
Dengan kemampuan yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit, Nehan Hadinata, dikenal sebagai tabib yang terkenal. Terlepas dari masalah di otaknya yang harus ia hadapi. Ia kadang tidak bisa mengontrol emosi yang berlebihan karena efek obat buatannya sendiri.
Di sebuah desa yang jauh di pinggiran kerajaan besar, Kerajaan Tirta Manunggal. Yang di dalamnya terdapat beberapa desa.
Desa Suwukan, merupakan salah satu desa yang berada di wilayah kerajaan Tirta Manunggal. Sebuah desa yang berada di pinggiran seperti pada umumnya, akan menjadi desa tertinggal. Penduduk desa yang rata-rata menjadi petani ubi dan peternak. Mereka hanya mengandalkan diri mereka sendiri untuk mempertahankan hidup.
Dua pemuda sedang mengintai seseorang dari pohon jati. Mereka sudah menyiapkan jebakan untuk seseorang yang sudah diprediksi lewat tempat tersebut. Nampaklah seorang pemuda yang berjalan sendirian.
"Sepertinya, tabib gila itu datang lagi," ucap seorang pemuda yang berdiri dari atas pohon. Dengan kemampuannya yang dapat memanjat pohon dengan cepat, ia mudah untuk mengintai orang.
"Yah ... kau betul, Purwa. Sepertinya si tabib gila itu akan lewat jalan ini!" balas satu rekannya yang berdiri tidak jauh dari Purwa.
Kedua pemuda itu, sedang mengawasi sekitar. Purwa dan Sakha, adalah dua pemuda yang paling usil di desa tersebut. Keduanya sering berulah dengan tingkah mereka yang mengundang kemarahan. Walau sebenarnya mereka pemuda yang memiliki hati yang baik, jiwa muda mereka akan tetap muncul sesekali. Apalagi mereka sangat senang mengerjai dan menertawakan seseorang yang datang entah dari mana. Seperti Nehan yang datang di desa mereka secara tiba-tiba.
"Kita ikat saja dia!" tunjuk Purwa dengan jari telunjuknya. Ia berniat mengerjai Nehan yang ia tatap dengan teliti.
"Hehehe ... seperti biasa, kita ceburin dia ke sungai. Hahaha!" tawa Sakha dengan siasat licik temannya.
Tawa mereka terdengar oleh Nehan yang berjalan di jalan setapak. Nehan menyunggingkan senyum. Kini tahu ada orang yang akan berniat buruk padanya.
Sudah beberapa kali, Nehan kena jebakan dua pemuda itu. Sekarang karena ia mendengar tawa salah seorang dari mereka, ia pun tahu kalau mereka sedang merencanakan sesuatu untuknya.
"Hehehe," kekeh Nehan. Walaupun tingkahnya kadang seperti orang gila, tetapi otak cerdasnya masih berfungsi dengan baik.
Nehan melihat sekeliling, dan mendapati tumpukan dedaunan kering serta ada daun yang masih hijau. Ia juga melihat ceceran tanah basah seperti tanah galian. Tentu saja ia menduga, dua pemuda itu telah membuat lubang di jalan itu.
__ADS_1
"Kalian mau mengerjaiku dengan ini? Owh, tidak semuda itu anak muda," tutur Nehan. Ia menggaruk kepalanya sambil tersenyum menyeringai.
Sudah banyak jebakan yang telah membuat Nehan terjebak oleh dua pemuda itu. Namun ia tidak bisa terjebak kali ini. Dengan tingkahnya yang bebas, ia melompat-lompat dan menatap ke atas sambil tersenyum.
Nehan melihat ada tali panjang yang dibuat sedemikian rupa, ketika tali itu diinjak, akan membawa Nehan tergantung ke atas. Bagi Nehan, itu hanya jebakan biasa. Mereka menggunakan lubang yang Nehan prediksi tidak terlalu dalam.
Dengan kemampuan kedua pemuda jahil tersebut, mereka tidak mungkin bisa membuat lubang yang cukup dalam hanya dengan waktu yang singkat. Nehan baru saja lewat jalan tersebut tadi pagi. Sekarang sudah siang, waktu yang singkat untuk membuat lubang tersebut.
"Selain lubang, ada jebakan apa lagi di sini, hehehe?" Nehan tersenyum lebar, ketika ia melihat seutas tali, ia kemudian mendekati tali itu.
"Akhirnya kena juga," bisik Sakha pada Purwa. Ia yakin Nehan akan tertawa lebar sesaat lagi.
"Hihihi ... kurasa kita akan bersenang-senang di sini," balas Purwa dengan senyum sumringah.
Kedua pemuda itu bersiap untuk menangkap Nehan yang mendekati tumpukan daun tersebut. Namun karena Nehan sudah mengetahui rencana mereka, ia pun melompat menjauhi jebakan tersebut. Ia melompat mundur dan berjungkir-balik.
Crashh!
Suara dedaunan dan ranting yang terinjak oleh kedua pemuda itu. Ini karena Nehan sudah melihat dua pemuda itu. Nehan menyimpan senjata rahasia yang digunakan untuk mematahkan ranting yang diinjak kedua anak muda tersebut.
Setelah Purwa dan Sakha menginjak jebakannya sendiri, maka selesai sudah jebakan itu memakan tuannya sendiri. Sebuah lubang dengan kedalaman satu meter, cukup membuat mereka kerepotan untuk memanjat keluar. Pasalnya, mereka sudah membuat tanah di dalamnya menjadi lumpur. Mereka akan sulit bergerak dalam lumpur tersebut.
"Sialan! Malah kita sendiri yang kena jebakan ini!" umpat Sakha sambil memukul lumpur di depannya. Akan butuh waktu untuk keluar dari lumpur tersebut.
"Ooh ... jadi ini Kalian lagi? Hahaha! Kurasa kalian perlu pertolongan?" goda Nehan pada kedua pemuda yang tercebur lumpur itu.
__ADS_1
"Hei ... Tabib gila! Tunggu pembalasanku nanti!" ancam Purwa tidak terima.
Kedua pemuda tersebut, memukul-mukul lumpur yang mereka buat. Mereka tidak menyangka, jika jebakan itu, akan mengenai mereka sendiri.
Nehan yang menyaksikan itu, lantas tidak bisa menahan gelak tawanya. Apalagi melihat kedua orang yang ingin menjebaknya, terkena jebakannya sendiri. Apalagi melihat badan dan wajah mereka penuh dengan lumpur. Nehan menggelengkan kepalanya lalu berlalu pergi. Berjalan dengan berjingkrak dan bersiul.
"Dua kunyuk masuk lumpur," gumam Nehan sambil melompat-lompat dan memutar-mutar tongkat yang digunakannya untuk menembakkan ranting yang tadinya untuk pijakan dua pemuda saat di atas pohon.
Nehan tidak mungkin menembakan senjata itu pada Purwa dan Sakha. Mereka masih muda dan hanya bersikap nakal. Mereka memang bandel dan sering berulah. Karena keduanya bukan orang jahat, Nehan tidak berani mencelakai mereka apalagi membunuh.
Setelah kepergian Nehan, Purwa dan Sakha mencoba keluar dari lumpur tersebut. Mereka berusaha keluar dengan sekuat tenaga. Dengan susah payah mereka pun akhirnya bisa keluar. Badan mereka yang kotor karena lumpur membalut hampir seluruh tubuh mereka.
"Hari ini kita gagal. Tetapi lain kali, awas kau Nehan!" umpat Sakha dengan mengepalkan tangan yang penuh dengan lumpur.
"Huuh ... akhirnya kita bisa keluar dari lumpur ini. Siapa sih yang bikin kubangan di sini? Kayak anak kecil aja," gerutu Purwa polos. Ia kadang pelupa. Bahkan sesuatu yang dilakukannya sendiri, ia lupa.
"Dasar pikun! Kita yang bikin lumpur di sini, bodoh!" bentak Sakha sambil memukul kepala Purwa dengan keras.
"Auhh! Sialan! Siapa yang bodoh? Huft!" decak Purwa kesal. Ia baru mengingat, memang ia dan Sakha yang membuat lumpur itu. "Ini gara-gara tabib gila itu," ujarnya lalu berusaha keluar dari lumpur.
Butuh waktu beberapa menit untuk kabur dari kubangan lumpur itu. Dengan seluruh kekuatan mereka, akhirnya bisa keluar dengan keringat yang bercampur lumpur.
"Ini namanya jebakan makan tuan," tutur Purwa sambil mencoba berdiri.
***
__ADS_1