Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Berada Di Hutan


__ADS_3

Dengan susah payah, Nehan membawa wanita di gendongannya. Karena hanya dirinya yang ia punya saat ini, tabib itu akan merawat sampai sembuh. Dan akan menangani semuanya di suatu saat nanti.


"Heh hehh hehh ... kau tenanglah ... mungkin kita sekarang sudah ... tidak ... punya ... rumah ... akhh!" ringis Nehan, menjatuhkan wanita yang ia gendong. Ia sudah tidak kuat bertahan dan memegang perutnya yang meneteskan darah.


Di malam hari, mereka sudah berada di hutan belakang rumah. Ia berjalan sejauh itu karena hanya di sana ia merasa aman. Tidak ada orang yang tahu keberadaannya. Di hutan itu juga banyak jebakan yang ia buat sebelumnya. Nehan meletakan tubuh wanita itu di rumput yang setinggi mata kaki.


"Aku akan cari obat dulu! Nanti aku akan kembali ke sini. Oh iya, ini ada bubuk untuk mengusir binatang buas. Mungkin tidak terlalu efektif. Tapi semoga tidak akan terjadi hal-hal yang buruk." Nehan menaburkan bubuk itu ke sekeliling wanita itu. Lalu ia meninggalkannya.


Tabib itu berjalan sangat lambat dan pandangannya samar-samar di gelapnya malam. Untungnya ada cahaya bulan dan bintang yang membuat bumi terang. Tapi tetap saja, pandangannya kabur dan tidak kuat lagi. Pada akhirnya ia terjatuh tak sadarkan diri.


Alas Igir Randu adalah sebuah hutan yang terletak di belakang rumah Nehan. Sebuah bukit yang dipenuhi oleh aura-aura mistis. Banyak makhluk ghaib yang berada di hutan tersebut. Tapi bagi Nehan, itu bukanlah sesuatu yang membuatnya takut. Bahkan ia sering berada di hutan untuk mencari obat. Banyak obat-obatan dari tanaman yang langka dan juga berguna untuk mengobati berbagai penyakit.


Nehan bangun dari tidurnya karena sinar matahari menyilaukan matanya. Ia tersadar dan mengingat wanita itu. Setelah bangun, ia merangkak ke arah wanita yang tidak bisa berbuat apa-apa itu. Lagi-lagi ia harus menahan sakit karena perutnya. Yang seharusnya ia banyak istirahat, malah mengalami kejadian tragis itu. Obat-obatan apapun tidak akan bisa membuatnya sembuh jika ia mengalami luka yang seperti itu.

__ADS_1


Nehan mencoba bangkit, di hutan yang terdapat banyak pepohonan liar di sana. Ia menemukan tanaman cocor bebek untuk ia tumbuk di batu. Lalu ia melihat batang talas wulung. Nehan juga mengambil talas itu dan mengirisnya agar getah itu keluar. Ia bisa gunakan untuk membalut lukanya setelah melepas kain yang menutupi lukanya lagi. Dengan itu, ia berharap bisa lebih cepat sembuh.


"Ughh ... akkhh!" pekik Nehan menahan rasa perih setelah menempelkan tumbukan daun cocor bebek itu. Kemudian ia membalutnya dengan batang talas wulung yang sudah ia belah, menjadi lembaran tipis.


Ia mendiamkan efeknya mulai bekerja, menutup luka. Darahnya sudah berceceran ke tanah dan untungnya dia belum masuk semakin dalam. Karena di dalam, ada hewan buas yang bisa mencium darahnya. Tentu bisa membuatnya dimakan hidup-hidup. Tapi walau tidak masuk ke dalam, hewan-hewan buas, bisa saja mencium aroma darahnya dari jarak yang cukup jauh.


Wanita itu sudah duduk, menyandarkan dirinya di pohon. Nehan tidak tahu mengapa sudah seperti itu. Tapi pemuda itu bisa bernafas lega karena tidak terjadi sesuatu yang buruk. Ia hanya ingin mencari makanan yang ada di dekat hutan. Ia teringat dengan tanaman talas. Pasti ada umbi talas di dalam tanah. Karena pohon talasnya juga cukup besar. Umbinya juga akan besar, menurut perkiraan Nehan.


"Heh ... hehh ... hehh ... apakah kamu lapar? Tapi kayanya aku tidak bisa menyiapkan makanan untuk kamu. Aku melihat ada pohon talas. Tapi kalau dimakan, akan bikin lidah gatal. Apakah hanya itu yang bisa kuberikan? Ah, aku akan mencari makanan lain untuk kamu. Kamu tunggu di situ, yah," ungkap Nehan. Ia berdiri dan berjalan dengan sebilah ranting. Mencari makanan untuk bertahan hidup di hutan itu.


Nehan tidak mendengar panggilan wanita itu karena terlalu lirih. Membuat sang wanita hanya bisa pasrah dan menunggu. Ia merasa ingin buang air kecil dan juga haus. Tapi ia tidak bisa berjalan. Ia juga tahu kalau Nehan saat ini sedang sakit karena pernah bercerita kalau wanita yang bernama Sekar lah, yang membuat pria itu mengalami kesakitannya saat ini.


Sebagai seorang tabib, Nehan selalu mementingkan pasiennya. Ia selalu merawat dengan sepenuh hati. Ia sudah berusaha semaksimal mungkin. Mulai berhati-hati saat menggali tanah agar tidak terjadi pendarahan lagi. Ia menemukan banyak umbi talas yang berukuran cukup besar. Satunya bisa sebesar lengan orang dewasa. Dan Nehan hanya mengambil beberapa lalu menguburnya. Lalu ia mencari tanaman atau buah yang ada di hutan itu.

__ADS_1


Di dalam hutan, Nehan bisa menemukan tanaman yang cukup membuatnya kenyang. Ia melihat ada tanaman yang bisa dimakan. Ada obat-obatan juga. Maka ia ambil untuk dibawa ke tempat pasiennya itu.


"Hei, kau jangan banyak bergerak. Oh, kamu pasti sudah ingin buang air kecil? Oh, maafkan kalau begitu, aku akan membantumu. Tapi di sini tidak ada air untuk membersihkannya. Kalau begitu, yang penting kamu tuntaskan saja dulu! Biar aku bantu bukakan."


Dengan sepenuh hati, Nehan membuka kain yang menutupi bagian bawah wanita itu dan membantunya agar menuntaskan hajatnya. Tak lama setelah itu, Nehan membuat api terlebih dahulu. Lalu ia tinggalkan untuk mencari air. Ia masih memiliki pisau kecil yang selalu berada di balik pakaiannya. Meskipun ia tidak diberi pisau kemarin, ia juga bisa pergi karena punya pisau sendiri. Yang ia gunakan untuk membuat sesuatu yang berguna. Ia mulai mengambil daun talas untuk wadah air. Untungnya di hutan ada beberapa tanaman yang memiliki cadangan air. Seperti sebuah akar yang menggantung dari atas. Maka dengan memotongnya, ia bisa mengeluarkan air itu.


Air menetes dari satu akar pohon dan ditampung menggunakan daun talas. Ada beberapa akar pohon dan Nehan juga memotong beberapa akar. Ia harus menunggu beberapa lama. Karena dari tetes ke tetes itu tidak seperti aliran sungai yang deras. Jadi kesabaran adalah kuncinya. Setelah meletakan daun talas, ia kembali ke tempat di mana ada api yang menyala di depan wanita itu. Ia meletakan ranting ke api yang mulai membesar. Tidak menambahkan ubi talas karena menunggu semua kayu terbakar dan menjadi bara. Setelah menjadi bara api, barulah ia memasukan talas itu ke dalam.


"Ne-han," panggil wanita itu lirih ketika ia merasa ada orang yang sedang beraktifitas di depan perapian. Ia tahu kalau itu adalah tabib penolongnya.


"Heh? Kau bisa berbicara, rupanya? Baiklah ... kamu mau apa, hemm apa kamu lapar, aku akan segera mencari makanan untuk kamu." Nehan menghampiri wanita itu dan jongkok di sampingnya.


"Mi-num ... ha ... us ..." ucapnya terbata. Ia juga sadar, kondisi Nehan tidak dalam kondisi baik. Juga saat ini mereka berada di tempat terbuka yang begitu dingin. "Di-ngin ...."

__ADS_1


***


__ADS_2