Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Kesepakatan


__ADS_3

Keputusan mereka untuk menikahkan Nehan dan Nindiya menemui kesepakatan. Dari kedua pihak pun sudah saling menyetujuinya. Mereka sudah mendapatkan kesepakatan bersama.


"Jadi kita sudah memutuskan, untuk menikahkan mereka di desa kami. Dan untuk ke depannya, kita akan menjadi keluarga." Gayatri merasa sangat senang dengan keputusan yang mereka sepakati.


"Iya, berarti aku tidak perlu lagi takut kalau tidur sendiri, 'kan? Karena setelah menikah, aku akan ada temannya," ujar Nindiya polos. Ia senang dengan keputusan bersama itu. Walaupun ia tidak tahu menahu tentang pernikahan itu sendiri. Di usia yang menginjak dua puluh tahun, menjadi sesuatu yang baru baginya, berdekatan dengan lelaki lain selain kakeknya sendiri.


"Terima kasih. Jadi aku bisa makan daging kelinci. Hehehe ..." Kakek pun terkekeh cekikikan setelah mendengar ucapan Nindiya.


"Kakek! Jangan makan cimut!" bentak Nindiya dengan suara keras. "Dia yang menemaniku sejak kecil kalau tidak ada kakek." Ia sangat menyayangi kelincinya yang telah ia rawat sendiri. Ia sering bermain dengan kelinci yang sangat imut baginya.


"Eh, ini kenapa? Kan kamu akan punya suami. Dan kamu ada teman untuk tidur. Jadi tidak perlu kelinci itu lagi." Pria itu pun tersenyum menggoda cucunya.


"Kakek tega. Cimut kan udah menemaniku tidur. Sudah sepuluh tahun lebih!" tegas Nindiya dengan berkacak pinggang. Gadis itu melotot ke arah kakeknya yang di hadapannya.


Kelakuan Nindiya lebih seperti seorang anak yang belum dewasa. Walaupun tubuhnya memang sudah mengalami tanda kedewasaan. Juga belum ada yang mengetahui kalau Nindiya juga memiliki dasar ilmu kanuragan yang kuat. Hanya saja belum digunakan secara maksimal.


"Eh, biar kakek jelaskan pada kamu. Apa kamu pikir itu kelinci yang dulu sepuluh tahun lalu? Waktu kakek nggak mau lagi tidur denganmu karena kamu berumur sepuluh tahun. Kelinci tidak sepanjang itu umurnya. Dan ukurannya tidak hanya segitu gitu aja. Dia akan mati dan itu akan berakhir.


"Apa maksud kakek?" Nindiya bingung dengan ucapan kakeknya yang ternyata berbohong padanya.


"Sebenarnya kelinci yang waktu sepuluh tahun lalu itu, sudah kakek bakar. Kamu juga makan kelinci itu. Karena dia akan mati setelah tua dan dia tertimbun kayu bakar yang kamu bawa. Dan kamu menangis beberapa hari setelah kelinci itu hilang. Jadi kakek mencarikan kamu kelinci yang sama."


"Kakek tega sekali ... mengapa kamu tega melakukan itu sama cimut?" Nindiya meneteskan air matanya, tidak tega mendengar kabar yang baru ia ketahui. Jadi selama ini, ia dibohongi oleh sang kakek. Walaupun sebenarnya ia bukan kakek kandung dari Nindiya.


"Kakek, huhuhu. Dasae kakek jahat." Nindiya kembali menangis tersedu karena mengingat kelinci kesayangannya. Ia berlari mencari kelinci yang ternyata bukan kelincinya yang dulu.


Nindiya berlari masuk ke dalam rumah. Ia tidak membiarkan kakeknya mengambil kelinci itu lagi, seperti dulu. Karena khawatir akan dipotong dan dibakar oleh kakeknya lagi. Ia menemukan kelinci itu di dapur yang langsung ia mengambilnya. Segera ia peluk kelinci itu. Ia membawanya ke luar rumah dan menyembunyikan dari kakek dengan ekspresi kekanak-kanakan.

__ADS_1


"Kamu sebentar lagi akan punya teman tidur, Nduk. Jadi tidak perlu kamu bawa kelinci itu. Biar nanti kelinci itu dibakar saja, karena umurnya tidak akan bertahan lama," terang sang kakek yang melihat sikap Nindiya.


Ia membawa kelinci putihnya ke arah sang kakek. Walau demikian, ia harus mengikhlaskan semuanya. Walau hati tidak rela, tetapi apa jadinya jika ia tidur bersama kelinci dan seorang suami? Yah dia pun harus merelakan kelinci itu.


"Baiklah, besok saya akan persiapkan semuanya. Hanya saja–" Gayatri masih berpikir apa yang harus ia katakan. Takut menyinggung semuanya.


"Mengapa begitu terburu-buru? Kita kan masih ada hari yang panjang. Lebih baik kita bicarakan pelan-pelan." Kakek berdiri lalu memasuki rumah.


"Sepertinya tidak perlu. Besok Nehan akan menikah dengan Nindiya. Aku harap Tuan Guru setuju untuk mengadakan acara itu di tempat kami." Dengan kepercayaan diri, Gayatri mengatakan itu. Lalu melangkah mendekati Nindiya.


"Apakah kita tidak bisa mengadakan di tempat ini saja? bukankah itu sama saja, kita akan tetap menikahkan mereka." Pria sepuh itu menghentikan jalannya. Ia menatap wanita itu dengan tatapan tidak menyelidik.


Disaat itulah, Nehan tersenyum dan mendekati Nindiya dan Gayatri. Jarang sekali pemuda itu tersenyum. Dan ini sesuatu pemandangan terlangka dalam hidup Gayatri. Karena ia tak pernah lihat Nehan tersenyum.


"Nehan tersenyum?" Jelas membuat Gayatri merasa aneh. Tapi tidak sang kakek dan Nindiya.


"Baiklah anak muda. Sepertinya aku tidak bisa berbuat apapun. Kau aturlah itu semua. Nindiya, kau minta apa dari calon suamimu?"


"Hmm, apa yah? Aku tidak ingin apa-apa. Kalau dapat suami, itu udah cukup. Kan katanya suami merupakan pelindung istri, hehehe."


"Baiklah, kuharap apa yang akan kuberi, kau akan menerimanya. Besok pagi sebelum matahari menyingsing, kita berangkat ke desa Guntur," pungkas Nehan.


"Baiklah anak muda. Aku setuju."


***


Raditya mengamati gerak gerik rombongan yang tengah membawa kereta. Kedua rekannya berada jauh di belakang. Ia bersembunyi di balik semak semak. Sesekali ia memegang gagang pedangnya.

__ADS_1


Sementara Bayu dan Indra tengah asik di atas pohon. Mereka menemukan buah yang pohonnya merambat. Mereka lebih asyik menikmati makanan mereka tanpa tahu Raditya sudah menjauh.


"Lumayan nih, daripada perut lapar. Buah manis ini cukup buat mengganjal perut yang berontak. Sejak pagi hingga sore gini belum makan." Indra mengambil lagi buah kecil berwarna merah itu.


"Husst! Kamu jangan berisik. Nanti Raditya tahu." Bayu mengingatkan rekannya yang sedang makan itu. Tetapi saat mereka melihat ke arah Raditya. Dan ia tidak melihat orang yang dimaksud.


"Raditya kemana?" tanya mereka bersamaan. Indra dan Bayu melihat sekeliling dan tidak melihat siapapun di sekitar.


"Dasar kalian, bisa-bisanya makan di sini tapi tidak ajak-ajak." Tiba tiba Raditya berada di atas mereka. Dengan senyumnya yang membuat kedua rekannya bergidig ngeri.


"Ehh, kamu di sini, Raditya. Ini makan." Dengan rasa bersalah, Bayu menyerahkan buah yang belum ia makan.


Buah itu langsung dimakan begitu saja oleh Raditya. "Lumayan. Aku juga lapar. Masih ada yang lain, kah? Kita harus gunakan ini untuk mengganjal perut kita."


"Duh, kukira akan dimarahi." Mereka berdua menepuk dahi sendiri. Tidak menyangka dengan sikap rekan mereka yang selalu serius itu.


Tapi tidak berselang lama. Raditya segera turun dari pohon. Ia menarik kedua temannya untuk mengawasi sekitar dan memasang sikap waspada. Dan pandangan mereka kembali fokus ke target mereka.


"Sepertinya mereka akan membuat tenda disana," ungkap Indra yang menatap rombongan yang mereka ikuti.


"Yah sepertinya kita juga butuh istirahat. Apakah kita membuat tenda juga?" tanya Bayu pada Raditya.


"Yah terserah kalian. Aku akan mencari makanan. Perutku sudah berontak dari pagi. Mereka juga makan nggak ngajak-ngajak." Sesekali, Raditya memegang perutnya yang belum diisi makanan. Kecuali buah yang diberi rekannya itu.


Rombongan yang telah diawasi ketiga pemuda tersebut tengah membuat tenda. Dari kereta kuda yang berhenti tersebut, muncullah sesosok putri cantik. Dengan pakaian khas putri kerajaan.


***

__ADS_1


__ADS_2