
Chapt 61
Seorang perempuan yang tidak pernah melihat keramaian, sekarang ia telah berada di keramaian. Sekarang ia sedang memegang tangan seorang pemuda yang sudah menjadi bagian hidupnya itu.
Pagi pagi sekali, Nehan mengajak Nindiya pergi ke desa Papringan. Desa terdekat yang bisa ditempuh paling cepat. Nehan yang menggendong pedang dan membawa bungkusan bahan herbal. Niatnya, ia akan menjual bahan obat obatan tersebut ke pasar.
"Wahhh... Banyak orang disini." Nindiya terpana dengan berbagai aktivitas di pasar desa Papringan.
"Ayo." Nehan menarik tangan Nindiya. Tak ingin isterinya tersesat.
Hari ini pasar sangat ramai. Banyak pria dan wanita saling berdesakan satu sama lain. Begitupun Nehan dan Nindiya. Mereka terpaksa ikut berdesakan untuk menjual obatnya. Nehan membawa Nindita ke rumah tabib terdekat. Memang letaknya tidak jauh dari pasar.
"Kita mau kemana?" Tanya Nindiya.
Sebenarnya Nindiya ingin melihat lihat sekeliling. Tetapi tangan Nehan yang membawanya, karena khawatir Nindiya akan tersesat.
"Kita akan ke rumah tabib." Jawab Nehan.
"Apa kita tidak bisa kesana?" Nindiya menunjuk suatu tempat yang menarik.
Tetapi tidak untuk Nehan. Ia sebenarnya ingin sekali mengantar atau menemani kemanapun Nindiya pergi. Tetapi ia harus mendahulukan prioritasnya. Ia sedang membawa bahan obat obatan. Yang cukup banyak. Tidak memungkinkan untuknya mengikuti Nindiya.
"Iya. Aku janji. Kita akan kesana nanti. Tapi aku harus mengantar semua obat obat ini." Ia mengangkat kantong berisi bahan herbal.
"Benarkah? Baiklah... Kamu udah janji yah." Nindiya berbinar. Ia hanya perlu bersabar.
"Iya. Saya janji. Nanti kita akan kesana. Pegang tanganku. Takut kamu tersesat. Disini ramai dan kamu juga tidak tahu tempat ini bukan?" Tanya Nehan.
"Iya. Ayo cepet. Aku pengen ke tempat itu." Nindiya mendorong Nehan agar berjalan lebih cepat.
Nehan pun mempercepat langkahnya. Diikuti Nindiya yang tengah tersenyum. Ia sudah dari dulu ingin menemui dan menjelajahi dunia luar. Tapi baru kali ini kesampaian.
Selama tinggal dengan kakek Mahadri, ia jarang sekali ke pasar. Walaupun pasarnya sama, akan tetapi yang membedakan adalah orang yang bersamanya.
"Kula nuwun?" Ucap Nehan. Saat tiba di rumah tabib yang nampak sepi.
"Mangga." Dari dalam, keluarlah seorang pria paruh baya. Ia membukakan pintu untuk Nehan.
"Ooh nak Nehan. Mari masuk." Ajak sang tabib.
__ADS_1
"Oh iya paman. Tapi maaf paman, kami hanya sebentar." Ujar Nehan.
"Ooh..." Sang tabib melihat Nindiya sekilas. Dan Nehan yang sadar itu, memperkenalkan Nindiya pad tabib tersebut.
"Oh paman. Maaf, ini isteri saya. Namanya Nindiya." Nehan mempersilahkan sang tabib untuk berkenalan dengan Nindiya.
"Hai paman." Ucap Nindiya.
"Ooh... Kau sudah menikah, nak? Wah, isterimu sangat cantik." Puji sang tabib. Dipandangi wajah Nindiya dengan tersenyum.
"Terima kasih paman. Tapi ini obatnya. Isteri saya ingin jalan jalan ke desa ini katanya." Ungkap Nehan.
"Baiklah, saya maklumi aja. Anak muda pengantin baru." Ucap sang tabib.
"Paman?" Nindiya tersenyum malu.
"Paman. Kami pamit dulu. Mari paman."
"Silahkan." Tabib itu mempersilahkan Nehan dan Nindiya pergi.
"Ayo. Kamu mau kemana?" Nehan mengajak Nindiya jalan jalan.
"Makan. Aku lapar." Nindiya memegangi perutnya.
Nehan membawa Nindiya untuk makan di warung makan terdekat. Mereka memesan nasi beserta laiknya. Mereka pun menikmati makanan mereka.
"Hei nona manis... Boleh ikut gabung? Hehehe." Segerombolan pendekar yang terlihat sangar mendekati Nindiya.
"Maaf, ada urusan apa kisanak ini?" Tanya Nehan.
"Hei. Kami tidak ingin berbicara denganmu. Kami hanya ingin menyapa nona cantik ini. Hmm?" Tampangnya yang mencoba menggoda.
"Nehan? Siapa mereka?" Nindiya mendekatkan diri kepada Nehan.
"Entahlah. Saya tidak tahu. Tetapi kayaknya mereka bermaksud tidak baik."
Neham merasa para pendekar yang membawa senjata golok dan pedang di hadapannya, adalah preman preman pasar.
"Sebaiknya kau tinggalkan kami bersama nona cantik ini." Para pendekar tersebut, menatap Nindiya penuh nafsu.
__ADS_1
"Sebaiknya kalian yang pergi." Balas Nehan.
Nehan sama sekali tidak takut kepada para penjahat penjahat tersebut. Bukan karena ia percaya Nindiya bisa mengalahkan mereka semua, tetapi memang ia memiliki kepercayaan diri yang tinggi.
"Kau berani anak muda. Beraninya kau melawanku." Ucap pria tersebut.
"Hei... Lawan kalian adalah kami." Tiba tiba Bayu sudah berada di belakang pendekar pendekar pemberontak itu.
"Kau?" Para pendekar tersebut langsung menyerang Bayu yang bersama indera, Jumantara dan Gemani.
"Trrang! Trang Trang!" (Anggap aja suara pedang saling berbenturan)
Pertarungan delapan melawan empat orang. Dimana mereka harus melawan masing masing dua orang. Namun karena lawan Bayu dan kawan kawan adalah pendekar kelas rendah, dengan mudah, mereka dikalahkan.
"Kita berjumpa lagi." Bayu menyapa Nindiya dan Nehan.
"Terima kasih bantuan kalian." Ucap Nehan dan Nindiya barengan.
"Ehh... Kalian bahkan menjawabnya bersamaan?" Telisik Bayu.
"Sudahlah bayu. Tak usah kau usik pengantin baru itu." Cegah indera.
"Iya iya." Sahut Bayu.
"Eh iya. Kami sampai lupa. Kalian berkenalan lah sendiri." Bayu malah menatap Jumantara dan Nehan bergantian.
Singkat cerita, mereka pun berkenalan. Indera dan Bayu, sebey juga ingin mengajak Nindiya dan Nehan untuk bergabung dengan mereka untuk mencari Puteri Padmasari. Akan tetapi, Nehan tidak mau ikut dalam misi tersebut.
Bukan karena ia bukan termasuk warga di kerajaan Lokapraja. Tetapi ia tidak ingin terlibat dalam dunia persilatan. Bagi Nehan, tidak ada pendekar golongan hitam atau golongan putih. Karena baginya, bisa jadi orang dari golongan hitam, orangnya baik dan suka membantu. Kadang pula, yang mengaku dari golongan putih, tetapi tingkah laku sepert binatang.
Di dunia ini, tidak ada yang bisa dikatakan dari golongan putih atau dari golongan hitam. Tetapi semua manusia, dilihat dari hatinya masing masing. Apabila hatinya rusak, maka rusaklah semua anggota badan.
Apabila hatinya dekat dengan pencipta, maka Sang Pencipta juga akan mendekat padanya. Inilah pikiran yang selalu Nindiya ingat saat Nehan mengatakan itu.
***
*Lagi males buat nulis, Tetapi hati ini tidak tenang jika sehari tidak up chapter.
mungkin perchapternya masih terlalu bpendek.
__ADS_1
Mohon maaf karena otak author ini lagi gak mos buat nulis*
**"