Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Flashback Masa Lalu


__ADS_3

"Nindiya, kamu pergilah ke rumah kakekmu. Di sana kamu akan aman dan tidak akan ada lagi gangguan," kata Daniswara pada Nindiya.


"Ayah, tapi aku takut." Nindiya kecil yang ketakutan karena sebelumnya ia melihat kejadian yang sangat menakutkan baginya. Apalagi ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana ibunya tersenyum padanya setelah menebas lehernya sendiri.


"Ibu bagaimana, ayah?" tanya Nindiya saat tidak menemukan ibunya di antara yang lain. Sementara gadis kecil itu hanya menangisi semua yang telah terjadi.


Daniswara telah membunuh semua pendekar yang membuat desa mereka hancur dan penuh dengan api yang membakar. Dengan menggendong sambil terus membantai semua pendekar yang telah membuat keonaran.


"Ibu di mana, Ayah? Aku mau ketemu sama ibu. Ohh, ibu ... huhuhu, di mana kamu? Di mana ibu berada, Ayah?" Kembali gadis itu terus bertanya keberadaan ibunya.


Namun sang ayah tidak menjawabnya. Ia membujuk sang anak untuk pergi. Mencoba menenangkannya. Karena ia tidak bisa meninggalkan desa. Karena tanggung jawab atas keselamatan desa. Dengan rasa menyesal, ia terus membunuh di depan anaknya sendiri yang belum siap melihat semuanya.


"Dengarkan, Nak. Kakekmu adalah seorang pendekar hebat. Dia adalah seorang guru sekaligus sosok kakek untukmu. Dan ayah akan mengirim kamu ke sana. Hiduplah dengan baik dengan bimbingan kakek! Kamu akan menjadi wanita yang tanguh dan membela kebenaran, di manapun kamu berada."


Dengan tenaga dalamnya, sang ayah menggunakan ajian yang memungkinkan penggunanya melakukan teleportasi. Ia dapat memindahkan makhluk hidup ke tempat lainnya yang letaknya jauh.


***


Kenangan itu yang selalu menghantuinya. Dan saat mimpi dan ingatan, kejadian lima belas tahun lalu, ia selalu merasa ketakutan. Bahkan ia tidak tahu mengapa ia selalu ingat dan hampir setiap malam bermimpi tentang kejadian itu.


Hingga diumurnya yang telah berusia dua puluh tahun ini, ia tak berani tidur sendirian. Ia akan meminta sang kakek menemaninya atau saat tidak ada, ia akan memeluk kelinci peliharaannya.


"Ayah, ibu. Semoga kalian tenang di alam sana." Nindiya hanya terdiam di depan tungku dan menaruh kayu bakar lagi ke dalam tungku tersebut.

__ADS_1


Nindiya menghapus air matanya yang keluar. Terlalu sedih tuk mengingat semua kenangan kenangan buruk tersebut. Ia tidak tahu, mengapa takdir begitu kejam. Ia hanya ingin hidup bahagia. Andaikan ia dapat memutar waktu. Ia pasti akan melakukannya.


***


Di dekat sungai, Nehan tengah membakar ikan yang baru ditangkapnya. Ia sesekali melihat wanita yang berada di atas pohon sedang tiduran. Tiba tiba turun dari pohon dan mendekatinya.


"Apakah ikannya sudah matang, Nehan?" tanya Gayatri pada Nehan, setelah mencium aroma harum dari ikan yang dibakar keponakannya itu.


"Sudah matang, Bi. Mari kita makan ikan bakarnya." Lalu Nehan pun menyerahkan satu ikan bakar yang telah matang pada wanita paruh baya itu.


Wanita itu menerima ikan bakar dari Nehan dan segera menyantapnya dengan rasa nikmat. Sebagai seorang pendekar wanita, ia kadang bengis dan tanpa ampun. Dan kadang ia lembut jika mengingat masa lalu atau melihat gadis yang kesepian dan terlihat sedih. Siapa saja yang mengusiknya, maka harus membayar atas perbuatannya. Siapa yang dilihatnya bersedih, seakan ikut bersedih juga.


Nehan yang mengikutinya, akan selalu dilindungi. Dan hanya pemuda itu yang ia percaya selain anaknya sendiri, untuk saat ini. Karena Nehan yang membuat hidupnya kini lebih bersemangat. Sedangkan para saudarinya telah menghianatinya. Mereka memilih untuk bergabung dengan pendekar aliran hitam.


Masa lalu Gayatri yang kelam, menjadikan karakternya sebagai wanita yang keras. Walau ia tidak mengakui sebagai orang baik, tapi Nehan menganggapnya orang yang sangat baik. Terlepas dari apa yang telah wanita itu lakukan padanya.


Wanita tersebut melihat wajah Nehan. Ia tersenyum mengingat dirinya di masa lalu. Ia satu perguruan dengan ibunya Nehan. Dan satu-satunya orang yang dianggapnya baik.


Lima belas tahun yang lalu, disebuah perguruan bela diri. Seorang wanita yang menyembunyikan anaknya. Karena aturan perguruan. Semua murid tidak diperbolehkan menikah. Hanya saja, Lokahita yang melanggar aturan, menikah sampai memiliki seorang anak.


Di perguruan 'Gendani Ireng' semua murid adalah wanita. Dan tidak ada lelaki yang diperbolehkan masuk. Bahkan jika ada, maka hukuman pancung telah menantinya. Saat itu, Lokahita telah memiliki anak. Karena sebuah tragedi, Lokahita terpisah dari perguruan dan ia menikah dengan seorang yang menolongnya. Dia memiliki seorang anak yang telah berusia delapan tahun. Tepatnya ia berpisah dengan perguruan sampai sepuluh tahun.


Namun salah satu murid perguruan mengetahuinya. Segera sang murid melapor pada ketua. Dan saat itu pula, Lokahita yang telah bersama seorang anak ditangkap dan dibawa ke perguruan.

__ADS_1


"Lokahita, apakah kau tahu apa kesalahanmu?" tanya ketua perguruan dengan wajah menyeringai.


"Aku tidak pernah merasa bersalah," balas Lokahita tanpa menunjukkan kesalahan yang memang tidak pernah ia lakukan. "Apanya yang bersalah? Apakah aku telah bersalah karena mencintai?"


"Kau! Kau bersalah karena telah mencintai dan sampai menikah. Dan bahkan kamu saat ini memiliki anak. Dan kau tidak mengakuinya, bukan?"


"Tapi ini aku sangat mencintai pria itu. Di saat ketua perguruan dan murid yang lain tidak dapat menyelamatkanku, dialah pria yang telah menolongku. Karena pertolongan darinya dan hidup bersama dirinya, saat itulah, perasaan cinta itu semakin tumbuh. Dan hahaha, aku bahkan menikah dan punya anak darinya.


Tak ada penyesalan yang dikatakan oleh Lokahita. dirinya sudah sangat bahagia, dengan apa yang pria itu lakukan terhadap dirinya. Dalam hidupnya, ia tidak lagi percaya dengan kekuatan yang hanya bisa menindas dan mengatakan kesalahan yang ternyata itu adalah sebuah kenikmatan dunia. Dan Lokahita telah menerima banyak sekali penderitaan saat berada di perguruan. Namun kebahagiaan saat bersama seorang pria yang tulus mencintainya.


"Kau masih bisa beralasan. Kau ini murid Perguruan 'Gendani Ireng' dan ada aturan yang menegaskan, tidak boleh menikah apalagi punya anak."


"Ketua, maafkan atas kelancanganku. Tapi kasihan dia. Lokahita mungkin telah terperdaya. Kita harus membuatnya kembali seperti semula dan maafkan dia dan anaknya." Seorang wanita mendekati Lokahita dan merasa iba.


"Kau? Apakah kau tahu, apa kesalahan adik perguruanmu ini, Gayatri?" tanya ketua perguruan dengan ledakan amarah sangat tinggi.


"Ketua. Maafkanlah dia. Saya yakin kalau dia tidak akan membuat kesalahan lagi, di masa depan."


"Apa kau bilang? Memaafkannya itu membuat murid-murid lain akan bertindak lancang sepertinya. Dan tidak akan ada yanh peduli akan semua peraturan," ucap sang ketua dengan geram.


"Lalu, saat aku dalam kesusahan, kalian ada dimana? Kalian malah meninggalkanku, tanpa ada yang menolongku! Yang menolongku bahkan seorang yang tidak kukenal. Itu biowj kalian yang menolong aku yang dalam bahaya!" Lokahita tak menahan kata katanya.


Memang benar. Saat Lokahita dijadikan sandera, mereka hanya melihatnya dengan sinis dan meninggalkannya. Dan hanya satu orang yang peduli. Tapi tak bisa berbuat apa apa karena dilarang membantu oleh sang ketua.

__ADS_1


***


__ADS_2