Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Bukit Lebah Hitam


__ADS_3

Hari ini Nehan dibawa oleh para pendekar itu. Ia juga sedang tidak ada pekerjaan. Karena setiap orang yang datang kepadanya, rata-rata karena tidak ada pilihan lain. Jika ada orang yang mengalami sakit yang sangat parah, mereka akan datang kepada tabib gila itu.


"Duh, kenapa melihat orang gila itu, kepalaku sendiri yang pusing?" keluh Kenanga. Ia sangat membenci Nehan dari pandangan pertamanya. Namun ia tidak bisa berbuat apapun karena gurunya.


"Sabarlah, Kak. Ingat, ini demi adik kita, Cempaka. Kalau bukan demi adik kita, aku pun tidak mungkin bisa menerima dia," celetuk Sekar. Sebagai sesama saudara, ia yang paling mengerti kakaknya itu. Mereka berdua pun selalu pergi bersama-sama.


"Iya, Adik. Kita akan lihat saja nanti! Kalau adik Cempaka sudah sembuh, aku akan membuat perhitungan dengannya," lirih Kenanga.


Kenanga juga merasa kasihan pada adiknya, Sekar. Bagaimana kalau tabib itu bisa membuat Sekar menjadi istrinya betulan, nanti akan membuat dirinya susah. Karena setiap mereka yang sudah keluar dari perguruan, tidak akan bisa diterima kembali menjadi anggota perguruan atau murid perguruan. Walau sehebat apapun ilmu silat yang dimiliki.


Nehan sendiri sedang berjalan sambil sesekali melompat ke dahan untuk bermain layaknya seekor kera. Walaupun Nehan bukanlah seorang kera sakti, setidaknya ia memiliki wajah tampan dan memiliki banyak akal. Terlepas tingkahnya sebagai orang yang kurang waras.


Seperti saat ini, Nehan yang berjalan di antara sang guru dari perguruan silat itu dan dua muridnya yang ada di belakang Nehan. Tabib itu bermain-main dengan batu yang ia temukan di jalanan dan dilempar-lempar ke atas. Karena itulah yang membuat kedua pendekar wanita itu geram. Bahkan mereka sempat mengacungkan pedangnya ke arah Nehan.


Sambil berjalan tanpa melihat ke belakang, Nehan tahu kedua wanita itu mengarahkan pedangnya padanya lalu ia mengatakan, "Hei, guru tua! Lihatlah kedua muridmu yang mengacungkan pedang padaku! Apa aku harus dibunuh di sini? Tapi sayangnya aku menolak untuk mati! Aku belum pernah menikmati tubuh seorang wanita cantik."


Guru wanita itu menengok ke belakang dan memberikan tatapan tajam pada dua muridnya. Kedua wanita itu juga tidak menyangka, Nehan bisa tahu kalau mereka mengacungkan pedangnya pada tabib gila itu. Sebenarnya sang guru perguruan Bukit Lembah Hitam itu juga merasa risih dengan kehadiran Nehan.


"Kalian berdua, tolong jaga niat kalian untuk melukai! Kita bisa membunuhnya jika tidak berhasil menyembuhkan penyakit cempaka!" ujar wanita paruh baya itu.

__ADS_1


"Iya, Guru. Maafkan kami," jawab keduanya serentak. Mereka menyarungkan kembali pedang keduanya.


"Sungguh hari ini aku dipermalukan oleh para pendekar wanita. Padahal seorang wanita itu tidak akan menjadi wanita seutuhnya tanpa seorang pria! Aku di sini adalah seorang pria perkasa yang mampu membuat kalian berada dalam khayangan. Atau mengarungi dunia persilatan dengan gabungan kekuatan kita ini, hem!"


Nehan mengambil sebuah daun yang terjatuh di depannya. Daun jati kering yang ia pegang itu, lalu ia mengambil sebuah pisau kecil dari balik bajunya. Karena baju yang ia kenakan itu adalah baju yang memiliki kantong di dalamnya. Yang bisa dimasukan sesuatu. Seperti pisau kecil atau uang dan beberapa obat herbal yang selalu ia bawa.


"Hari ini aku akan membuatkan sesuatu untuk kalian berdua! Kalian tidak perlu menutup mata kalian, hanya saja aku melakukannya dengan hati-hati agar hati ini tidak tergores pisau yang tajam ini." Nehan lalu memotong-motong daun jati itu dengan acak.


"Dasar orang aneh! Kurasa ia bisa bunuh diri dengan pisau itu. Lihatlah, Sekar. Mungkin dia mau menunjukkan betapa bodohnya dia," kata Kenanga yang ada di samping adik perguruannya.


"Biarkan saja, Kak. Kita masih jauh ke perguruan. Kenapa kita tidak menunjukkan kekuatan kita untuk bisa mempercepat? Kenap kita berjalan seperti ini? Kita kan bisa menggunakan ilmu Kanuragan kita untuk meringankan tubuh."


"Benar juga sih, Kak! Kalaupun orang itu memiliki tenaga dalam sekalipun, dia kan juga bodoh." Sekar tidak akan perduli kepada Nehan. Ia juga tidak mau membawa Nehan bersamanya.


"Tunggu! Kita berhenti sampai di sini!" perintah guru wanita tersebut. "Kita harus menutup matamu di sini! Karena kamu tidak boleh tahu jalan ke perguruan kami!" Ia lalu membalikan badannya, mengambil kain dari sakunya.


"Oh, aku tahu, pasti kalian mau main siapa pisang, siapa menjadi monyet, bukan?" tanya Nehan sambil tersenyum. Lalu ia menerbangkan daun jati itu yang sudah berbentuk kupu-kupu.


Daun jati itu berputar ke bawah dan membuat mereka kagum. Bagaimana mungkin seorang tabib gila itu melakukan teknik yang mereka tidak tahu. Sebuah daun lebar itu dipotong menjadi banyaknya kupu-kupu yang seakan turun ke tanah dengan berputar.

__ADS_1


"Itu, bagaimana melakukannya?" tanya Sekar. Ia lalu berlari untuk menangkap satu potongan daun. Dan ia memperhatikan daun itu, di bagian tengah adalah serat dari daun itu sendiri. "Ini, aku lihatnya hanya asal potong. Eh, kenapa jadinya seperti ini? Apa dia seorang yang mampu melakukan tipuan?"


Kenanga juga melihat keanehan pada diri Nehan. Ia sudah menganggap pemuda itu sebagai orang yang bodoh. Tapi siapa sangka, bahkan bisa memotong daun itu menjadi banyak berbentuk kupu-kupu dengan ukuran yang berbeda-beda.


Nehan menuruti guru wanita itu untuk menutup matanya menggunakan kain itu. Sementara Kenanga dan Sekar, mengumpulkan potongan daun itu. Mengumpulkan kesemuanya tanpa ada bagian daun yang tersisa. Hanya ada satu yang bentuknya seperti serangga belalang ranting.


"Sekarang kita akan gunakan kekuatan kita untuk lebih cepat menuju ke perguruan! Kalian bisa gunakan ilmu meringankan tubuh sekarang!" pungkas wanita paruh baya itu. Ia lalu menarik tangan Nehan dan melompat ke dahan dan ranting pohon.


Para pendekar wanita itu menaiki sebuah bukit yang tingginya dua puluh meter, yang mengelilingi sebuah bangunan seperti menara. Ketiganya bisa menggunakan ilmu meringankan tubuh dan akan ada lebah yang membantu menjadi pijakan untuk menuju ke puncak bukit itu. Lalu turun ke lembah.


Sejauh mata memandang, bukit itu melingkari perguruan dan itu seperti sebuah benteng yang mampu melindungi dari serangan. Tapi tidak untuk serangan udara yang tidak mungkin. Karena terdapat banyak lebah yang siap-siap untuk membunuh siapapun yang menaiki bukit lebah itu. Hanya guru dan murid perguruan yang mampu melewatinya. Sedangkan untuk kasus Nehan, karena lebah itu tidak merasakan tenaga dalam atau kanuragan dari Nehan.


"Guru! Selama datang kembali, Guru! Kakak-kakak!" Semua murid kepulangan guru dan dua murid berbakatnya. Yang sering keluar masuk perguruan dengan izin guru mereka.


"Kita perlakukan tamu kita dengan baik. Bukalah penutup matamu sendiri!" perintah wanita paruh baya itu pada Nehan.


Nehan membuka penutup matanya dan melihat banyak wanita yang merupakan murid dari perguruan itu. Sepanjang mata memandang ke arah yang jauh, ia hanya melihat sebuah bukit yang mengelilingi lembah itu.


***

__ADS_1


__ADS_2