
"Terima kasih orang tua." Gayatri hanya mengatakan itu pada pendekar yang telah mengusir para pendekar wanita itu.
"Terima kasih untuk apa? Saya tidak ingin ada pertarungan di tempatku. Apakah kau tidak pergi juga? Di sini hanya tempat yang terpencil. Mengapa ada saja orang yang selalu mengusikku?" Pendekar sepuh itu menatap wanita paruh baya di depannya. Ia tidak suka dengan hadirnya orang-orang yang hanya bertarung demi kekuasaan dan sejenisnya.
"Maafkan kami, Orang Tua. Kami datang ke sini tidak ingin mencari musuh. Dan sepertinya anda orang yang sedang kami cari-cari selama ini." Gayatri merasakan kekuatan luar biasa dari pria lanjut usia itu.
"Untuk apa kalian mencariku? Saya sudah sangat tua dan tidak berdaya. Tidak mau terlibat dengan dunia persilatan lagi. Lagian mereka sudah pergi. Mengapa kau masih ada di sini? Lekaslah pergi dari desa ini!" Pendekar sepuh itu pun pergi setelah mengucapkan itu.
"Guru!" panggil wanita tersebut. Karena Gayatri menganggap memang pantas pendekar itu dipanggil guru. Karena ia merasakan kekuatan besar pada dirinya.
"Apa yang kamu katakan, Wanita tidak dikenal? Kau memanggilku guru?" Pendekar sepuh itu pun menengok dan mendapati wanita itu berlutut di hadapannya.
Gayatri tidak mau ambil resiko, karena ia tidak mungkin berani melawan seorang pendekar yang dirasa lebih hebat darinya. Maka satu-satunya cara adalah dengan membuang egonya. Selama ini, ia akan bersikap kurang ajar pada setiap orang yang lebih tua.
Gayatri tidak bodoh. Itulah dia, jika berhadapan dengan seseorang yang menurutnya bisa mengalahkan, ia tidak akan bersikap seperti ini. Tetapi Gayatri sadar. Orang tua yang berada di depannya bukanlah orang sembarangan.
Sementara di belakangnya, orang tua tersebut melihat pemuda yang hanya berdiam diri tanpa bicara apapun. Dan ia baru sadar bahwa hanya pemuda itu yang tidak terkena efek ajian Gelap Ngampar yang digunakannya.
'Kurasa dengan hanya dengan sedikit efek ajian ku ini, setidaknya dia juga terkena efeknya. Siapa sangka ada yang tidak mengalami efek ajianku. Sebenarnya siapa anak muda ini? Sepertinya dia tidak memiliki ilmu Kanuragan sama sekali. Tapi pedang itu.' pikir sang pendekar sepuh.
"Guru, mohon maaf atas kelancanganku." Kembali wanita tersebut memberi hormatnya. "Kami di sini memang mencari seseorang yang memiliki kekuatan hebat." Gayatri tidak tahu apa yang akan ia lakukan berikutnya. Ia ingin mengikuti orang tua itu untuk membicarakan sesuatu.
***
Nindiya sudah selesai memasak air. Ia segera membawanya ke depan. Ia masukan teh ke dalam wadah air. Dan tiga buah gelas. Ia yakin kakeknya akan membawa tamu karena sudah mengatakan hal itu. Dan benar saja, saat ia sampai di depan rumah, ia melihat kakeknya bersama pendekar wanita, bersama pemuda pendiam tersebut.
__ADS_1
"Kakek. Benar kan. Mereka akan ke sini." Nindiya menghampiri mereka untuk menyambut kedatangan mereka semua.
"Kau memang benar. Karena kalian adalah tamuku, silahkan saja untuk mengatakan maksud dan tujuan datang ke sini." Sang pendekar sepuh lalu mempersilahkan mereka duduk. Sementara Nindiya menuangkan tehnya. Ia taruh di meja.
"Sepertinya kami datang pada orang yang tepat. Karena untuk melihat kehebatan tuan guru, sudah terlihat dari kanuragan yang dimiliki," ucap Gayatri sambil mengukur kekuatan pria lanjut usia itu.
"Kehebatan yang ku miliki hanya sebutir debu dibandingkan dengan sang pencipta. Katakan saja, maksud kedatangan kalian ke sini untuk apa? Karena saya sudah tidak akan ikut campur dunia luar. Jika tidak ada yang penting, silahkan tinggalkan tempat ini!"
"Begini. Kami kesini ada dua keperluan. Yang pertama. Kami memiliki pedang ini, sebagai permohonan maaf kami atas semua yang terjadi." Ia melirik ke arah Nehan.
Nehan mengambil pedang yang dibungkus, yang ada di punggungnya. Ia memperlihatkan pedang itu pada semua orang yang ada di tempat itu.
"Apa maksud dari semua ini? Dan mengapa kamu membawa benda terkutuk ini ke sini?" Pendekar sepuh itu tidak menyangka akan melihat secara langsung, sebuah pedang yang sudah menjadi legenda sejak dahulu.
"Apakah Tuan Guru tahu, ini pedang apa?" tanya Gayatri. Ia melihat seperti ada rasa terkejut dari pria tua itu. Sudah jelas bukan orang sembarangan yang mengetahui tentang pedang yang dibawa oleh Nehan.
"Kami tidak tahu harus datang ke mana. Anda satu-satunya harapan kami. Ini pedang yang sangat penting bagi dunia persilatan. Dan banyak pendekar yang memperebutkan pedang ini. Jangan sampai pedang ini berada di tangan pendekar golongan hitam." Wanita itu melirik pedang yang tidak dapat ia gunakan itu.
"Sepertinya kalian datang pada orang yang salah. Lebih baik tinggalkan tempat ini. Pedang itu bukanlah pedang yang sembarangan orang menggunakannya. Dan saya juga tidak berani menggunakan pedang itu."
"Tuan Guru!" Gayatri masih ingin mencoba membujuk pendekar senior di hadapannya. "Sebenarnya kami melihat gadis ini." wanita itu lalu menunjuk Nindiya.
"Ada apa dengan cucuku?" tanya pria itu dengan bingung. Karena ia tidak tahu cucunya diperhatikan oleh wanita dan anak muda itu.
"Dia terlihat sangat cantik. Dia juga begitu baik di mataku. Aku ingin melamarnya untuk keponakanku. Bagaimana? Apakah anda menerima lamaran kami?"
__ADS_1
"Apa maksud dari semua ini, Bibi?" tanya Nindiya heran. "Kakek?" Ia lalu melihat kakeknya yang hanya diam saja.
"Cucuku ini anak yang bodoh dan tidak tahu dunia luar. Apa kau yakin akan melamarnya? Apakah tidak ada gadis lain, yang bisa kalian lamar?"
"Anda tidak perlu berbohong. Dia anak yang pintar. Juga baik hati. Itu yang membuat keponakanku ini tertarik. Mohon terima keponakan ku, walaupun tidak bisa bela diri, atau kanuragan. Tapi ku yakin, dia juga bisa menjaga dirinya sendiri dan cucu Tuan Guru." Gayatri masih berusaha meyakinkannya.
"Kau bersikeras sekali, wanita licik. Baiklah ... kita akan bertanya pada cucuku. Nindiya, apakah kamu mau menikah dengan pemuda itu?"
Sebagai seorang kakek yang juga sebagai seorang guru, ia juga ingin melihat cucu atau lebih tepatnya anak dari muridnya itu mendapatkan kebahagiaan. Mungkin dengan cara ini, sang kakek harus mempercayakan Nindiya kepada orang lain. Tetapi ia tidak mau gegabah. Ia harus memilah orang yang harus dipercaya.
"Sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan?" Nindiya malah semakin bingung. Ia malah tidak paham.
"Lihat. Cucuku sangat bodoh," ujar sang kakek dengan tersenyum senang.
Gantari memegang kepala Nindiya. Saat itu sang kakek menepis tangan wanita itu karena perbuatan wanita paruh baya itu sudah di luar batas.
"Wanita busuk. Lepaskan cucuku dari tanganmu!" teriak sang kakek dengan geram. Ia tahu apa yang dilakukan oleh wanita itu pada cucunya.
"Ohh, maaf. Maafkan diriku Tuan Guru. Aku bersalah pada cucumi." Gayatri wajahnya mendadak pucat setelah ilmunya ketahuan oleh pria hebat itu.
"Untuk ini, kau menggunakan ajian 'Rogo Sukmo' kau memang wanita tidak tahu diri!" bentak pendekar sepuh, yang kemudian menarik tangan Nindiya.
"Kakek, ada apa ini? Apa yang telah terjadi?" Nindiya semakin bingung, apa yang telah terjadi dengan semua ini.
"Tidak apa Nindiya," balas sang kakek. Lalu ia menatap wanita kurang ajar itu. "Sebaiknya kalian cepat pergi dari sini!" usirnya.
__ADS_1
"Maaf saya Tuan. Saya tidak bermaksud." Wanita tersebut semakin pucat karena tidak akan bisa menghadapi pria itu.
***