
Chapt 43
Kinanti bisa bernafas lega. Kurasenta tidak melakukan pembuatan yang tidak mencelakainya atau melukainya. Ia masih teringat saat murid murid perguruan Gendani Ireng dibantai habis oleh Kurasenta. Seorang pria yang kini harus dipanggilnya ayah itu sangat kejam. Ia tidak bisa menyinggungnya jika ia masih ingin hidup.
Kinanti mendatangi ibu angkat barunya. Ia harus tersenyum saat bersamanya. Kurasenta telah mengancamnya ketika mereka masih dalam perjalanan. Ia juga harus bersikap baik pada Mirah. Ia tidak boleh menceritakan kejadian sebenarnya. Dimana anggota seperguruannya yang dibantai sendiri oleh Kurasenta.
"Kamu sudah memberi tahu ayahmu?" Tanya Mirah. Ia terlalu senang dan tidak dapat berhenti tersenyum.
"Sudah Bu. Nanti ayah kesini." Kinanti duduk di kursi. Ia tidak langsung mengambil makanan. Ia harus menunggu Kurasenta masuk.
"Ayo makan."
"Tunggu ayah." Jawab Kinanti, yang membuat Mirah tersenyum.
'Terima kasih oh Tuhan. Kau berikan seorang anak kepada kami. Semoga kami selalu bahagia selalu.' doanya dalam hati.
Tak lama kemudian, Kurasenta memasuki ruang makan tersebut. Kemudian duduk dengan tenang. Ia mengamati isteri dan anak barunya. Dengan senyuman yang tulus, ia edarkan ke isterinya.
"Apa kau bahagia sekarang?" Kurasenta yang melihat senyuman isterinya pun merasa sangat bahagia.
"Aku bahagia. Terima kasih kakang." Mirah menggenggam tangan Kurasenta.
Sementara Kinanti tengah menahan rasa khawatirnya. Ia merasa tidak nyaman dengan kehadiran Kurasenta. Ia masih takut kepadanya. Terbayang bayang selalu dengan kejadian pembunuhan tersebut.
__ADS_1
"Ayo kita makan." Mirah mengambilkan nasi untuk Kurasenta. Lalu ia melihat Kinanti yang masih diam.
"Anak ibu juga harus makan." Mirah pun mengambilkan nasi pada Kirana.
Kinanti memang belum makan sejak kemarin. Kini hari sudah menjelang sore. Tentu ia merasa tubuhnya sangat lemas dan sangat lapar. Tetapi ia masih diselimuti rasa takut. Ditatapnya Kurasenta yang masih diam tanpa ekspresi. Dan Kurasenta pun merasakannya.
"Makanlah. Kamu belum makan dari kemarin, bukan?" Kurasenta mengatakan itu membuat Mirah melototkan matanya.
"Apa? Dari kemarin? Kamu tak memberinya makan!" Bentak Mirah pada suaminya.
"Ehh... Itu. Dia pingsan. Aku belum sempat." Kurasenta akan bersikap lemah lembut dihadapan isterinya.
"Kinanti. Kapan terakhir kamu makan?" Mirah menatap gadis yang sedang menyuap makanan itu dengan tangan yang gemetar.
"Apa?" Mirah mengedarkan pandangan dinginnya ke arah Kurasenta.
"Itu... Maaf. Aku tidak tahu." Kurasenta kini harus menerima apa saja hukuman yang akan Mirah berikan.
"Ibu." Kinanti menelan makanannya dengan susah payah.
"Iya? Kamu makan yang banyak, nak." Mirah memberikan lebih makanan untuk Kinanti. Banyak lauk yang diberikan ke dalam piring Kinanti.
"Kamu jangan memaksanya makan terlalu banyak. Biarkan makan sedikit demi sedikit. Biar perutnya tidak melilit." Ucapan Kurasenta hanya ditanggapi tatapan mengerikan oleh Mirah.
__ADS_1
"Ibu. Maaf. Ayah... Maaf."
Kinanti menyesal mengatakan itu. Ia tidak tahu karena kecerobohan itu membuatnya berpikir, Kurasenta akan melakukan hal hal yang dapat mengancam nyawanya. Atau bahkan kematian. Ia tidak sadar mengatakan hal sebenarnya. Karena memang ia sudah dua hari tidak makan.
"Sudahlah Kinanti. Kamu tidak salah. Kamu makan yang banyak. Kamu tidak perlu takut ayahmu. Aku akan melindungimu. Makanlah."
Mirah mendekati Kinanti yang ketakutan. Gemetar seluruh badannya. Membuat Mirah menjadi sangat khawatir.
"Kau pergi!" Mirah mengusir suaminya untuk pergi.
"Kau mengusirku?" Kurasenta tidak menyangka akan diperlukan seperti itu.
"Aku tak mau kehilangan anak ini. Aku akan melindunginya. Kamu membuatnya takut."
"Aku tak akan berbuat apapun pada anak itu." Kurasenta menghembuskan nafas kasar.
"Awas kalau kau berani menyentuh anak ini." Ancam Mirah memeluk Kinanti.
Mirah yang merasakan ketakutan Kinanti membuat insting wanitanya bangkit. Ia bisa merasakan ketakutan yang amat dalam dari Kinanti. Ia sudah berpikir bahwa yang membuatnya takut adalah suami Mirah sendiri.
"Baiklah. Aku mengalah. Asal kau tahu. Aku sangat mencintaimu. Aku tak ingin kamu sakit. Aku janji tidak akan menyakiti anak itu. Sebaiknya kau tenangkan anak itu. Aku akan pergi beberapa hari."
Kurasenta meninggalkan tempat itu. Ia merasa sangat kacau hari ini. Ia sudah sangat rindu dengan isterinya. Setelah berbulan-bulan tidak saling jumpa. Tetapi ia harus kembali berpisah. Membuatnya menjadi pria bodoh.
__ADS_1
***