
Chapt 39
Ahli perangkap tidak mengandalkan ilmu Kanuragan untuk mengalahkan musuhnya. Tetapi ahli perangkap akan menggunakan keahliannya untuk mengalahkan musuhnya. Tentu saja tempat tersebut harus diketahui secara detai oleh sang ahli perangkap.
Ahli perangkap tidak bisa menggunakan perangkapnya jika ia tidak pernah atau tidak tahu seluk beluk lokasi. Kekurangan orang orang yang menggunakan perangkap adalah waktu. Beberapa waktu yang diperlukan untuk menyiapkan perangkap tersebut, tergantung dari jenis perangkap, bahan dan keahliannya pembuat perangkap tersebut.
"Apakah di hutan ada perangkapnya?" Bayu yang telah mendengar penjelasan Kirana memberanikan diri untuk bertanya.
"Entahlah. Mungkin ada. Tetapi aku nggak tahu bagaimana ia memasang perangkap perangkap tersebut. Aku hanya pernah lihat, ia membawa banyak bambu, kayu dan beberapa benda lainnya ke dalam hutan. Tak jarang pula, aku melihat benda benda seperti panah, dan kurasa banyak perangkap yang ia ciptakan." Kirana mencoba mengingat ingat.
"Jadi, apakah di desa ini juga ada perangkap?" Kini indera pun penasaran. Setidaknya jika ada perangkap di desa, maka dia harus berhati hati.
"Yah mungkin saja. Kurasa aku pernah lihat dia menggali lubang di tanah. Kurasa banyak perangkap disini."
"Wah... Kita harus hati hati." Bayu dan Indera bergidik ngeri.
Mereka mengingat bagaimana pagi tadi, mereka melihat mayat salah seorang ninja dengan berbagai luka yang mengerikan. Sekujur tubuhnya dipenuhi luka sayatan. Juga kakinya tertembus besi yang sangat tajam.
"Mengerikan." Inilah kesimpulan yang di ungkap Bayu.
"Yah. Kurasa memang orang itu bukan orang sembarangan. Kita tidak bisa menyinggungnya." Indera berusaha menyembunyikan kerisauannya.
"Apa kalian takut?" Kirana melihat kedua pemuda tersebut merasa ketakutan.
"Tidak!" Jawab keduanya. Mereka harus bersikap biasa saja. Walau sebenarnya mereka merasa ngeri membayangkan apabila senjata rahasia atau perangkap yang mengenai mereka.
__ADS_1
"Tenanglah. Kak Nehan orang baik. Tetapi sebaiknya kalian hati hati di tempat ini. Bisa saja kalian kehilangan nyawa, jika kalian mencurigakan." Kirana menatap kedua pemuda yang kini merasa panik.
Keduanya saling pandang. Senyuman getir mereka terlihat oleh Kirana. Tentu mereka tidak dapat menyembunyikannya.
"Hei. Apa yang kalian lakukan!" Dari arah bawah, mereka mendengar Puteri Padmasari berteriak.
"Ohh tuan Puteri. Kami sedang melihat pemandangan. Disini bagus." Jawab Bayu.
"Ooh... Baiklah. Masih ada tempatkah buatku? Aku ingin naik. Bolehkah?" Pintanya. Walaupun ia seorang Puteri kerajaan, tetapi ia harus tahu tempat.
Ini bukan wilayah kerajaannya. Karena desa Guntur tidak termasuk dalam wilayah kerajaan. Maka ia harus tahu diri. Disini ia bukan siapa siapa. Ia hanyalah pendatang atau tamu.
"Naiklah Puteri." Kirana tersenyum. Ia sebenarnya sudah merasa bosan. Ini hampir siang. Tetapi ia belum turun untuk sarapan. Dari bangun tidur ia langsung naik ke atas menara.
"Apa perlu ku bantu?" Indera menawarkan bantuannya.
"Tidak. Tidak perlu. Aku bisa sendiri. Tunggu disana." Dengan segenap kekuatannya, ia berusaha menaiki tangga. Walau kakinya gemetar dan keringat dingin mengucur dari dahinya.
Pantas saja , ini pertama kalinya sang Puteri melakukan hal demikian. Pertama kalinya ia memanjat tangga. Tentu ia merasa takut. Tetapi ia tetap berusaha menghilangkan rasa takutnya.
"Aku harus bisa." Ucapnya memberi semangat untuk dirinya sendiri.
Akhirnya sang Puteri pun sampai ke tempat tujuan. Ia bernafas lega karena ini adalah pencapaian yang menurutnya perlu dirayakan. Seharusnya ia beristirahat sejenak, namun ia terpukau ketika ia melihat pemandangan di bawahnya.
Dari tempat yang tinggi, ia bisa melihat seluruh desa. Sekali lagi orang yang kagum dengan pemandangan tersebut.
__ADS_1
"Wahh... Ini keren." Ia tak henti hentinya mengagumi pemandangan tersebut. Sensasi yang membuatnya terlena dan melupakan lelahnya, ketakutannya.
"Puteri." Bayu dan indera memberi hormat.
"Tidak usah sopan seperti itu." Ucapnya. Ia masih fokus melihat pemandangan karena belum puas.
"Kirana. Kamu dimana?" Seseorang dari bawah berteriak mencari cari keberadaan Kirana.
"Ibu. Aku disini." Jawabnya. Ia melihat Gayatri sudah berdiri dan memandang ke arah Kirana berada.
"Kamu turun nak. Kamu kemana saja sih?" Gayatri menunggu puterinya turun.
"Maaf yah... Puteri, Bayu, Indera. Aku turun dulu. Kalau kalian masih mau di sini, kalian nikmatilah pemandangan."
Kirana turun dari menara bambu tersebut. Ia segera turun melalui tangga. Sementara Gayatri yang selalu sabar untuk menunggu sampai akhirnya Kirana tengah berada di bawah.
"Ayo makan. Kamu belum makan kan?" Ajak Gayatri menarik tangan Kirana.
"Eh iya Bu. Tapi mereka nggak diajak juga?" Kirana menengok ke atas.
"Sudah. Mereka pasti sudah makan. Isterinya kakak kamu yang masak. Kita cicipi masakannya. Bagaimana?"
"Oohh... Yaudah. Ayo bu. Aku juga udah laper." Kirana memegangi perutnya yang belum terisi makanan.
***
__ADS_1