
Chapt 44
Bagi perguruan Kobra Api, tindakan Jayasetya dan Kurasenta adalah sebuah penghinaan. Pemimpin kobra api tentu sangat marah, mengetahui kedua bawahannya terbujur kaku di dalam penginapan.
Kabar kematian kedua sosok penting dalam perguruan Kobra api. Pasalnya mereka berdua adalah ketua cabang dalam perguruan mereka.
"Kurang ajar! Mereka berhasil membunuh kedua bawahanku. Akan kupastikan kematian mereka mendapat pembalasan yang setimpal." Pemilik sekaligus pemimpin perguruan, mengepalkan tinjunya. Raut wajahnya mengerut.
"Maaf tuan. Kami baru menerima kabar dari pemilik penginapan. Mereka sudah meninggalkan desa Papringan tuan."
"Sial! Kemana mereka pergi?"
"Perguruan Golok darah tuan."
"Golok darah... Sebenarnya apa mau mereka? Kita sama sama dari perguruan golongan hitam. Mengapa kalian berani beraninya berurusan dengan kami. Bahkan berurusan dengan Gendani Ireng. Sebenarnya apa mau mereka?"
"Tuan. Kurasa posisi ketua tingkat dua kosong tuan."
"Baiklah. Sekarang cari penggantinya. Kita adakan pertandingan terbuka."
"Baik tuan."
"Pergilah."
***
Perguruan Kobra Api di pimpin oleh seorang keturunan dari pemimpin sebelumnya. Sekaligus pemilik perguruan tersebut. Dan posisi pemimpin perguruan adalah berdasarkan keturunan.
Adapun tingkatan dalam perguruan Kobra api terdiri dari.
__ADS_1
Ketua. Ia adalah pemilik sekaligus pemimpin dalam perguruan. Kepemimpinannya hanya bisa digantikan oleh keturunannya saja.
Ketua tingkat dua. Mereka memimpin para ketua tingkat ketiga. Untuk mendapatkan posisi ini, mereka harus bisa melawan sepuluh ketua tingkat tiga. Mereka memimpin sepuluh ketua tingkat tiga.
Ketua tingkat tiga. Mereka yang langsung melatih murid murid mereka. Untuk menjadi pemimpin tingkat tiga, mereka tidak harus mengalahkan para murid. Tetapi mereka dipilih sesuai dengan lama mereka berguru dan ilmu yang mereka miliki.
Murid senior. Mereka yang bergabung dalam perguruan lebih dari satu tahun.
Murid junior. Mereka murid yang bergabung belum sampai satu tahun
__ADS_1
Tidak ada perbedaan pelajaran yang di dapat murid senior dan junior. Mereka hanya berlatih bertarung dan menggunakan senjata. Hanya saja, mereka akan berlatih di tempat yang berbeda. Dan selama ini, perguruan kobra Ireng tidak membatasi jumlah murid. Tetapi mereka harus menanggung resiko ketika sudah masuk perguruan. Yaitu harus siap mati dalam latihan sekalipun. Karena dalam latihan, mereka kadang pun sampai mengakibatkan kematian.
Sekarang tiba saatnya pemilihan ketua tingkat dua. Setiap ketua tingkat dua akan menantikan hal tersebut. Tetapi tidak banyak juga yang tidak menginginkan itu. Mereka adalah para ketua yang tidak takut mati.
Sebuah arena berbentuk lingkaran berdiameter sepuluh meter. Arena tersebut adalah sebuah tumpukan batu yang disusun berbentuk lingkaran. Jumlah ketua tingkat ke tiga yang mengikuti pertarungan akan bertarung secara giliran. Siapa orang pertama yang bisa mengalahkan sepuluh orang, akan menjadi ketua tingkat ke dua.
"Aku akan maju duluan." Seseorang tubuh kekar. Rambut panjang dan berkulit sawo busuk.
"Kau lawanku." Seorang pria berperawakan tinggi dan tidak terlalu besar.
Tidak ada wasit dalam pertarungan tersebut. Hanya para ketua tingkat ke dua dan pemimpin yang akan mengawasi. Mereka yang bertarung, akan saling menyerang hingga salah satu keluar dari arena, menyerah, pingsan atau mati.
"Trang Trang Trang." Suara kedua senjata saling beradu.
Mereka sama sama memakai tongkat besi yang kedua ujungnya runcing. Ini berguna untuk menusuk lawannya. Sang pria besar tersebut melompat dan bersiap menghujani serangan yang mematikan. Namun lawannya segera menghindar.
"Sial." Kecewa karena ia hanya menusuk angin, pria itu memutarkan tongkatnya ke segala arah.
Lawan yang memiliki tubuh yang lebih ringan membuatnya lebih leluasa berada di atas. Ia kini tengah berada di atas pria berotot tersebut. Melompat dan melemparkan senjata tersebut. Tetapi senjata itu bisa ditepis dan terpental jauh.
"Kau tidak punya senjata lagi sekarang." Ejeknya sambil memutar mutar tongkatnya.
"Siapa bilang?" Ia tersenyum licik.
Walau tanpa tongkat, ia ternyata menyimpan pisau di lengan bajunya. Saat posisi mereka mendekat, pendekar berbadan besar tersebut tumbang karena tertusuk pisau.
"Siapa lagi?" Setelah membunuh lawannya, pendekar tersebut melempar pisaunya. Lalu mengambil pedang yang lentur untuk langsung bertarung.
Yang membuat sulit untuk menjadi ketua tingkat kedua adalah, ia harus langsung bertarung begitu lawannya kalah. Dan seterusnya sampai mengalahkan sepuluh orang. Lawannya pun tidak bisa dipilih. Karena lawan yang akan maju sendiri.
***
__ADS_1