Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Hadiah Untuk Nehan


__ADS_3

Di dalam kamar Cempaka, Nehan dan Kenanga berada. Setelah mendapatkan pengobatan dari Nehan, gadis itu sudah membuka matanya. Walau masih terlihat lemas, sebagai kakak seperguruan bagi Cempaka, Kenanga merasa sangat senang. Ia ingin bicara banyak padanya. Namun Nehan mencegah niat dari wanita itu.


"Tunggu! Kau tidak bisa banyak bertanya padanya! Ini obat sedang bekerja dan sisa racun dalam tubuhnya masih belum sepenuhnya keluar! Ini, sisa dari obat, harus diminum secara rutin, pagi sebelum terbitnya matahari. Dan juga setelah terbenam matahari. Setiap mengambil obat, takarlah satu setengah sendok makan. Lalu ditambahkan satu gelas air hangat."


Kinanti mengingat apa yang dikatakan oleh tabib itu. Ia mengangguk dan mengucap, "Terima kasih telah mengobati adik seperguruanku! Aku pasti akan mengingat jasa baikmu. Guru kami juga sudah menyiapkan bayaran untukmu! Kau siap-siap saja untuk menerimanya!" pungkas Kinanti dengan senyum menyeringai.


"Heh, ini belum selesai! Saat kau memberinya obat, kau jangan gunakan air panas. Karena itu akan merusak khasiat obatnya sendiri! Dan untuk membuat mantra itu bekerja maksimal, harus dibacakan juga sebuah mantra! Ini harus kau atau Sekar yang membaca mantra! Kalau tidak, Cempaka akan mengalami kegagalan dalam proses penyembuhan."


"Apa mantra yang harus ku baca itu?" tanya Kenanga penasaran. Sebelumnya ia juga sering mendengar orang menggunakan mantra untuk menyembuhkan orang.


"Baiklah ... hhhh ... pertama-tama, kau siapkan air hangat dan obatnya terlebih dahulu. Lalu kau ambil satu setengah sendok obat. Kemudian kau baca mantra ini." Nehan memberikan sebuah daun lontar yang sudah diberi tulisan mantra olehnya.


"Apa ini? Hemm, akan kubaca sekarang, yah?" Kenanga membuka daun lontar yang diberikan oleh tabib itu. Ia baca sekilas dalam hati lalu membacanya dengan suara pelan.


...Mantra Cintamu...


...(Oleh : Nehan Hadinata)...


...Demi masa yang memberiku waktu...


...Demi sang surya menyinari hariku...


...Sehingga kulihat indahnya dirimu...


...Yang mengisi kosongnya jiwaku...


...Yang memerlukan pelukan hangatmu...


...Oh, tuan tabib kaulah idolaku...


...Menyembuhkan luka lara di hatiku...


...Yang mengendap di ruang jiwaku...

__ADS_1


...Tergoda aku melihat senyummu...


...Sampai gila aku mengharap hadirmu...


...Wahai tuan tabib, belahan jiwaku...


...Mengisi kosongnya relung jiwaku...


...Berharap kau memberikan aku...


...Cinta yang indah bersemi denganmu...


...Kaulah, Nehan Hadinata milikku...


...Penyembuh, pengisi ruang rinduku...


...Aku cinta hanya kepadamu...


...Mantra cintamu membuatku terbelenggu...


...Mengarungi mahligai terindahmu...


...Jadikan aku ratu di istanamu...


...Oh, aku sangat mengharapkanmu...


***


Kenanga tidak tahu mengapa ia membaca manta itu merasa aneh. Ia membolak-balik tulisan di daun lontar itu. Memang seperti itulah mantra yang sangat aneh baginya.


"Apakah kau suka dengan mantranya? Ingat, kau hanya bisa melakukannya dengan keras! Dan harus setidaknya disaksikan sebagian saudara seperguruan. Jangan lupa, kau tidak bisa salah satu katapun!" tandas Nehan dengan wajah serius.


"Oh, baiklah kalau begitu, aku akan melakukannya! Apakah adikku sudah bisa makan dan lain-lain?" Dalam hal penyembuhan adik seperguruan, Kenanga tidak ingin terjadi kesalahan apapun. Ia harus menuruti apa yang dikatakan oleh sang tabib.

__ADS_1


Nehan tertawa di dalam hatinya, ia berpikir, 'Bagaimana saat dia membaca mantra itu di pagi-pagi buta, yah? Hahaha! Aku tidak perduli. Yang penting bisa mengerjai dia.'


Tak seberapa lama kemudian, Sekar dam sang guru masuk ke dalam ruangan itu. Sekar mengangguk pada guru wanita itu. Sementara Kenanga sudah tahu apa yang akan terjadi nantinya.


"Kau sudah menyembuhkan penyakit dari murid termudaku? Cempaka, apakah kau baik-baik saja?" tanya sang guru yang langsung menghampiri gadis yang terbaring lemah itu.


"Iya, Guru. Aku baik-baik saja, sekarang. Ini sungguh sangat menyiksaku. Tapi kenapa sekarang sudah enakan? Tapi aku lelah, Guru. Aku ingin istirahat dulu," pungkas Cempaka.


"Oh, baiklah ... kau istirahat saja dulu, Cempaka! Karena kau harus cepat sembuh, jangan dulu mengeluarkan banyak tenagamu." Lalu ia menengok ke arah Nehan. "Dan ... terima kasih untukmu, Tuan Tabib. Untuk hadiahnya, aku akan biarkan kau membawa Sekar. Oh, iya ... untuk hadiah selanjutnya–"


Mereka dikejutkan dengan beberapa wanita yang membawa sebuah batu berbentuk pedang. Itu adalah sebuah benda yang mereka kira tidak berguna. Sebenarnya itu adalah sebuah batu yang diperoleh saat pembangunan perguruan dengan mengeruk isi bukit. Saat itu, banyak yang melihat batu berbentuk pedang itu. Mereka mengira, pedang batu itu berguna bagi mereka. Tapi pedang batu itu tidak ada gunanya sama sekali bagi mereka. Sehingga wanita itu memutuskan untuk membuangnya saja.


"Ini adalah pusaka yang kami temukan saat pembangunan perguruan ini. Dan ini memiliki kekuatan yang luar biasa di dalamnya! Untuk itu, sebagai rasa bersyukur kami, akan kuberikan kau ini!" Wanita itu lalu berdiri dan menyerahkan sendiri batu berbentuk pedang itu.


Batu itu cukup berat bagi orang biasa. Apalagi untuk orang yang tidak bisa menggunakan tenaga dalam atau ilmu kanuragan seperti Nehan. Sang guru memberikan langsung pedang batu itu dengan tangannya sendiri.


"Wah, ternyata ini hadiah yang dikhususkan untukku? Sungguh ... perguruan Bukit Lebah Hitam ini sangat murah hati. Semoga nasib baik, akan menyertai perguruan ini. Tidak seperti perguruan Gendani Ireng yang memiliki orang-orang kolot di dalamnya."


"Apa? Orang-orang kolot bagaimana?" tanya Sekar. Ia tidak menyangka kalau hal yang baru diberitahu oleh gurunya tentang perguruan Gendani Ireng, Nehan pun tahu. "Apa kau tahu perguruan itu?"


"Sudahlah ... kalian akan menghadapi takdirnya sendiri. Tidak perlu kalian mengurusi perguruan itu. Lagipula senjata yang mereka gunakan, tidaklah berguna. Sekarang aku bisa pulang dan membawa hadiahnya, bukan?"


Nehan menerima pedang batu itu dengan sekuat tenaga. Namun ia merasa senang setelah mendapat batu di tangannya. Jelas-jelas ini bukanlah sebuah batu biasa. Kalaupun sebuah batu biasa, tidak mungkin akan seberat itu.


"Apa kau tidak mencurigai kamu, kalau kami membohongimu? Hemm, selain batu ini, saya juga telah berjanji padamu untuk memberikan satu muridku untukmu, bukan? Sekar!" panggil sang guru.


Sekar merasa tidak tenang karena mendapat tugas yang menurutnya berat itu. "Siap, Guru! Aku akan mengikuti tabib ini dan akan selalu ada di sisinya!" tandasnya dengan perasaan cemas. Ia masih diliputi kebingungan karena harus membunuh orang yang telah menyelamatkan adik seperguruannya.


Nehan sudah tidak memperdulikan Sekar atau wanita. Ia menikmati mengusap batu yang ia bawa itu. Tidak mengherankan, membuatnya semakin bersemangat setelah menerima pedang itu.


'Dasar orang bodoh! Jelas-jelas itu hanya batu biasa! Bagaimana mungkin dia percaya begitu saja? Hehehehe,' kekeh wanita paruh baya itu dalam hati.


"Kalau begitu, biar aku saja yang akan membawakan pedang itu! Kau bisa serahkan pedang itu padaku! Kau bawakan saja pedangku!" kata Sekar yang menukar pedangnya dengan pedang batu itu.

__ADS_1


Nehan dan sekar pun segera meninggalkan kamar itu. Diikuti oleh Kenanga yang harus membantu Nehan keluar. Karena Sekar yang membawa pedang batu yang kini milik Nehan.


***


__ADS_2