Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 64 Kecemburuan Gemani


__ADS_3

Chapt 64


Sesuai dengan yang telah diputuskan Nehan, maka Nehan dan Nindiya harus kembali ke desa petir. Sebenarnya Nehan tidak ingin Nindiya ikut dalam pencarian sang Puteri. Walaupun Nindiya pendekar hebat, bukan berarti ia bisa menang melawan seorang yang memiliki kekuatan yang lebih darinya.


"Sudah diputuskan. Kita akan ikut ke desa Guntur. Kita akan memastikan bahwa mereka berdua akan ikut dalam misi ini." Terang Jumantara.


"Mari kita berangkat." Ajak Bayu.


"Mari." Balas ketiganya.


Saat ini, Nindiya dan Nehan sudah jauh dari jangkauan mereka. Karena Nehan dan Nindiya berangkat lebih dahulu sebelum mereka berdiskusi. Maka mereka pun menyusul dengan ilmu meringankan tubuh.


"Kurasa mereka sudah jauh." Tebak Jumantara.


"Kurasa belum." Sergah indera.


"Apa yang membuatmu yakin?"


"Nehan tidak memiliki tenaga dalam. Kurasa mereka hanya berjalan kaki." Jawab Indera.


"Benarkah?" Gemani penasaran. Ia menatap indera sejenak.


"Benar. Kurasa mereka berdua pasangan yang aneh." Gumam indera.


"Aneh gimana?" Gemani mengernyitkan matanya.


"Sepertinya mereka tidak cocok." Ujar Bayu.


"Bagaimana kau mengatakan itu? Kau suka perempuan itu?" Tanya Jumantara penasaran.


"Tidak. Tetapi teman kami." Sahut Indera.


"Ooh..." Jumantara dan Gemani bersamaan.


Mereka berempat berlari melompati pohon demi pohon. Dengan gerakan mereka yang cepat, tetapi mereka belum sampai melihat Nindiya dan Nehan. Padahal mereka belum lama pergi.


"Ini aneh." Indera melihat lihat sekeliling untuk memastikan.


"Ada apa?" Tanya jumantara, karena ia melihat indera bingung.


"Mereka saat ini belum terlihat. Bagaimana bisa?" Sahut Indera.


"Mungkinkah mereka sudah jauh? Tetapi bagaimana bisa? Apa Nindiya membawa Nehan dengan kekuatannya?" Kira Bayu.


"Mungkin saja." Indera membalas.


Mereka terus berlari melompati pohon demi pohon yang mereka temui di sekitar hutan. Ketika mereka sudah masuk ke dalam hutan, mereka melihat Nehan dan Nindiya berada di atas kuda.


"Pantas saja mereka sudah jauh. Ternyata mereka menggunakan kuda. Hahaha..." Tawa Indera.

__ADS_1


"Membuatku khawatir aja." Gumam Bayu.


"Ayo kita temui mereka." Jumantara mempercepat gerakannya.


Mereka pun segera mengimbangi laju kuda yang berlari cukup kencang. Nehan yang berada di belakang Nindiya. Membuat mereka terlihat Nehan sedang memeluk Nindiya mesra.


"Pemuda itu bukan pendekar, tetapi ia bisa mengendalikan kuda dengan baik." Puji Gemani.


"Yahh... Seorang pria, harus berguna bagi wanitanya bukan?" Sahut Jumantara.


"Iya, kau benar." Jawab Gemani tersenyum.


"Betapa mesranya mereka. Aku jadi iri dengan mereka berdua." Gumam Gemani pelan. Sambil menatap sedih Jumantara.


Gemani merenungi dirinya sendiri. Saat bersama Jumantara, lelaki itu memang sangat baik kepadanya. Gemani merasa dirinya dihargai oleh Jumantara. Tetapi Gemani merasa, ia diperlakukan seperti adiknya sendiri. Tetapi ia tidak ingin seperti itu. Gemani ingin diperlakukan layaknya seorang wanita. Yah, seorang wanita yang menjadi satu satunya.


'Aku cemburu pada mereka!' pikir Gemani.


Tak butuh waktu lama mereka berhasil menyusul Nehan dan Nindiya. Nehan yang sudah melihat para pendekar yang mengikutinya, lantas mempercepat kudanya untuk berlari. Dan benar saja, kuda itu berlari lebih cepat.


"Apa apaan!" Teriak indera kesal.


"Si tabib sialan!" Maki Bayu.


"Kalian lambat. Ayo kejar dia!" Seru Jumantara.


"Sial! Mengapa ada dua orang gila disini!" Indera mengumpat lagi, setelah melihat Jumantara mempercepat langkahnya.


"Kalau kalian tidak cepat, pasti ketinggalan jauh." Kini Gemani yang mengikuti Jumantara.


Gadis itu pun memiliki stamina yang tidak jauh berbeda dengan Jumantara. Ia bisa mengimbangi pemuda itu dengan mudah. Hanya saja, pikirannya lagi kacau. Jadi ia tidak peduli dan hampir menabrak pohon di depannya. Namun ia berhasil mengelak dan memperbaiki langkah yang salah.


"Lagi lagi sial!" Kini indera semakin kesal. Ia sudah tertinggal jauh.


"Tenanglah. Ayo, kita juga." Bayu pun dengan sekuat tenaga mengejar mereka.


Kini terpaksa Indera pun mempercepat lajunya. Ia tidak ingin diremehkan oleh mereka. Walau ia tahu, rekannya pun sudah lelah. Bayu dan indera sudah merasa lelah sekarang. Sementara perjalanan menuju desa Guntur masih jauh.


Setelah perjuangan yang sangat melelahkan itu, akhirnya mereka tiba di desa Guntur. Mereka tiba lebih cepat, karena kecepatan kuda yang ditunggangi Nehan dan Nindiya adalah kuda pilihan dan termasuk kuda tercepat yang mereka temui.


"Huhh... Akhirnya sampai juga. Hahhhh..." Indera terkapar di tanah, ia baru bisa menyusul Nehan dan yang lainnnya.


"Capek... Huhh..." Bayu melakukan hal yang sama.


Kedua pendekar tersebut merasa sangat lelah. Dada mereka terasa sangat sesak karena saking lelahnya. Badan terasa panas dan gerah.


"Kalian pendekar payah. Lari begitu saja sudah lelah." Jumantara mendekati kedua pendekar tersebut.


Namun mereka berdua, sudah tidak memiliki kuasa untuk menjawab perkataan atau ejekan Jumantara.

__ADS_1


"Jangan kau ganggu mereka. Lebih baik, kita ikuti Nehan dan Nindiya." Gemani menarik Jumantara.


Sebenarnya Gemani dan Jumantara pun sudah sangat lelah. Ternyata ada kuda yang berlari sangat kencang. Andaikan Jumantara membawa harimau putih bersamanya, pasti tidak akan seperti ini. Mereka pasti bisa mengimbangi kuda itu.


"Aku ingin melihat kuda itu." Gemani menuju kuda itu berada.


"Kuda yang perkasa." Jumantara memandangi kuda itu.


"Iya. Ini kuda terbesar dan tercepat yang pernah kutemui." Puji Gemani.


"Yah... Ini mungkin larinya setara dengan harimau putih kita."


"Iya. Mungkin saja. Tetapi darimana orang itu memiliki kuda seperti ini?"


"Lebih baik kita menyusul mereka berdua. Mereka sudah di dalam rumah."


Jumantara melihat sekeliling. Ia melihat Nehan yang berada di depan rumahnya sambil duduk bersama seorang gadis yang berusia 16 tahun.


"Eh siapa gadis itu?" Ucap Jumantara.


"Huh... Lagi lagi, perempuan. Kenapa selalu begini?" Gerutu Gemani.


"Mengapa kau Gemani?" Pemuda itu melihat bingung Gemani.


"Eh. .. tidak kok." Jawabnya. Tapi hatinya sedang terjadi apa apa.


Gemani akan merasa cemburu ketika Jumantara memuji gadis gadis cantik. Menurutnya, ia juga cantik. Tetapi ia jarang mendengar Jumantara mengatakan ia cantik.


Saat ini, Kirana ditinggal oleh ibunya yang sedang dalam pengembaraannya melihat dunia. Gantari kini sendiri tanpa Nehan. Karena memang Gantari dari dulu wanita yang suka melihat hal hal baru di dunia. Sementara kakek Mahadri, sudah kembali ke desa Banyuasih. Setelah Nindiya dan Nehan menikah, kakek itu memutuskan untuk membawa tabib Dewandaru bersamanya.


"Kalian akan pergi mencari Puteri Padmasari yang hilang?" Kirana merasa kaget bercampur iba.


"Baiklah, aku juga ingin ikut." Ucapnya.


Setelah Nehan memperkenalkan orang yang baru pertama kali mereka bertemu, Jumantara lalu menjelaskan maksudnya pada Kirana. Nehan sudah menduga, pasti Kirana akan ikut juga. Ini alasan Nehan yang tidak ingin Nindiya ikut campur urusan kerajaan. Baginya, ia lebih memilih hidupnya sendiri. Ia tidak ingin memikirkan sesuatu yang tidak seharusnya.


"Kalian sudah sampai? Maaf membuat kalian menunggu. Eh dia orang lainnya kemana?" Nindiya baru keluar membawa seteko teh dan beberapa gelas.


"Mereka ada di jalan. Mungkin sedang istirahat." Sahut Jumantara tersenyum pada Nindiya.


"Huhh... Kenapa dia selalu tersenyum pada semua perempuan cantik?" Gemani menghembus nafas gusar.


"Kau kenapa Gemani?" Jumantara menatap Gemani bingung.


"Eh tidak tidak." Jawabnya.


Lagi lagi Gemani hanya bisa cemburu. Sudah sekian lama Gemani selalu di sisi Jumantara. Ia tentu tidak ingin perempuan lain dekat dengannya. Karena ia merasa, ia perempuan yang terbaik untuk menemani Jumantara.


***

__ADS_1


__ADS_2