Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Nama Yang Sama


__ADS_3

Keesokan harinya, Nehan sudah merasa mendingan. Karena di hutan, ia menemukan banyak tanaman obat, yang berguna untuk penyembuhan diri, menutup luka dan tanaman anti bakteri. Seperti yang ditemukan oleh Nehan saat ini. Ia sudah mengumpulkan berbagai rempah seperti kunyit, temu, kencur, kapolaga dan banyak lagi. Ini bisa digunakan sebagai bahan obat yang berguna untuk semua orang. Pemanfaatan bahan-bahan itu, cukup efektif untuk mengobati penyakit.


Kali ini Nehan juga menemukan sebuah anak sungai kecil. Yang langsung dari mata air. Tapi kali ini Nehan merebus air dengan kendi dari tanah liat yang ia buat seharian. Tabib itu membuatkan bubur dari buah dan rempah yang dicampur. Seperti saat ini, ia menemukan buah pisang dan ada umbi jalar yang tumbuh liar.


"Huh, tanaman di sini masih sangat mudah ditemukan. Kalau tidak ada orang yang datang ke hutan ini, mungkin akan jadi seperti ini terus. Semoga dalam seminggu, kita bisa kembali ke desa untuk bisa hidup dengan baik."


Nehan merebus bahan-bahan makanan yang ia dapat dalam satu wadah. Selain itu, ia juga membuat wadah lain untuk menyimpan air minum. Sepanjang hari, pemuda itu dihabiskan untuk mencari makanan berupa tumbuhan dan hewan kecil seperti bajing atau musang. Mereka ditangkap untuk dimakan untuk meningkatkan energi. Nehan juga telah mencampurkan daging itu dan membuatnya empuk dan lembut. Maka bisa dimakan oleh wanita itu.


"Hemm ... hari ini kamu mungkin bisa melihat lagi. Dengan membuka perban di matamu, bagaimana kalau ini? Kita akan membuka perban di matamu hari ini. Mungkin ada kemungkinan, matamu sudah sembuh. Karena sepertinya matamu tidak terlalu parah. Hanya untuk tubuhmu, kita masih menunggu beberapa minggu lagi. Sabarlah ... dan yang paling lama, mungkin wajahmu yang lebih sulit. Karena bahan yang kuperlukan sudah tidak ada lagi di sini. Di hutan ini juga tidak ada bahan itu. Heh, aku menyesal karena tidak menyadari itu. Tapi semoga kau bisa cepat berjala lagi."


"Te-ri-ma ka-sih ... Ne-han," ucap wanita itu terbata. Ia menambahkan, "A-ku ... a-kan ada di si-si-mu se-la-lu ...." Meskipun kali ini ia tidak bisa berbicara dengan jelas, dirinya masih memiliki semangat untuk hidup. Itu adalah modal utamanya untuk bisa mengetahui penyebab dirinya terbakar. Selain itu, ia senang bertemu dengan Nehan.


"Pokonya kau harus sembuh terlebih dahulu! Aku akan memberikan kamu makan. Ini, buka mulut kamu! Nanti sehabis makan, akan kubuka perban di matamu, aaa!" pinta Nehan pada wanita itu agar membuka mulutnya.

__ADS_1


Nehan menyuapi wanita itu dengan makanan itu. Dirinya juga turut menikmati makanan yang sudah lembut seperti bubur itu. Makanan yang sudah ditumbuk dan direbus itu cukup membuat mereka kenyang. Walau tidak ada garam, rasa manis dari ubi jalar dan buah-buahan, cukup membuatnya berasa.


"Mmm ... ma ... nis," ucap wanita itu dengan senang. "Ka-mu juga ma-kan ...." Ia tidak bisa berekspresi tersenyum karena keadaannya saat ini. Tapi ia akan tersenyum pada saat ini ketika ia bisa.


Nehan juga menyuapkan makanan itu sendiri ke mulutnya. Mereka makan sampai perut terasa kenyang, cukup membuat mereka bisa bertahan untuk nanti siang. Setelah selesai makan, seperti janji Nehan, ia membuka kain perban yang menutupi mata. Ia membawa wanita itu ke tempat yang gelap agar tidak kaget langsung melihat dalam terang. Itu juga untuk menghindar dari mata yang sakit karena kaget setelah melihat cahaya terang.


"Ayo, aku buka perlahan, yah. Kamu siap-siap untuk melihat dunia ini lagi. Tapi kalau tidak bisa, aku minta maaf yang sebesar-besarnya. Karena aku tidak merawatmu dengan benar," ujar Nehan.


Setelah perlahan, Nehan membuka perban itu, terlihat mata itu masih menutup dan ada sebuah ramuan yang sudah mengering. Lalu Nehan menciptakan air agar membasahi ramuan yang menempel di kelopak mata. Secara otomatis, ramuan kering itu pun turun bersama dengan aliran air.


Dengan perlahan, wanita itu membuka matanya. Melihat Nehan yang tersenyum ke arahnya, melihat wajah seseorang yang amat dirindukannya. Dengan tangan yang masih dibungkus oleh kain putih, ia mengusap wajah itu. Tak sanggup untuk berkata apapun. Hanya bisa meneteskan air mata.


"Hei, kenapa menangis? Apa kamu tidak bisa melihatku, hah? Ayo, kamu jawab, bisakah kau melihatku? Oh ... dari dulu sampai sekarang, aku tidak tahu namamu. Kamu juga bisa bicara walau terbata. Kalau begitu, siapakah namamu?" tanya Nehan penasaran. Ia menggenggam tangan yang terbungkus kain itu perlahan.

__ADS_1


"Ni ... nindi-ya ..." ucapnya perlahan. "Akh ... aku–" Sebelum ia melanjutkan ucapannya, Nehan langsung memotongnya.


"Siapa? Nindiya? Oh, kamu mirip sekali namanya dengan istriku. Tapi dia sudah meninggal. Sayang sekali kalau aku tidak bisa memperkenalkannya denganmu. Kabarnya dia terbakar di rumahnya sendiri dan dikuburkan di depan rumahnya. Oh, sayang sekali kalau aku belum berkunjung ke sana. Nanti setelah kamu sembuh, aku akan membawa kamu untuk mengunjungi makamnya!" tandas Nehan.


Nindiya kaget dan mendengar Nehan berkata seperti itu. Ia bahkan belum menjelaskan apapun pada sang tabib. Tapi ia sudah mendengar kalau istrinya sudah mati terbakar. Membuatnya menahan diri untuk tidak berbicara lebih lanjut. Wanita itu tidak ingin Nehan meninggalkan dirinya ketika ia mengatakan kalau dirinya adalah istri sang tabib. Ia juga khawatir kalau Nehan tidak percaya dengan cerita yang ia ungkapkan.


"Oh, Nindiya ... kamu lebih beruntung dari istriku. Kamu masih bisa selamat saat kamu terkena luka bakar. Tapi tidak seperti istriku, Nindiya. Dia juga seorang pendekar hebat. Mungkin kalau kalian bertemu, bisa menjadi teman yang baik," pungkas Nehan. Ia merasa ini serba kebetulan. Saat seorang yang bernama Nindiya, yang merupakan istrinya, ada seorang wanita yang namanya sama persis.


Nindiya hanya diam menahan segala kerinduan. Ia sangat merindukan suaminya di sisinya. Bertahun-tahun ia bersama dengan orang tua Nehan mencari keberadaan tabib itu. Namun siapa sangka, dirinya baru bertemu dengan sang suami dengan keadaan yang seperti ini. Namun Nindiya cukup bersyukur karena dipertemukan dengan sang suami yang masih hidup sampai sekarang.


"Hei, kenapa kamu menangis? Kamu tidak bisa melihatku?" tanya Nehan yang dibalas dengan gelengan kepala. Lalu Nehan membalas, "Lalu bagaimana? Apa yang membuatmu menangis? Apa kamu menangis karena melihat ketampananku ini, hemm?"


Nindiya menganggukkan kepalanya. Tentu suaminya adalah pria paling tampan yang ada di dunia ini. Ia tidak akan lagi mau bersama dengan pria lain, saat ada sang suami yang bisa membuatnya merindukannya.

__ADS_1


"Benarkah aku tampan? Hahaha, baiklah ... kalau aku tampan, berarti kamu adalah wanita yang cantik. Hehh ... kamu bersabarlah beberapa minggu lagi. Kita akan keluar dari hutan ini untuk melanjutkan hidup. Entah apa, hal yang pertama yang aku ingin kunjungi adalah makam istriku di kerajaan Lokapraja."


***


__ADS_2