Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 17 Serangan Ninja


__ADS_3

Chapt 17


Sosok gadis cantik tersenyum lebar. Ia mengambil nafas, mengangkat kedua tangannya. Udara luar yang di idam idamkan selama sembilan belas tahun. Seorang putri kerajaan yang selalu menjadi primadona bagi para bangsawan. Bahkan banyak pendekar yang mengagumi kecantikannya.


Namun hanya orang orang istana yang ia temui setiap harinya. Ia belajar dengan buku buku, tetapi ia tidak pernah merasakan dunia luar.


"Huahhh... Biarkanlah kunikmati ini sementara waktu. Dan esok pagi pasti cuaca cerah. Hhhmmm..."


Rombongan itu pun menyelesaikan tenda dengan cepat. Sementara ketiga pendekar yang senantiasa mengawasi dari jauh pun hanya membuat gubug sederhana dari ranting dan dedaunan.


"Wah sang Puteri itu cantik banget. Seandainya itu jodohku. Sayangnya..." Indera terpana akan sosok itu.


"Wah ternyata seleramu tinggi juga." Tebak Raditya.


"Haha... Biarin lah teman kita menghayal. Setidaknya seleranya itu bukan gadis aneh dan gila." Bayu mengatakannya dengan senyum menyeringai.


"Hai! Kau menyindirku." Tatapan bengis dari Raditya.


"Hohoho... Tenang tenang. Kok kamu jadi emosi. Hahaha... Lihat tuh teman kita ini." Menunjuk Raditya yang jadi salah tingkah. Masih emosi.


"Sssttt... Kalian bisa diam nggak sih? Tuh lihat ada yang curiga."


Raditya dan Bayu saling memandang. Memang benar mereka membuat keributan. Tapi itu salah siapa? Entah salah siapa. Yang pastinya mereka bertiga terlibat.


Segera mungkin mereka membuat perapian untuk menghindari hewan buas. Walaupun mereka yakin bahwa mereka dapat mengatasinya, dan mungkin hanya ada ular dan beberapa jenis serangga, tetapi mereka tetap waspada. Karena ini malam hari dan mereka tidak bisa melihat jelas. Siapa sangka kalau ada ular atau serangga beracun menggigit mereka.

__ADS_1


"Harusnya aku yang disana. Dampingimu dan bukan dia." Indera menyanyi dan menatap wanita cantik yang disana.


Walaupun dalam gelap dan tidak melihat wajahnya. Yang penting ia sudah melihatnya sore tadi. Walau hanya dari jauh.


"Tuh jadi puitis gitu." Gumam Bayu.


"Teman kamu tuh." Raditya menyenggol bahu Bayu.


"Temanmu juga haha..." Mereka tertawa bersama.


Sementara orang yang dibicarakan diam saja. Ia memilih untuk berkeliling saja. Percuma berdebat dengan mereka. Ia keliling mengitari rombongan tuan Puteri dengan langkah hati hati. Sampai ia merasakan ada orang orang berseragam serba hitam.


"Ada apa?" Raditya pun merasakan ada sesuatu yang aneh. Ia berdiri dan ia pun merasakan hawa pembunuh dari kejauhan.


"Sepertinya mereka sudah bergerak. Ini belum larut malam. Tapi mereka ini." Bayu yang dari tadi pun bisa mengenali kondisinya.


Raditya dan Indera memilih menyiapkan panah mereka. Setidaknya keahlian memanah mereka bertiga tidak dapat diremehkan. Tetapi Bayu lebih suka menggunakan elemen angin karena dirasa lebih efektif dan ia tahu kemampuannya sendiri.


"Tuan Puteri. Aku merasakan ada sedikit masalah." Kepala pengawal mendekati sang Puteri. Ia bisa merasakan beberapa pendekar yang tengah mengintai mereka.


"Baiklah... Mohon bantuannya..." Sang Puteri tidak panik sedikitpun. Ia tahu kemampuan para prajurit yang menjaganya. Setidaknya bukan prajurit sembarangan.


"Iya. Mohon maaf. Mungkin tuan Puteri akan melihat ini semua. Tapi kami menjamin keamanan tuan Puteri." Sang kepala pengawal memberi hormatnya.


"Aku yakin itu. Kepala pengawal. Kamu yang terbaik."

__ADS_1


"Terimakasih tuan Puteri. Aku pamit dulu."


Kepala pengawal pun memimpin para pengawal untuk siaga. Dan benar saja. Sekelompok pendekar berpakaian serba hitam dengan membawa berbagai senjata aneh. Seperti senjata lempar semacam cakram, kunai dan mereka juga menggunakan rantai besi dan yang aneh lainnya, mereka memiliki banyak senjata rahasia yang ada dalam kantong mereka.


"Sial. Mereka ninja. Gerakannya pasti sangat cepat. Lindungi Puteri Padmasari!"


"Baik tuan."


"Siap tuan."


Para ninja ninja itu sangat cepat. Dalam sekejap, beberapa prajurit tidak menyadari tubuh mereka terkena senjata yang dilempar.


"Tuan. Sepertinya kita akan kalah."


"Diam! Apapun yang terjadi, selamatkan sang Puteri." Titah sang pemimpin.


"Baik tuan. Kami akan menghadapi mereka sampai titik darah penghabisan."


Prajurit prajurit terlatih itu bersiap siap menghadapi para ninja yang bergerak dengan kecepatan tinggi. Mereka siap menyerahkan hidup mereka untuk sang Puteri.


***


Kuusahakan up dengan cepat, walau waktunya berubah ubah.


Tidak peduli pagi, siang atau malam. Karena aku tak mempunyai jadwal up chapter.

__ADS_1


Jangan lupa kasih Like, Kritik dan Sarannya


terima kasih


__ADS_2