
Chapt 65
Banyak kehidupan yang seharusnya tidak ada sangkut paut seseorang. Tetapi mereka memiliki beberapa pilihan masing masing. Entah pilihan itu membawa dampak baik atau dampak buruk. Bukan keberuntungan atau kesialan, jika mereka memilih jalan yang menganggap mereka benar.
Roda kehidupan manusia terus berputar. Dengan seiringnya waktu, tenaga dan kerja keras, kita bisa memutar roda tersebut. Akan tetapi, kita mungkin akan menghadapi dimana saat saat roda itu berputar dengan sendirinya.
Seperti hidup kita ini. Kita memiliki kekuatan untuk mengubah nasib kita sendiri. Tetapi, kadang keadaan yang membuat kita tidak bisa mengubahnya. Kadang pula malah membuat masalah buat kita sendiri.
Untuk menghadapi semua kemungkinan, kita harus memiliki hati yang besar, kuat dan harapan. Cukup atau tidak cukup, tentu kita harus mencobanya bukan? Atau kita akan menyerah begitu saja?
Bukan tak ingin membantu orang lain, tetapi ia lebih menghawatirkan orang orang terdekatnya. Bukan mencari berbagai alasan. Tetapi ia memang tidak ingin mengambil resiko besar. Sesuatu keputusan ada ditangannya. Tetapi tidak semua orang akan mendukungnya.
Rasanya percuma, jika ia terus menolak. Tetapi ia tidak ingin membuat kedua orang yang disayanginya, menghadapi hal hal yang tidak seharusnya. Butuh pemikiran yang matang, sebelum memutuskan semuanya.
"Ayolah Nehan." Bujuk Nindiya yang sudah ke berapa kali.
"Ayo kak! Apa kau tidak percaya kami?" Imbuh Kirana.
"Memang semua ini keputusanmu. Tetapi, membantu orang dalam kesusahan, bukankah itu tugas seorang tabib juga?" Kini Bayu yang menyudutkan Nehan.
Tampak raut wajah Nehan yang datar. Ia tidak berekspresi apapun. Namun ia harus mengalah hari ini. Ia mungkin memiliki kecerdasan yang mungkin dengan kecerdasannya, ia mungkin bisa menang melawan pendekar hebat sekalipun. Akan tetapi, ia juga harus memikirkan hati nuraninya. Sebagai seorang yang sudah mengobati sekian banyak nyawa orang, ia juga merasakan kesakitan mereka. Hatinya ikut terenyuh dengan penyakit yang diderita para pasiennya.
Namun ini masalah berbeda. Ia kini harus dihadapkan dalam perjalanan hidup dan mati. Dimana mereka akan berkelana entah kemana. Dan entah apa yang akan terjadi padanya. Atau orang orang yang dicintainya.
"Kalian mengertilah. Aku tidak ingin terjadi apa apa dengan Nindiya dan Kirana. Meskipun Nindiya memiliki kehebatan seperti yang kalian lihat, tetapi aku yakin. Diluaran sana, masih banyak pendekar pendekar lebih kuat. Dan bukan tidak mungkin mereka akan membunuh atau berbuat yang tidak tidak, bukan?" Terang Nehan.
"Atau kau takut? Kau takut mati?" Pertanyaan bodoh itu diucapkan Jumantara. Pasalnya ia menemui salah satu orang yang mungkin takut mati. Dan Nehan termasuk orang itu.
"Katakanlah begitu." Sahut Nehan.
Sebenarnya bukan kematian yang ia takutkan. Sebagai seorang tabib yang menyaksikan antara hidup dan mati seseorang, ia tidak ingin melihat kematian yang dia sia. Mengapa nyawa banyak orang harus dipertaruhkan hanya untuk satu orang? Bukankah seorang raja yang baik, ia lebih mementingkan nyawa rakyatnya? Namun Nehan enggan mengatakan itu semua.
"Kau payah." Hina Indera.
__ADS_1
"Nehan. Apakah kau orang yang tidak punya hati nurani? Puteri Padmasari membutuhkan bantuan kita. Kau tahu, sang Puteri itu adalah orang penting kerajaan. Dan nyawanya itu sangat berharga. Kau tidak ingin menolongnya?" Tanya Bayu sekali lagi. Entah sudah beberapa lama mereka berdebat.
"Hati nurani? Kurasa kalian harus tahu dimana hati nuraniku. Yah... Aku tidak peduli dengan nyawa tuan Puteri kalian. Kami hanya orang rendahan. Mungkin bagi kalian, nyawa Puteri kalian itu sangat berharga. Tetapi tidak untukku. Bagiku, keluargaku lebih berharga daripada nyawa tuan Puteri kalian semua. Harus berapa nyawa yang akan dipertaruhkan hanya untuknya?" Nehan berdiri dari duduknya. Ia memandang mereka semua yang masih duduk.
"Jika kalian lebih menghargai nyawa seseorang yang pangkatnya lebih tinggi, lalu bagaimana dengan nasib orang orang bawah? Mungkin dengan kita mencari tuan Puteri, kita akan mengalami masalah. Dan nyawa kita akan dipertaruhkan. Yah, mungkin keluarga sang Puteri akan bahagia, jika ia bisa ditemukan. Tetapi tidak untuk keluarga mereka yang mempertaruhkan nyawa mereka. Mereka akan kehilangan keluarga mereka."
"Ribuan atau ratusan prajurit kerajaan, juga mencari sang Puteri. Ratusan atau jutaan prajurit akan dikirim untuk mencari keberadaannya. Mereka rela mati demi mencarinya. Pendekar pendekar golongan hitam tersebar di mana mana."
"Menolong sang Puteri adalah hal baik, dan akan menjadi pahlawan kerajaan Lokapraja. Sebagai seorang pendekar, kami tidak takut mati demi untuk kerajaan Lokapraja." Ungkap Indera.
Semua mata tertuju pada indera. Mereka mendukung sepenuhnya ucapan Indera. Karena memang benar ucapannya. Sebagai warga yang baik, maka harus rela berkorban. Meskipun itu nyawa mereka sendiri.
"Banggakah kalian, jika mati dengan cara seperti ini? Tidak mementingkan keluarga kalian?" Tanya Nehan, memandang mereka satu persatu.
"Apa kau tidak ingin ikut dengan kami?" Tanya Gemani dengan harap harap cemas.
"Kak Nehan. Tolong pikirkan lagi. Tidak masalah jika kita mati. Setidaknya kematian kita tidak sia sia. Setidaknya kita sudah berusaha." Ungkap Kirana.
"Tidak!" Jawab Nehan.
Mereka semakin kacau. Melihat Nehan yang sepertinya sudah tidak mau berdebat lagi. Nehan meninggalkan mereka. Ia sudah menarik Nindiya dan Kirana ke dalam rumahnya.
"Dia benar benar tidak ingin membantu?" Ucap indera resah.
"Tabib sialan itu! Lebih mementingkan dirinya sendiri, daripada kepentingan banyak orang. Egois!" Ucap Jumantara kesal.
"Apa kita tidak bisa bawa Nindiya? Setidaknya dia hebat. Mungkin ia bisa membantu." Tanya Gemani.
"Tidak. Nehan adalah suaminya. Dan seorang isteri, harus ikut suaminya." Jawab Jumantara.
"Tetapi kenapa harus mengikuti suami yang tidak punya perasaan seperti itu? Kalau aku memiliki suami yang keras kepala seperti itu, aku akan meminta berpisah dengannya." Gerutu Gemani.
"Iya benar. Kau sebaiknya menikah dengan pria baik sepertiku." Ungkap Indera bangga.
__ADS_1
"Tidak!" Bentak Jumantara.
"Heiy... Kau marah?" Ledek Indera.
Kedua pria tersebut saling tatap. Terlihat senyuman dari indera, tetapi sebuah amarah yang keluar dari diri Jumantara.
Namun mereka tidak terlalu lama saling pandang. Mereka terdiam begitu lama. Keempat pendekar masih berada di depan rumah Nehan. Mereka seakan tidak rela, jika mereka harus melakukan perjalanan tanpa membawa Nindiya bersama mereka.
Sementara di dalam, Kirana dan Nindiya sedang terlihat tidak baik. Ekspresi mereka yang tidak suka dengan sikap Nehan.
"Jika kalian ikut mereka, maka hanya akan menyetor nyawa kalian." Nasihat Nehan.
"Kak Nehan memang tidak punya hati nurani." Kirana merasa kepalanya panas.
"Apa tidak bisa, kita membantu mereka?" Nindiya mencoba membujuknya.
"Nindiya, Kirana." Panggil Nehan kepada dua perempuan yang ia sayangi.
"Kak." Kirana mendekati Nehan dan memeluknya.
"Nehan." Nindiya ikut memeluk pemuda itu.
Sebagai seorang isteri, Nindiya tidak bisa membantah suaminya. Ia adalah tanggung jawab Nehan sekarang. Dan kakeknya telah mempercayakan Nindiya Pada Nehan. Dan kakeknya pernah mengatakan kalau ia harus patuh dan nurut pada Nehan.
"Aku mohon, kak." Pinta Kirana sekali lagi.
"Apa kalian yakin?" Tanyanya lalu melepas pelukan kedua orang yang dicintainya itu.
Nindita dan Kirana mengangguk pelan. Mereka sudah pasrah dengan keputusan Nehan. Nehan menghembus nafas pelan sebelum menjawab mereka.
Nindiya dan Kirana hanya berharap, Nehan mengijinkan mereka. Tetapi Nehan memang benar. Jika mereka mati, tidak mungkin pihak kerajaan menganggap mereka. Mereka hanya sebagian kecil pahlawan yang gugur.
**"
__ADS_1