Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Pembantaian Dari Tiga Pendekar Kematian


__ADS_3

"Oh, baiklah ... aku akan ambilkan air untukmu! Kau sabarlah sebentar" pungkas Nehan. Setelah mengatakan itu, ia meninggalkan wanita itu, mengambil air yang sudah dikumpulkan dalam wadah dari daun talas.


Ia melihat air dari dua wadah dari daun talas. Lalu ia satukan air itu ke satu tempat. Setelah dirasa sudah banyak, cukup bagi Nehan untuk dibawa ke tempat di mana wanita itu terbaring. Lantas, langsung saja Nehan membawanya ke sana.


Nehan berjongkok dan meminumkan air itu. "Ini, kamu minum airnya, lekaslah buang rasa hausnya." Nehan perlahan menyuapkan air itu kepada wanita itu.


Setelah sudah tidak ingin air itu, Nehan menghabiskan sisanya. Lalu ia melihat api yang telah membakar habis seluruh kayu bakar. Ia lalu mengambil umbi talas itu dan memasukan ke dalam bara api. Lalu ia timbun umbi itu dengan bara api.


"Huh, aku belum menyiapkan makanan untukmu. Aku akan mencari sesuatu yang bisa kamu makan," ujar Nehan sambil berdiri dengan membungkuk. Nehan berjalan dengan berpegangan pada pepohonan di hutan.


Nehan mengumpulkan beberapa jenis jamur yang bisa dimakan. Juga ada beberapa tumbuhan dan buah-buahan hutan yang juga bisa dimakan. Ia menemukan beberapa buah yang berada di hutan.


Setelah menemukan beberapa bahan makanan, ia kembali ke tempat semula. Ia melihat kayu yang tumbang dan meratakan dengan pisau. Itu digunakan untuk membuat wadah untuk menumbuk buah. Ia juga menggunakan ranting besar untuk membantu menumbuknya. Ia menumbuk buah dan meletakannya di daun talas.


"Maafkan aku, karena hanya bisa memberimu buah ini. Ayo, kamu harus menghabiskan ini. Ayo buka mulutmu!" perintah Nehan, untuk menyuapinya.


Di dalam hutan, Nehan merawat wanita yang sakit itu. Mereka melewati hari dengan berada di hutan, tidak mungkin ada orang yang datang ke hutan itu. Jadi tidak akan ada orang yang tahu mereka berada di sana.


Nehan mencari tanaman obat yang berada di hutan itu. Sambil menunggu bakaran talasnya matang. Pria itu menemukan beberapa bahan obat langka untuk membuat wanita itu sembuh. Juga untuk dirinya sendiri yang membutuhkan banyak obat. Membuat beberapa alat untuk memasak dengan tanah liat dan beberapa alat lainnya.

__ADS_1


***


Di dalam dunia persilatan, banyak nama pendekar tersohor. Di antaranya ada sebuah perampok bernama Tiga Pendekar Lembah Kematian. Mereka selalu melakukan kejahatan di manapun berada. Karena mereka, membawa kehancuran di manapun berada. Menghancurkan usaha orang-orang di pasar. Mereka bermaksud mencari perguruan silat untuk mereka kalahkan untuk menjadi tiga orang paling terkenal.


"Hahaha! Di desa ini, mana ada perguruan silat! Karena kami ingin berkunjung di perguruan itu!" hardik pria yang memakai senjata gada. Ia sudah menghancurkan tempat yang penting, sebuah aula balai desa.


"Hahaha! Balai desa ini cukup makmur, cukup bagus! Kami ingin menemui kepala desa di sini! Kami ingin mengetahui keberadaan perguruan yang ada di sini!" Pendekar memegang tombak bermata tiga itu sudah membuat beberapa bangunan hancur.


Kemampuan ketiga pendekar itu tidak bisa ditandingi oleh beberapa orang yang ahli menggunakan bela diri yang kurang. Seperti segerombolan pendekar yang baru saja datang untuk mengalahkan tiga pendekar itu. Mereka berasal dari perguruan kecil yang berada di desa Suwukan.


Desa itu cukup besar dan ada beberapa perguruan kecil seperti perguruan Gendani Abang. Mereka sebelumnya adalah sebuah perguruan yang terdiri dari perkumpulan pemuda di desa Suwukan, yang baru terbentuk beberapa tahun lalu. Mereka mengambil nama Gendani Abang, karena terinspirasi dengan perguruan Gendani Ireng. Mereka percaya diri dengan jumlah yang banyak untuk menghadapi tiga pendekar gemuk itu.


"Heh, banyak bicara. Mau seperti apa kalian, dengan bertarung, kita akan membuktikannya," ujar pendekar rantai besi itu.


Berbeda dengan perguruan Gendani Ireng, perguruan Gendani Abang adalah para pendekar pria yang dalam ilmu kanuragan, termasuk rendah. Penguasaan teknik senjatanya pun masih tergolong dalam pemula. Karena baru belajar beberapa bulan.


"Kalian bertiga, lawanlah kami dari perguruan Gendani Abang! Kami akan mengalahkan kalian, wahai pendekar tidak tahu malu! Biar kami pendekar Gendani Abang, memberikan kalian pelajaran, wahai tiga pria tua?" tantang salah seorang pemimpin mereka. Berusia muda dan berjiwa pemberani dengan sebuah senjata yang bentuknya adalah sebuah tongkat pendek. Yang panjangnya hanya satu lengan orang dewasa.


"Kalian akan menghadapi pedang tanpa tuan versi dua kami, hahaha!" tawa lantang seorang pemuda lainnya sambil menunjuk tiga pendekar yang melihat mereka dengan tenang.

__ADS_1


"Kalian hanya kumpulan lalat yang tidak berguna! Cuih! Pendekar apanya?" ujar pendekar rantai itu. Ia mengayunkan rantainya untuk menyerang mereka.


Pendekar gemuk itu hanya maju seorang diri untuk menghadapi para puluhan pendekar muda itu. Sedangkan dua orang lainnya, menunggu dengan bosan. Ada beberapa yang melawan mereka, hanya menjentikkan kerikil dengan jarinya, membuat tiga orang terjatuh.


"Perguruan Gendani Abang? Heh ... bahkan tidak ada apa-apanya dari perguruan Gendani Ireng. Kenapa mereka membuat sebuah perguruan dengan memlesetkan nama asli, sebuah perguruan yang sudah lenyap itu? Kalian orang-orang perguruan, hanya bisa membuat kami geli, mendapat serangan senjata kalian." Dengan percaya dirinya, pendekar dengan rantai besi di tangannya, hanya perlu mengeluarkan sedikit kekuatannya.


Para pendekar itu menggunakan senjata khasnya dengan sekuat tenaga. Hingga mereka akhirnya tumbang, seiring berjalannya waktu. Tidak bisa dibayangkan, mereka telah kalah oleh satu orang saja. Tentu mereka tewas dengan banyaknya luka di tubuh.


Dari sekian banyaknya orang yang telah tergeletak, ada beberapa yang masih bergerak. Namun karena sudah bosan, tiga pendekar itu hanya bisa meninggalkan balai desa yang telah porak-poranda.


Serangan tiga pendekar itu menjadi sebuah trauma mendalam bagi para warga sekitar yang melihat. Apalagi mereka selalu membunuh para pendekar tanpa ampun. Berbeda kalau rakyat biasa, mereka hanya akan menyiksanya sampai cacat atau mengalami luka ringan atau luka psikis.


"Ayo, kita sudah selesai dengan perguruan ini. Heh, kenapa perguruan di desa ini begitu mengecewakan? Adakah yang lebih hebat dari ini?" Pendekar rantai besi itu bertanya pada dua temannya yang berjalan di depannya.


"Ah, mungkin kalau ada pendekar dari perguruan Bukit Lebah Hitam, mereka akan menjadi lawan yang menyenangkan. Bahkan pendekar pria, tidak lebih hebat dari para wanita itu. Seperti pendekar wanita yang bersama tabib itu, bukankah dia lumayan hebat? Aku yakin, kalau seluruh pendekar di sana akan membuat kita senang. Apalagi kalau bertemu dengan wanita tua itu. Mungkin kekuatannya sudah melampaui pesat dari sebelumnya," sahut pendekar trisula dengan yakinnya. Ia mengangkat trisula yang panjang itu di pundaknya, dengan kedua tangan diletakan di kanan dan kiri trisula itu.


"Hemm, masalahnya, mereka masih belum menampakan diri. Mereka juga tidak akan mau berurusan dengan dunia luar. Tidak mungkin mereka keluar membela orang-orang lemah itu. Kalau kita tahu markas mereka, mungkin akan lebih menyenangkan juga, hahaha!" tawa pendekar gada itu dengan keras. Diikuti tawa oleh kedua rekannya.


***

__ADS_1


__ADS_2