Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 70 Hutan Warujati


__ADS_3

Chapt 70


Semilir angin pagi yang menyejukkan. Beberapa orang hilir mudik melewati jalanan yang terasa masih sepi. Disana, berdiri seorang pendekar hebat. Ia nampak tersenyum dengan kedudukannya yang menjadi pemimpin rombongan. Yah dia adalah Jumantara. Ia berdiri, disampingnya ada Gemani yang akan berada di sisinya. Sementara di belakang, dua orang tengah menahan rasa dongkolnya.


"Kenapa harus dia orang yang memimpin? huhh ...!" keluh Indera menengok ke arah Bayu.


"Kita harus terima kenyataan." Jawab Indera.


"Tapi tidak seperti ini. Kalau Gemani, aku maklum. Dia perempuan. Sedangkan si pendekar sial itu?"


"Hei! aku dengar yah." Sahut Jumantara yang sudah berada di depan Indera.


"Sejak kapan?" tentu itu membuat Indera kaget. Ia tidak menyangka, ternyata ia tidak menyadari keberadaan Jumantara.


"Sudahlah, ayo kita jalan. Sebaiknya kau bantu mereka membawa barang barang ini!" titah Gemani tajam, yang langsung dibalas Jumantara.


"Baik." Jawab Jumantara menurut. Ia mengambil beberapa barang yang dibawa indera dan Bayu.


Entah mengapa, pendekar lelaki tersebut menjadi diam. Ia tidak membantah. Indera dan Bayu hanya tersenyum, melihat Jumantara tidak membantah Gemani.


"Duh. Kenapa mereka mesra banget yah?" Indera melihat kedekatan kedua pasangan pendekar tersebut yang terlihat serasi.


"Duh ... Mulai halu nih anak. Ayo, kita teruskan jalan."


"Baiklah ...." Dengan lesu, ia berjalan beriringan dengan sahabatnya itu.


Tak sadar, mereka semakin keluar dari perumahan. Walaupun desa tersebut adalah desa yang luas, tetapi masih terdapat hutan hutan yang luas. Seperti saat ini, mereka berada di dalam hutan.


Hutan yang banyak ditumbuhi pohon jati dan waru. Hutan tersebut bernama hutan warujati. Bukan karena keberadaan dua pohon tersebut, yang membuat hutan ini disebut hutan warujati tetapi karena menurut mitos, hutan ini adalah hutan yang keramat.


Hutan Warujati adalah hutan yang ditumbuhi pohon waru dan jati. Namun sebenarnya, dulu hanya ditumbuhi rumput rumput liar. Dengan berjalanya waktu, di hutan tersebutlah, banyak orang menemukan pasangan hidupnya di tempat tersebut.


Meskipun tempat ini terkenal akan mitos tersebut, mereka yang percaya. Apalagi yang tingkat jomblonya akut, maka mereka akan datang ke hutan tersebut. Percaya atau tidak, sudah banyak yang membuktikan. Diantara mereka, sebagian besar berhasil. Dan sebagian kecil, belum berhasil karena alasan tertentu.


Misalnya dulu, beberapa tahun lalu, ada seorang pria yang datang dan memohon dipertemukan dengan jodohnya. Namun apa yang terjadi, ternyata yang datang adalah isterinya. Dan langsung pria tersebut dihajar habis habisan.


Pernah juga seseorang yang datang dan meminta jodoh disana. Akan tetapi bukan jodoh yang didapat. Tetapi ia malah bertemu dengan tulang belulang manusia. Dan ternyata, tulang belulang itu, adalah tulang belulang isterinya yang sudah lama meninggal karena usianya tidak muda lagi. Lelaki itu pun akhirnya menyusul jodohnya itu karena tidak muda lagi.

__ADS_1


Itu hanya sedikit cerita yang tidak berhasil. Sedangkan yang berhasil menemukan jodohnya di hutan warujati, mereka adalah orang orang yang berhati murni, dan memiliki tekad yang kuat untuk mencari jodoh sejati.


Tanpa penduduk ketahui. Ternyata, ada sosok makhluk yang hidup dalam sebuah batu besar. Sering terdengar suara suara dari dalam batu, tetapi batu itu tidak memiliki lubang. Mereka yang percaya, yang ada di dalamnya adalah jin ataupun dewa. Menurut kepercayaan masing masing.


"Bayu, Indera. Ini tempat apa, saya tidak tahu tempat ini, karena jarang keluar. Tetapi aku merasakan ada aura aneh disini." Tanya Jumantara. Ia melihat ke belakang. Yang dibelakang pun menjelaskan semuanya.


"Ini adalah hutan Warujati. Konon, hutan ini adalah hutan yang bertuah. Kita bisa menemukan pasangan hidup disini." Terang Bayu. Dan indera hanya diam.


"Ooh ... hahaha!" tawa Jumantara pun pecah.


Namun tawanya begitu aneh buat Bayu dan Indera. Mereka mungkin akan mendapatkan jodoh. Tetapi mereka tidak tahu menahu kebenarannya. Apakah itu hanya mitos, atau memang benar adanya.


Mereka membiarkan Jumantara menyelesaikan tawanya. Mereka berjalan semakin dalam ke hutan. Nampak disana sebuah batu besar yang ditumbuhi lumut dan rumput liar.


"Tunggu! ini adalah batu bertuah itu." Bayu menghentikan jalan mereka.


"Ooh ... ini rupanya. Hmm ...." Jumantara bergumam dan menyentuh dagunya. Ia nampak berpikir sejenak sebelum memutuskan sesuatu.


Ketiga orang yang penasaran, hanya bisa menunggu apa yang akan dilakukan oleh Jumantara. Karena mereka melihat Jumantara nampak berpikir. Namun kejadian tak disangka sangka pun terjadi.


Duarrr!


"Mengapa kau lakukan itu?" Tanya Bayu menahan emosi.


"Sudahlah. Ini hanya batu, tidak mungkin terjadi apa apa bukan?"


Namun sesuatu terjadi. Dari batu yang hancur itu, muncullah sesosok makhluk hitam menyerupai asap. Asap hitam tersebut mengeluarkan suara menggelegar.


"Siapa yang menghancurkan rumahku?" teriak sosok makhluk itu.


"Siapa kau?" tunjuk Jumantara menahan terkejutnya.


"Hah? jadi kau orangnya? Dasar manusia sialan! berarti kau harus mati!" makhluk tersebut berubah menjadi sosok menyerupai manusia. Namun wajahnya yang seram dan memiliki taring tajam.


"Hmm ... Tampangmu begitu menakutkan, tetapi saya tidak takut denganmu." Ungkap Jumantara sambil tersenyum.


"Baiklah, kau akan melihatnya." Dipandanginya keempat manusia yang dirasa mengganggunya. Namun ia terfokus pada seorang manusia yang terlihat paling sok.

__ADS_1


"Jangan gegabah." Peringatan dari Bayu. Indera pun mengangguk.


"Apa yang terjadi?" Gemani bersembunyi di balik punggung Jumantara.


"Sudahlah, biar saya yang menghadapinya. Kalian tenang saja."


"Brak!" Jumantara terlempar jauh mengenai pohon besar.


"Sialan. Ini sakit." Ungkap Jumantara. Namun ia masih bisa berdiri dan maju menyerang.


Pertarungan mereka pun terjadi. Jumantara menyerang sosok menyeramkan tersebut. Saat tinju Jumantara dilepaskan, tetapi hanya menembus sosok makhluk tersebut. Dan saat tinju dilepas makhluk tersebut, Jumantara akan terkena pukulan tersebut.


"Ajian apa yang ia gunakan?" Indera menatap pertarungan yang tidak imbang. Sekarang Jumantara sudah babak belur.


"Ayo bantu dia." Gemani melesat dan memukul sosok yang tidak tersentuh itu. Ia hanya mengenai pohon yang langsung tumbang karena pukulan Gemani.


"Hebat." Puji indera.


"Ayo, jangan diam saja!" ajak Bayu.


Mereka pun mulai menyerang. Bayu menggunakan jurus andalannya. Indera sudah melesat menebas tubuh sosok misterius tersebut. Walaupun tidak terkena, tetapi setidaknya, ia berusaha.


"Hyaa!" dengan lantangnya, indera terus menyerang. Namun tidak juga berefek serangannya.


"Rasakan ini!" ucap Bayu, sambil mengendalikan pusaran anginnya. Terlihat sosok tersebut, terhempas akibat serangan anginnya.


"Ooh seperti itu? Jadi, ia tidak mempan serangan fisik. Jadi, aku akan melakukannya." Ungkap Jumantara tersenyum. Ia sudah mendapatkan luka yang serius, namun ia belum menggunakan ajiannya.


"Kalian mundurlah!" perintahnya, kemudian ia mengumpulkan energi dari alam. Ia menggunakan sebuah ajian maha dahsyat.


"Tutup telinga kalian!" Gemani sadar, Jumantara akan mengeluarkan ajian Macan putihnya.


Di perguruan macan putih, memang memiliki ilmu macam ini. Jumantara merapalkan mantra, lalu ia mengaum seperti harimau. Itu cukup membuat bumi bergetar. Karena suaranya begitu menggelegar. Gemani mengajak Bayu dan Indera menjauh daribtempay tersebut. Karena khawatir mereka mengalami dampak ajian tersebut.


"Ini sangat menekankan telingaku." Badan Indera terasa kaku, ia merasakan ketakutan karena mendengar Auman itu.


"Ahh!" teriak Bayu, karena ia terkena lebih dari efek auman tersebut. Ia belum sepenuhnya menutup telinganya, karena Lia baru saja mengeluarkan elemen anginnya.

__ADS_1


"Sepertinya, mereka tidak bisa menahan ajian ini." Gemani tentu bisa mengatasinya, karena ia merupakan murid dari perguruan macan putih. Tentu ia memiliki ilmu yang kebal akan ajian tersebut, berbeda dengan Bayu dan Indera yang tidak tahu menahu tentang itu.


***


__ADS_2