Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Tiga Pendekar Lembah Kematian


__ADS_3

Tentu saja Nehan di dapur meracik obat penawarnya. Ia membakar ular itu bersama bahan obat lainnya. Itu harus dengan api yang kecil agar tidak menghilangkan khasiat dari obat itu sendiri.


Sementara Sekar menunggu dengan sangat bosan. Siang itu ia memutuskan untuk mengelilingi desa. Setelah keluar dari rumah Nehan, ia melihat sekeliling untuk mencari kegiatan.


"Kenapa desa ini begitu sepi? Tidak adakah seorang yang bisa kuajak bertarung di sini? Ah, rasanya bosan sekali karena tidak menemukan orang yang ilmunya sebanding denganku. Hoahh."


Telinga Sekar mendengar suara orang bertarung. Ia memasang telinganya ke tanah untuk mendengar, dari mana suara itu berasal. Ia bisa melacak sumber suara lalu kembali berdiri.


"Huah, akhirnya aku bisa melatih, seberapa kemampuanku selama ini." Ia melesat dengan cepat dengan menggunakan langkah anginnya.


Ternyata itu adalah prajurit kerajaan yang sedang menangkap buronan. Para perampok yang meresahkan warga desa Suwukan. Para prajurit itu sudah banyak yang terbunuh oleh segerombolan perampok yang berpakaian lusuh dan memiliki badar gemuk. Ada tiga perampok yang memiliki badan gemuk. Ketiganya memakai senjata gada, rantai yang ujungnya bola berduri, dan ada yang menggunakan trisula.


Banyak orang berlarian meminta tolong. Namun bukan pertolongan yang mereka dapat. Hanya ada pembantaian dari tiga perampok yang dikenal kejam itu.


"Hahaha! Siapa yang berani melawan kami? Bahkan prajurit kerajaan pun tidak akan bisa lepas dari kematian!" seru seorang pria yang menggunakan trisula sebagai senjata.


"Mana ada yang berani? Walaupun seluruh kerajaan Tirta Manunggal ini datang pada kami, akan kami kalahkan!" imbuh seorang yang memakai senjata rantai di tangannya. Ia memutar-mutarkan senjatanya yang mengenai prajurit kerajaan.


Dengan gada besarnya, sang pendekar yang memiliki tubuh paling gemuk itu mengayunkan senjatanya ke tanah. Membuat tanah di sekitarnya bergetar. Semua orang yang terkena sabetan senjatanya, akan langsung menemui ajalnya.

__ADS_1


"Ternyata mereka yang menjadi biang masalahnya. Baiklah ... ini akan menjadi pertarungan antar pendekar. Sepertinya aku akan mengalahkan orang-orang itu dengan sulit. Tapi apa salahnya kalau dicoba?"


Sekar menghunuskan pedangnya, menyerang mereka dengan tiba-tiba. Pertama ia menyerang pria bersenjatakan rantai yang ujungnya ada bola. Itu adalah senjata yang paling merepotkan karena daya serangnya jauh dan senjata itu serangannya tidak beraturan.


"Hohh, seorang wanita muda. Heh, ternyata ada yang mau main-main denganku, hemm? Ayolah, Cantik! Bagaimana kalau kau menerima senjata ini? Apa kamu bisa memenangkannya?"


Tidak mudah walau hanya melawan satu orang. Sekar harus menyerang dan bertahan secara bersamaan. Saat ia menyerang, sang lawan menggunakan rantainya untuk menghalau serangan. Dan saat itu juga, ujung rantai itu adalah bola berduri yang sangat berat. Terkena serangan itu akan sangat fatal.


Saat serangan bola berduri itu hampir mengenai tubuhnya, Sekar melompat dan menggunakan kesempatan untuk menyerang dari atas. Tapi lagi-lagi pendekar gemuk itu bisa dengan cepat menangkisnya. Bahkan kini rantai itu bisa memanjang dan mengelilingi wanita itu.


Sekar masih bisa tersenyum lalu memutar tubuhnya dengan cepat sambil mengayunkan pedangnya. Putarannya membuat rantai itu terpental ke arah lain. Pada akhirnya terhempas ke tanah.


"Kemampuanmu boleh juga, Wanita! Tapi kau harus tahu, aku bisa mengalahkan kamu dengan begitu mudahnya," kata pendekar itu. Ia menarik rantainya dan ia patahkan menjadi dua. Lalu ia memutarkan rantai itu untuk mengelilingi tangannya.


'Ini lebih sulit dari yang kuduga. Kurasa ini akan memakan lebih banyak waktu. Tapi bagaimana aku mengalahkannya? Oh, aku harus mengingat punggungnya. Karena aku tidak mungkin bisa menyerang bagian depan. Pasti tangannya bisa menahan seranganku,' pikir Sekar.


Sekar maju dan langsung menyerang pria itu. Ia menunjukan ketrampilan menggunakan pedangnya yang lihai, dengan menusukan pedang ke arah samping tangan pendekar gemuk itu. Lalu ia memutar pedang itu agar gagang pedangnya berputar arah. Dengan cepat, Sekar memutari pendekar itu dengan arah yang berlawanan. Saat pedang memutar dari arah kanan, Sekar memutari pendekar itu dari arah kiri. Membuat pendekar itu bingung, harus fokus ke pedang atau ke Sekar.


Sekar berada di belakang musuhnya dan berhasil menangkap pedangnya. Setelah mendapatkan pedangnya kembali, ia menghunuskan pedang itu ke punggung pria itu. Namun serangan Sekar terhenti ketika sebuah trisula lewat ke arahnya. Ia langsung menghindar dengan mundur ke belakang.

__ADS_1


"Sialnya, aku tidak berpikir kalau temannya akan membantu. Aku lupa kalau aku harus melawan tiga orang," lirih Sekar dengan nafas ngos-ngosan.


Sekar sudah menggunakan seluruh kemampuannya untuk mengalahkan satu orang dan ingin mengalahkan ketiga pendekar itu. Namun sampai sekarang ia belum mengalahkan satupun.


"Kenapa kau bodoh sekali? Hanya melawan anak kecil saja tidak bisa!" kecam pendekar bersenjata trisula itu kepada pendekar bersenjata rantai besi.


Namun tidak ada balasan dari pria besar itu. Dirinya memang tidak konsentrasi dan sudah yakin bisa mengalahkan pendekar wanita. Tapi memang pergerakan tubuh wanita itu cukup gesit. Membuatnya harus menggunakan tinjunya yang berat.


Rantai memanjang yang digunakan sebagai senjata, bisa membentuk bola atau menjadi perisai yang digunakan di tangan. Karena ada pengaturan di setiap pembuatan senjata yang satu itu. Hal ini membuktikan kalau pembuat senjata itu memiliki kemampuan luar biasa.


Pengguna senjata itu juga harus menguasai senjatanya. Jangan sampai senjata itu malah berbalik mencelakai pemakainya. Sekar kembali maju menyerang pria di depannya. Kali ini mereka berhadapan satu-satu. Sementara dua pendekar lainya hanya melihat hiburan itu.


"Hahaha! Lumayan juga kemampuan wanita itu? Selain cantik, juga memiliki kelenturan gerak yang sempurna. Hemm, kalau dilihat dari serangannya yang menggunakan teknik itu, mungkin dia berasal dari perguruan Bukit Lebah Hitam. Hahaha! Beruntung sekali, kita bisa melihat salah satu murid dari perguruan wanita itu. Sungguh benar menurut rumor, kalau mereka cantik-cantik. Tapi setiap serangannya mematikan," celoteh pendekar pemegang trisula itu. Mengomentari Sekar yang bertarung dengan sisa tenaga yang dimiliki.


"Hahaha, dia juga beruntung karena bertarung dengan salah satu pendekar dari Lembah Kematian," celetuk pendekar pengguna gada besar.


Tiga Pendekar Lembah Kematian adalah sebutan bagi tiga pendekar dengan tubuh besar yang tidak punya tempat tinggal tetap. Mereka berasal dari lembah kematian yang di mana dulunya sebuah tempat pandai besi terkenal di seluruh kerajaan Lokapraja. Mereka berkelana entah ke mana dan dengan cara merampok, mereka bertahan hidup. Karena kelakuan mereka, bahkan seluruh kerajaan telah memerintahkan untuk menangkap ketiganya, hidup ataupun mati.


Saat ini kekuatan fisik Sekar sudah terkuras habis. Tubuhnya sangat lemah setelah beberapa kali tubuhnya terkena pukulan. Bahkan ia tidak bisa menggoreskan sedikitpun pada lawannya.

__ADS_1


"Heh, sayang sekali. Nasibmu mungkin sedang tidak beruntung. Terpaksa aku selesaikan pertarungan ini." Dengan senyum menyeringai, pria itu melepaskan rantai di tangannya.


***


__ADS_2