekar tidak sempat menyerang balik, karena kecepatan mereka hanya bisa bertahan dan menangkis serangan. Walau tidak terluka cukup parah, seperti kedua pendekar sebelumnya yang penuh luka sayatan, tetapi keduanya merasakan kekuatan wanita tersebut masih prima.


"Sial ... ini sakit sekali. Mundur!" Titah Jayasetya kepada Kurasenta. Keduanya pun menggunakan jurus langkah anginnya.


Kedua pendekar tersebut melesat dan menghilang dari pandangan. Dengan sekejap, mereka menggunakan ajian langkah angin untuk melarikan diri.


"Pendekar pendekar tidak tahu malu. Nehan, kita istirahat disana." ucapnya menunjuk sebuah sungai.


"Iya bibi."


Keduanya berjalan menuju sungai yang jaraknya tinggal lima puluh meter. Gayatri mengembalikan pedang tanpa tuan menjadi sebuah tongkat kecil. Lempengan-lempengan tembaga tersebut masuk ke dalam tongkat besi tersebut.

__ADS_1


Saat jarak mereka dengan sungai, mereka melihat seorang gadis tengah mengambil air dengan wadah terbuat dari bambu. Gadis berwajah cantik, serta berambut panjang yang terurai.


"Nehan ..." dengan senyum menggodanya, ia berniat memberitahu Nehan, kalau gadis cantik dihadapan mereka cukup menarik perhatian.


"Iya bibi?!" jawab Nehan dengan datar.


"Kau lihat gadis itu?" tentu saja yang dimaksud adalah gadis tersebut. Gadis yang sedang berada di pinggir sungai.


"Iya."


"Baiklah, mari kesana!" ia melangkahkan kakinya dan langsung berhadapan dengan gadis tersebut.


Nehan mengikuti wanita itu. Berjalan menuju sungai. Dan semakin dekat dengan gadis yang berada disana. Gadis tersebut menengok dan memberikan senyuman manisnya.


"Gadis manis, maaf mengganggu." Ucap Gayatri.


"Iya bibi, tidak apa-apa. Ada yang bisa kubantu?" tanyanya dan ia pun melihat Nehan yang hanya diam mematung.


"Hmm ... tidak. Kami hanya menumpang lewat. Dan kebetulan ada sungai disini. Mungkin kami akan mencari makanan di daerah sini?!"


"Maaf bibi... Silahkan jika ada keperluan. Sungai disini sangat jernih. Banyak ikannya juga." Ucapnya sopan dan menundukkan kepalanya.


"Gadis baik, siapa namamu, nduk?" tanya Gayatri sambil tersenyum lembut.


"Namaku Nindiya, bibi." Jawab Nindiya.


"Ooh nama yang cantik. Apakah ini yang disebut desa Banyuasih?"


"Iya Bibi. Tapi didesa ini sudah tidak ada lagi penduduknya."


"Kenapa?" tanyanya, walau ia sudah tahu penyebabnya adalah serangan dari para pendekar golongan hitam.


Nindiya tidak menjawab pertanyaan Gayatri.. Tampak kesedihan diraut wajahnya. Itu membuat Gayatri merasa bersalah. Mungkinkah gadis itu memiliki masa lalu yang kelam? Lalu apa hubungannya gadis itu dengan desa ini?


***

__ADS_1


__ADS_2