Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Jebakan Yang Gagal


__ADS_3

Sekar menuruti perintah sang guru untuk menemaninya kembali ke rumahnya. Karena memang bahan obat yang diperlukan berada di sana. Hal itu yang membuat Sekar mengeluh. Setelah sampai di tempat pertama kali Nehan harus menutup matanya dengan kain. Sekarang Nehan baru melepas kain itu dari matanya.


"Sekarang kamu tunjukkan rumahmu di mana! Aku tidak punya banyak waktu untuk meladenimu!" tukas Sekar.


Nehan masih bersedih karena mengingat masa lalu. Membuat Sekar tidak tega melihatnya walau ia tidak tahu apa alasan pemuda itu bersedih tiba-tiba, setelah mendengar cerita dari gurunya.


"Kau harus memakai ini juga! Karena kamu tidak boleh tahu di mana rumahku!" sahut Nehan yang sudah kembali seperti sedia kala.


Nehan melemparkan kain yang digunakan untuk menutupi matanya ketika akan masuk ke dalam perguruan Bukit Lebah Hitam. Namun balasan Sekar hanyalah decakan kecil. Ia tidak ingin melakukan sesuatu yang sama seperti Nehan melakukannya.


"Kenapa? Kamu tidak mau memakainya? Baiklah ... saat nanti aku ke perguruan kamu kembali, aku tidak akan memakai itu juga. Seharusnya kita adil, gitu. Tetapi mengapa kalian murid dari apa tadi? Lembah ... eh, bukit. Apa tadi yah? Aduh aku kok mendadak pikun, yah?"


"Kamu mau aku bunuh, hah? Grhhh!" geram Seruni, menodongkan pedangnya ke arah leher tabib itu.


"Eits! Cantik-cantik tapi galak banget, yah! Kalau aku mati tidak masalah. Tapi ada orang yang membutuhkan aku. Jadi aku belum mau menyusul istriku sebelum menyelamatkan orang." Tiba-tiba ia mengingat perkataan guru dari perguruan Bukit Lebah Hitam itu. Ia kembali melamun dan berjalan dengan cepat.


"Hei, tunggu! Memangnya kamu punya istri? Kamu ini suka sekali menghayal, yah!" pekik Sekar. Ia melompat melewati Nehan. Lalu kembali menodongkan senjatanya tanpa melepaskan dari sarung.


Namun bagaimana Nehan melihat wanita itu dengan tatapan kosong. Pemuda itu tetap berjalan tanpa perduli apa. Ia tahu kalau Sekar tidak mungkin membuat dirinya dalam bahaya. Karena adiknya membutuhkan pengobatan darinya.


Nehan berjalan melalui semak belukar dan membuat Sekar risih dan menghunuskan pedangnya untuk memotong jalan. Sementara ia melihat Nehan seperti tidak perduli dengan tubuhmu. Ia tetap berjalan dengan lurus, melewati tanaman berduri.

__ADS_1


"Itu tabib kenapa aneh sekali? Ini kenapa jalannya lewat ke sini, sih?" keluh Sekar sambil berusaha memotong tanaman yang mengganggu perjalanannya.


Tak seberapa lama kemudian, mereka melewati jalan yang normal. Itu membuat Sekar merasa lega karena tidak seperti yang dilihatnya tadi. Wanita itu menyarungkan kembali pedangnya.


"Di sini ada jebakan! Jadi kalau mau lewat jalan ini, kamu harus waspada! Di atas sana, ada dua manusia kunyuk yang sedang mengintai di atas pohon," terang Nehan.


Nehan melihat Sakha dan Purwa yang sedang berada di dahan pohon. Mereka berada di pohon yang berbeda, dengan saling berseberangan. Sementara jaring yang terlihat jelas di atas jalan.


Saat Nehan dan Sekar sudah berada di bawah jaring, segera Sekar menghunus pedangnya, memotong jaring dengan mudah, membuat dua anak muda yang sering membuat kerusuhan itu melongo.


"Dasar mainan anak-anak kecil. Bagaimana kau sebut ini sebagai jebakan, hah?" ungkap Sekar dengan mengejek Nehan.


Sekar sangat percaya diri karena dirinya tidak terkena jebakan dari Sakha dan Purwa. Namun beberapa saat kemudian, ia menginjak sebuah tali. Dan kemudian meluncur sebuah kayu besar ke arahnya. Ia tidak sempat menghindar karena tidak waspada. Dirinya terlalu percaya diri, tidak akan terkena jebakan lagi.


"Huh, apa kau sebut ini main-main, hah?" ungkap Nehan pada Sekar. "Tuh, dua orang pelakunya ada di atas! Kau beri mereka pelajaran!" perintah Nehan.


Setelah mengambil nafas panjang, Sekar melesat dengan cepat ke arah Sakha. Ia membanting pemuda itu ke tanah. Sementara ia melanjutkan dengan menarik Purwa. Sama seperti Sakha, Purwa juga mengalami kejadian yang membuat tubuh mereka seakan remuk sampai ke tulang. Terbanting di tanah yang keras membuat mereka mengerang kesakitan.


"Ampuuun! Kami nggak akan lagi-lagi," kata Purwa yang menahan sakit di lengan dan bokongnya.


Sementara Sakha sudah tidak bisa berbicara lagi. Badannya ditindih oleh Purwa. Membuatnya semakin sakit dan tidak bisa mengeluarkan suara. Melihat itu, Sekar tersenyum senang. Ia tidak pernah habis pikir, hanya dengan jebakan itu, nyawanya terancam.

__ADS_1


"Kalian sungguh merencanakannya? Sungguh luar biasa sekali! Heh, sayang sekali kalau nasib buruk akan menimpa kalian berdua. Untuk itulah, sebaiknya kalian berdua harus mempertanggungjawabkan perbuatannya ke akhirat sana!"


Untuk meredakan amarahnya, Sekar ingin membunuh dua pemuda yang menggangu dirinya. Ia mengarahkan pedangnya kepada dua pemuda usil itu. Namun Nehan dengan sigap melerainya. Ia menangkap tangan wanita itu.


"Kamu mau membunuh orang? Apakah ini yang diajarkan oleh gurumu? Seorang pendekar itu seharusnya melindungi yang lemah, kenapa harus membunuh orang. Mungkin mereka hanya iseng dan ingin bermain-main. Namun caranya saja yang salah. Jadi tolong pertimbangan sekali lagi apakah dengan membunuh, masalah akan cepat selesai?" pungkas Nehan.


Perkataan Nehan bukan perkataan dari orang gila. Jelas itu adalah perkataan orang yang normal. Karena emosinya, Sekar ingin membunuh Sakha dan Purwa. Namun tidak habis pikir, dirinya yang tidak kenal dengan mereka harus mengalami kejadian seperti itu.


"Tolong, Nehan ... aku tidak akan berbuat seperti ini lagi kalau kamu mau menolongku. Lihat Sakha, dia sudah tidak bisa apa-apa lagi. Aku menyesal karena telah mengerjaimu. Tapi kami tidak pernah mendapat pembalasan seperti ini sebelumnya. Ini benar-benar sakit." Purwa sangat kesakitan dan ia tentu tahu kalau temannya lebih kesakitan lagi.


Nehan menggelengkan kepalanya pelan lalu mengangkat tubuh Purwa ke bawah pohon. Lalu ia mengurut tangan Purwa sebentar. Ia lalu mengalihkan pandangan ke arah Sakha. Ia juga mengangkat pemuda itu ke arah pohon yang sama dengan temannya.


"Kalian tahu, kalau kayu itu mengenai orang? Pasti orang itu akan mati. Coba bayangkan kalau kalian yang kena jebakan kalian ini! Bagaimana dengan itu? Kalian akan mati sendiri, kan?"


Nehan bermaksud mengobati keduanya. Dengan melihat ke sekeliling, ia menemukan tanaman yang bisa digunakan sebagai obat. Seperti tanaman lamtoro untuk mengobati luka lecet. Dengan menumbuk di atas batu, ia lalu mengoleskannya pada luka itu.


"Aku tidak mungkin membawa kalian berdua. Tapi ini ada obat dan jangan lupa diminum untuk dua kali sehari. Pagi dan sore hari. Dalam tiga hari, kalian akan sembuh," tandas Nehan.


"Terima kasih, Nehan. Kami tidak berniat jahat, hanya saja kami ingin mengalahkan kamu. Tapi kami sering kalah olehmu. Bagaimana kami sebaik dirimu yang lebih ahli membuat perangkap?" tutur Purwa.


Setelah memberi obat pada Sakha dan Purwa, Nehan dan Sekar melanjutkan perjalanan. Meninggalkan dua pemuda yang tergeletak di bawah pohon pala.

__ADS_1


***


__ADS_2