
Chapt 47
Pagi hari yang cerah di sebuah desa yang damai. Kicauan burung serta merta memberi kesan damai. Capung capung beterbangan di atas bumi. Sepasang muda mudi sedang duduk di atas pohon.
"Apa disana ada sarang madunya?" Nindiya sedang duduk melihat segerombolan lebah.
"Tidak." Jawab Nehan.
"Itu kan ada sarangnya. Gede banget lagi. Kata kakek, kalau ada sarang lebah, pasti ada madunya." Ucapnya mengingat sang kakek. Mahadri.
"Itu bukan lebah. Itu tawon." Jawaban Nehan membuat Nindiya memutar bola matanya.
"Tawon sama lebah, apa bedanya?"
"Kalau tawon, itu tidak menghasilkan madu. Kalau lebah, menghasilkan madu." Terang Nehan.
"Ooh... Berarti itu nggak ada madunya?"
"Ya tidak. Kalau sarang tawon itu biasanya menggantung. Tuh kan kamu liat sendiri? Nah kalau lebah, biasanya sarangnya berada di rongga rongga kayu atau batu. Sarang lebah tidak langsung terlihat."
Nindiya mencerna penjelasan dari Nehan. Memang Nehan berniat mengajari apa apa yang ada di dunia yang belum pernah Nindiya tahu. Nehan mengawalinya dari dalam hutan. Mereka menyusuri hutan bersama.
"Heiy lihat. Ada kupu kupu. Cantik."
"Hmmm... Kamu tahu nggak. Kalau kupu kupu itu hidupnya sangat singkat?"
__ADS_1
"Enggak!"
"Kupu kupu hidupnya ada yang hanya seminggu. Tetapi ada beberapa jenis yang bisa hidup setahun. Dan kamu tahu? Kupu kupu akan bertelur. Telur sangat kecil kecil. Telur itu lama lama akan muncul ulat ulat kecil. Ulat kecil akan makan daun daun. Ulat ulat itu sangat rakus. Ia akan makan terus. Sampai akhirnya ia ingin menjadi kupu kupu. Sehingga ia akan mengeluarkan cairan dan membentuk kepompong."
"Kepompong itu apa?"
"Kepompong itu yang melindungi ulat. Agar tidak dimakan burung atau yang bisa mendekati. Selain itu, ini untuk proses pembentukan menjadi kupu kupu. Setelah beberapa hari, dari kepompong itu muncul kupu kupu yang cantik."
"Wahh... Kupu kupu itu cantik yah." Nindiya mengagumi dan menangkap seekor kupu kupu.
"Iya kupu kupu itu cantik. Tapi lebih cantikan kamu." Sambil menyentil dagu nindiya.
"Ihh apaan kamu nih..." perempuan itu tersenyum malu.
Mereka berdua telah memasuki tengah hutan. Langit mendung dan gerimis mulai menghujani bumi. Mereka masih berjalan bergandengan. Sesekali Nindiya akan bertanya tentang hewan atau tumbuhan yang mereka temui.
"Ohh ini buah ciplukan. Ini merupakan tanaman obat. Bisa untuk mengobati sariawan, nyeri sendi, reumatik, diabetes, mencegah asma, mengobati penyakit jantung, bisa untuk mengobati luka, radang tenggorokan, flu dan lain lain." Terangnya.
"Ooh... Ini enak. Kamu mau nggak?" Nindiya menyuapi Nehan dengan ciplukan yang masih hijau.
"Wah... Ini belum matang." Tetapi ia tetap menelan buah itu.
"Hihihi... Ini nih..." Ia kemudian menemukan buah yang berwarna kuning.
"Hmmm... Enak." Gumamnya sambil tersenyum kearah Nindiya.
__ADS_1
Mereka melanjutkan perjalanan mereka. Tibalah mereka di sebuah tempat dimana mereka mencium bau busuk. Mereka melihat mayat mayat yang diperkirakan sudah tiga empat hari yang lalu.
"Mayat." Nehan menghentikan Nindiya yang tengah berjalan mendekat.
"Ih kok bau banget. Hah!" Nindiya kaget. Ia belum pernah melihat ini semua.
Nindiya menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya. Seketika itu, ia mengingat kejadian lima belas tahun lalu. Badannya luluh. Ia merosot dan berlutut. Ia menutupi semua wajahnya. Nehan yang melihat itu langsung mengangkat Nindiya. Ternyata perempuan tersebut pingsan.
"Nindiya. Apa kamu takut? Aku ajan membawamu pulang." Nehan menggendongnya di belakang.
Nehan menerobos hujan yang semakin deras. Ia menggunakan daun pisang untuk menutupi Nindiya agar tidak terbangun. Akan tetapi Nindiya bangun juga.
"Ah... Aku di...'' ia tidak meneruskan ucapannya. Ia mengingat kejadian barusan. Alhasil, ia hanya menangis dalam gendongan.
"Kamu sudah bangun?" Nehan merasakan bajunya basah. Ia tahu isterinya itu sedang menangis.
"Ibu, ayah." Ia mengingat kedua orang tuanya.
"Tenanglah. Aku akan membawamu pulang." Nehan mulai khawatir. Nindiya sekarang bersedih.
Sebenarnya Nehan hanya berniat memberi ilmu pengetahuan pada Nindiya. Ia tidak tahu mengapa ada mayat mayat berserakan. Membuat trauma masa lalu Nindiya terbuka kembali.
"Maaf. Aku tidak tahu " Nehan benar benar menyesal.
"Nehan!" Nindiya memeluk lelaki itu. Sambil terisak.
__ADS_1
Hujan semakin deras. Tetapi Nindiya menyingkirkan daun pisang itu dari tangan Nehan. Nehan pun membiarkannya. Yang harus ia lakukan adalah membawa isterinya pulang ke rumah.
***