Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 34 Misteri Pedang Bumi


__ADS_3

Chapt 34


Untuk menghadapi Ninja ninja itu, kedua pendekar sepuh tersebut harus menggunakan tenaga dalam yang tidak sedikit. Pasalnya ninja ninja tersebut bergerak dengan kecepatan yang sulit untuk dilawan. Bahkan gerakan cepat mereka dan jumlah mereka yang membuat unggul.


"Mahadri. Aku sulit untuk bertarung. Tulang tuaku sudah tidak sanggup lagi." Keluh Dewandaru.


"Yah kita sudah tidak seperti dulu lagi." Mahadri membenarkan ucapan rekannya itu. Usia yang sepuh, seharusnya diisi dengan kegiatan yang menyenangkan.


Suara Pluit terdengar, para ninja yang bersiap menyerang menghentikan langkahnya. Tiba tiba tembok tanah itu perlahan semakin rendah. Sampai akhirnya rata kembali seperti semula.


"Apa yang terjadi?" Semua yang disana pun merasakan sebuah aura yang sangat pekat.


Tubuh mereka sulit digerakkan. Merasakan aura yang menekan semua tenaga dalam. Mereka bisa bergerak, tetapi semua tidak bisa menggunakan tenaga dalam sama sekali.


"Pedang Neraka. Bagaimana bisa terjadi?"


Tiba tiba Ninja ninja itu berlari setelah mengetahui tenaga dalam mereka tidak bisa digunakan. Bahkan untuk melesat menggunakan ilmu meringankan tubuh pun tidak bisa.


Nehan menahan pedang itu, aura di tubuhnya menjadi gelap. Asap hitam keluar dari pedang tersebut. Tidak ada tenaga dalam. Hanya aura gelap yang ada. Mata pedang yang berwarna merah darah itu menimbulkan kesan menyeramkan.


"Padahal namanya pedang bumi, kok mereka mengatakan pedang neraka?" Nehan kembali memasukan pedang itu ke sarungnya.


"Uhuk." Nehan langsung terjatuh dan memuntahkan darah segar dari mulutnya.


"Nehan." Nindiya yang berada tidak jauh melesat mendekatinya.

__ADS_1


"Sudah. Tidak apa apa." Meskipun begitu, tetap saja membuat Nindiya cemas.


Nindiya memapah Nehan yang tertunduk berlutut di tanah. Wajahnya pucat, walau tidak terlihat oleh orang lain. Karena malam hari, orang orang sekitar tidak terlalu memperhatikan. Tetapi setelah mereka mendekat, mereka pun sadar.


"Astaga. Nehan." Gayatri yang mengalami luka serius masih khawatir. Bagaimana dengan janjinya? Ia berjanji pada Lokahita. Ia akan menjaga Nehan. Tetapi dengan mata kepalanya sendiri, ia tidak bisa berbuat apa apa.


"Ibu tenanglah. Kak Nehan pasti tidak apa apa. Mari kita masuk kedalam." Kirana menenangkan ibunya yang terlihat khawatir.


"Baiklah Kirana. Bawa ibu ke dalam. Kurasa ibu juga perlu pertolongan."


Mereka semua masuk ke dalam. Tentu saja prioritas mereka adalah memulihkan kekuatan mereka. Lelah sudah tentu, apalagi mereka bertarung dalam keadaan gelapnya malam. Hanya obor obor yang menjadi penerangan. Sementara kedua pendekar sepuh menggunakan mata batinnya untuk bertarung dalam kegelapan. Untuk menggunakannya pun memerlukan tenaga dalam yang amat besar.


"Semoga saja mereka tidak kembali."


Belum ada yang tahu kekuatan apa yang terdapat dalam pedang bumi. Apa konsekuensi orang yang menggunakan pedang itu. Ini masih menjadi misteri.


Sebenarnya pedang itu bukan tidak bisa digunakan. Tetapi menurut legenda, ada sebuah kitab yang keberadaannya pun tidak diketahui dengan pasti. Dalam kitab itu tertulis lengkap tentang pedang langit dan bumi.


"Entahlah. Aku hanya tahu, kalau pedang bumi, hanya bisa digunakan oleh seseorang yang tidak mempelajari tenaga dalam. Karena aku mendengar, banyak pemakai pedang bumi sebelumnya, mati karena tenaga dalamnya terserap habis." Setidaknya itu yang mahadri tahu.


"Apa sebelumnya ada yang bisa menggunakannya?" Tanya dewandaru lagi.


"Ada."


"Siapa?"

__ADS_1


"Orang itu bernama Wardana Hadinata."


"Hmmm... Apa? Hadinata?"


"Iya. Apa kau tahu orang itu? Dia sudah menghilang lebih dari dua puluh tahun lalu. Entah sudah tiada atau entah kemana."


"Apakah Nehan ada hubungannya dengan orang itu?"


"Entahlah."


Kedua pendekar sepuh hanya saling memandang. Keduanya mengurut dagu bersamaan. Sesuatu yang masih misteri yang belum terpecahkan. Berpikir pun tidak ada gunanya. Karena rahasia pedang bumi tidak dapat dipikirkan oleh orang yang bahkan tidak tahu asal usulnya.


"Bukankah Nehan itu muridmu? Bagaimana kau tidak tahu?"


"Entahlah. Dulu aku menemukannya bersama wanita itu. Mereka, tubuh mereka penuh dengan luka." Ia menerawang mengingat masa lalunya.


"Maksudmu, kau menemukannya bersama Gayatri?"


"Iya. Kemudian, beberapa tahun kemudian, wanita itu menikah dengan warga desa ini. Dan melahirkan seorang anak yang cantik. Tetapi sifat anak dan ibu sungguh berbeda."


"Hmmm. Kurasa kita harus menyelidiki siapa Nehan sebenarnya. Bukan tidak mungkin kalau ia adalah anak Wardana Hadinata."


"Yah bisa saja." Keduanya manggut manggut.


***

__ADS_1


__ADS_2