
Nehan sudah mencari keberadaan Sekar di sekitar rumahnya. Karena ia khawatir karena tidak melihatnya sejak ia ke dapur. Tabib itu menuju ke kamar di mana ia merawat seorang wanita di kamarnya. Setiap hari ia memberikan minum dan makan, makanan yang langsung bisa dicerna. Seperti bubur yang sudah ia siapkan.
"Kau bangunlah! Setelah kamu makan, aku akan mencari pendekar tidak tahu diri itu," ujar Nehan. Ia memposisikan wanita itu agar duduk. Lalu ia suapkan bubur padanya.
Wanita itu dengan tenang menerima makanan cair yang bisa langsung ditelannya. Dengan lembut, Nehan menyuapi dengan tenang. Sempat berpikir kalau ia memiliki hubungan dengan wanita yang ia rawat itu.
"Kuharap kau segera sembuh. Karena aku tidak ada banyak waktu untuk mengurus orang sakit sepertimu. Aku harus mencari seseorang. Mungkin sudah tidak bisa menemukan dirinya lagi atau kabar itu benar. Tapi kenapa aku berharap orang itu adalah kamu? Apakah kamu tahu? Ah, sudahlah ... aku jelaskan saja kau tidak akan tahu. Kau istirahat saja sampai kau bisa makan sendiri."
Setelah makanan habis, tabib itu lalu meninggalkan wanita itu di kamarnya. Ia menaruh piring ke dapur lalu mengurus obat terlebih dahulu karena akan ditinggal. Ia juga tidak bisa kembali ke perguruanmu Bukit Lebah Hitam. Karena tidak tahu arah ke sana. Tapi tugasnya untuk mengobati orang, membuatnya resah kalau belum terselesaikan.
Nehan keluar dari rumah dengan membawa sebuah tas di punggungnya. Setelah menemukan Sekar, ia ingin segera menuju ke perguruan Bukit Lebah Hitam itu. Walau para wanita itu sangat galak, ia senang melihat wanita-wanita cantik yang ada di sana.
Butuh waktu sampai malam ia membiarkan api itu menyala. Hingga ia kembali malam hari pun tinggal mengangkatnya.
***
Sekar tidak bisa lari dari situasi dalam bahaya. Bagaimana bisa lari? Dirinya dikepung oleh tiga pendekar yang memiliki stamina yang seakan tidak ada habisnya. Ia sudah dari siang disiksa dengan senangnya oleh para pendekar dari Lembah Kematian.
"Hahaha! Kuakui kau memang begitu berstamina. Apakah kau bisa melewati malam ini bersama kami? Ini sudah sore hari, kamu sudah main-main dengan kami dari siang. Apa kamu masih mau lanjut? Ayo angkat pedangmu, Cantik." Pendekar dengan senjata rantai itu lalu memutar-mutarkan rantainya di atas kepalanya.
"Sepertinya dia sudah tidak mau menjawab? Ah, sudahlah ... dia tidak mungkin bisa mengalahkan kita semua. Eh, kita sudah menyiksanya terlalu sadis, kah? Hahaha! Rasanya seru sekali, bermain-main dengan wanita muda ini. Kuharap emaknya segera ke sini untuk menolongnya. Entah kenapa nenek peyot itu tidak ada untuk muridnya ini."
__ADS_1
"Atau dia kabur dari perguruan? Hahaha. Kau hebat sekali kalau bisa kabur dari perguruanmu. Paling karena hubungan asmara. Sayang sekali, kita tidak bernafsu sama wanita muda seperti dirimu," ujar pendekar pengguna gada besar di tangannya.
Sekar sangat menyesal karena meninggalkan rumah Nehan. Tapi ia lebih menyesal karena berurusan dengan para pendekar yang ia sendiri tidak tahu kemampuannya. Ia terlalu percaya diri dengan ilmunya yang tidak seberapa.
Tiba-tiba terdengar suara permainan seruling yang terdengar semakin lama semakin keras. Seruling itu terdengar dari berbagai arah. Yang membuat tiga pendekar hebat itu menghentikan langkah untuk menyiksa Sekar kembali.
"Hei, kalian tiga pendekar dari mana? Kalau mau, kalian bisa mencoba seruling ini, bukan? Hahaha!" tawa menggelegar terdengar dari segala arah. Seperti suara seruling itu.
"Huh, kenapa tua bangka itu terus ikut campur? Sudahlah ... sebaiknya kita tinggalkan wanita ini. Aku malas untuk menghadapi pria tua sepertinya!" tutur pendekar gada. "Ayo kita pergi!" ajaknya pada dua temannya.
Ketiga pendekar itu pun meninggalkan tempat. Memilih untuk tidak berurusan karena kakek tua yang dimaksud, sulit untuk mereka hadapi. Walau mereka ada kemungkinan menang, tetap saja karena energi telah banyak terkuras. Seruling itu juga merepotkan kalau berada di tangan pendekar itu.
"Kenapa suaranya menghilang? Apakah dia tidak akan turun dan menyelamatkanku? Uh, kenapa aku malah menunggu orang tua yang tidak dikenal?" Sekar lalu menggenggam tanah lalu meremasnya. Ia lemparkan ke depan.
Tubuhnya sudah banyak luka akibat senjata mereka. Tangannya sudah sangat lemah, tubuhnya juga sulit untuk bergerak. Tapi tidak ada seorangpun di tempat itu. Walaupun itu adalah tempat yang biasa ramai, Sekar hanya seorang diri.
Ingin meminta pertolongan, ia tidak tahu harus minta tolong pada siapa. Hanya menunggu seseorang yang mengangkatnya dan memberinya pengobatan.
"Hari ini kenapa harus direpotkan oleh pendekar tidak tahu diri sepertimu? Ini sudah mau malam. Tapi aku harus menemukan seseorang yang sama sekali tidak ada hubungannya denganku. Hei, wanita sialan! Kalau kau mau adikmu sembuh, janganlah bertingkah seolah-olah kau seorang jagoan!" cetus Nehan yang sudah di belakang Sekar.
Sekar menengok ke belakang dan tersenyum lega. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana nanti hidupnya jika tidak ada Nehan. Untungnya tabib yang ia baru kenal pagi tadi, sudah menyelamatkan hidupnya. Sebelumnya ia sendiri yang ingin membunuh tabib gila itu.
__ADS_1
"Kenapa kau baru datang? Kau kan tabib, bisakah kau mengobatiku?" pinta Sekar memohon. "Aku akan berterima kasih kalau bisa mengobatiku."
"Baiklah, kalau begitu, aku akan membuka seluruh pakaianmu. Tenang saja, aku akan memberikan pengobatan yang turun temurun dari waktu ke waktu," tutur Nehan dengan sedikit senyum.
Sekar menutupi dadanya dengan kedua tangannya. Sungguh itu akan membuatnya merasa malu. Ia adalah wanita yang tidak pernah disentuh seorang pria. Tapi mengapa ia harus memperlihatkan tubuhnya pada pria itu? Itu adalah perbuatan yang sangat mesum baginya.
Namun Nehan mengangkat tubuh Sekar segera. Membuat pendekar wanita itu kaget dan memberontak. Karena itu, Nehan pun melepaskan wanita itu. Menjatuhkan kembali ke tanah yang kering itu.
"Auww! Kau sangat jahat! Ini pantatku sangat sakit!" keluh Sekar, meringis kesakitan.
Nehan masih diam tanpa menjawab. Ia berdiri di depan Sekar dengan ekspresi datar. Terlihat pria itu menurunkan pandangannya pada wanita itu. Membuat Sekar risih dan menahan debaran jantung yang lebih cepat. Ia tidak tahu mengapa tapi merasa sesak di dadanya.
"Sebenarnya kau wanita yang menjengkelkan. Apakah kau mau aku buang saja ke sungai? Biarkan saja dimakan buaya yang siap menelan kamu mentah-mentah. Kalau tidak ingin diangkat, kau bisa berdiri?"
Kesalahan hidup Sekar adalah tidak bisa berdiri sendiri saat ini. Ia merasa sangat frustasi saat membayangkan Nehan berbuat sesuatu tidak semestinya padanya. Ia tidak ingin ternoda dan akhirnya meniggalkan perguruan yang membesarkan dirinya. Yang menjadi tempatnya tumbuh dan berlatih bela diri.
"Aku tahu kau pendekar wanita yang hebat. Tapi kehebatan yang kau miliki tidak akan berguna di dunia persilatan yang luas ini. Apakah kau hanya mengandalkan ilmu yang kau dapatkan dari gurumu? Heh, itu hanya beberapa cuil persen saja, ilmu bela dirimu."
Nehan kembali mengangkat Sekar dan membawanya pulang sebelum malam. Karena malam ini belum bisa pergi ke perguruan Bukit Lebah Hitam. Mereka harus bermalam di rumah Nehan.
***
__ADS_1