
Nehan bergegas menggendong Nindiya. Ia urungkan niatnya menuju ke bukit yang ia dan Nindiya tinggali selama sebulan itu. Ia memutuskan untuk membuat tempat berteduh dan kembali ke tempat di mana dulunya adalah rumahnya. Rumahnya jauh dari rumah warga lainnya, membuat Nehan enggan meminta bantuan orang lain. Apalagi sekarang kondisinya tidak memiliki uang sama sekali. Ia membuat gubuk kecil dari ranting dan dedaunan. Setelah itu, ia mencari bahan sesuatu yang mungkin ia bisa temukan. Tapi nyatanya semua barang miliknya telah terkubur dengan tanah. Tidak tersisa bahan untuk memasak dan segala hal lainnya.
"Oh dunia yang kejam ini ... aku tidak mengapa, menjadi orang yang sangat menyedihkan seperti ini. Tapi apakah alam masih mau memberikan kemurahan hati pada kami anak manusia yang kelaparan ini?"
Nehan mengingat kalau ia memiliki banyak jebakan dan senjata di rumahnya. Seharusnya barang-barang itu tidak habis terbakar habis. Ia memegang pedang di tangan kanannya. Entah mengapa terbesit sebuah pikiran untuk menggunakan kekuatan dari pedang itu. Maka ia cabut pedang itu dari sarungnya. Ia ayunkan di depan tanah yang telah mengubur semua barang-barang miliknya. Sebuah angin besar bertiup sangat kencang saat Nehan melakukan itu.
Sontak saja Nehan merasakan tekanan luar biasa dan terlempar ke belakang. Pusaran angin itu membuat tanah di sekitarnya menjadi bercerai berai. Dan isi dari dalam tanah pun muncul, yang berupa barang-barang dari logam dan senjata-senjatanya yang ia simpan untuk jebakan hewan di hutan angker di belakang rumahnya itu. Di bukit yang tidak terlalu jauh, yang menghubungkan antara alam manusia dan alam ghaib.
"Uhukk!" Karena tenaganya tidak cukup menahan tekanan dari pedang itu, Nehan sampai memuntahkan darahnya. Dan darah itu terserap oleh pedang yang ia gunakan. "Oh, ini pedangnya memang pedang bertuah, uhukk!"
Setelah darah Nehan terserap oleh pedang itu, ia mendadak lemas. Ia melihat ke sekeliling, tanah yang terkena hempasan angin itu telah bertebaran dan membalikan isinya. Sekarang seperti tanah gembur yang siap untuk ditanami. Hanya saja beberapa keramik dan barang dari tanah liat juga sudah hancur berkeping-keping. Hanya tinggal barang-barang dari besi yang sudah mulai berkarat.
Nehan menyarungkan kembali pedang yang ada di tangannya. Lalu dengan bertumpu dengan pedang, ia melangkah ke arah di mana barang-barangnya berserakan. Ia mengumpulkan beberapa barang yang masih berguna. Setelah mengumpulkan semua barang-barangnya, ia tergeletak di tanah karena rasa lelahnya yang teramat.
__ADS_1
"Hehh, pedang itu memang tidak membuat penggunanya kekurangan tenaga dalam. Tapi kekurangan darah." Dengan badan yang sangat lemas, ia mulai tidak sadarkan diri. Walau darah yang keluar tidak seberapa, itu cukup untuk Nehan merasa kehilangan banyak darah.
Nindiya bangun dan melihat ke sekeliling. Ia bangun dan melihat Nehan yang tergeletak di pinggir tumpukan perabotan dan senjata. Lalu ia mencoba berdiri dan menghampiri tabib itu. Melihat keadaan suaminya yang masih bernafas tapi terlihat pucat. Seperti orang kekurangan darah. Terlihat juga pedang di tangan Nehan lalu ia mengambilnya. Setelah itu, ia mengangkat Nehan dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.
"Kamu istirahatlah, Nehan. Aku juga tahu sedikit pengobatan. Sebagai istri dari tabib paling hebat di dunia, bukanlah harus mengerti pengobatan?" Nindiya tersenyum memandang suaminya. Ia usap wajah pria yang menikahinya waktu dirinya masih berpikiran polos. Dulu ia tidak tahu apa-apa, bahkan arti dari apa itu suami, ia juga tidak tahu. Semenjak pertemuannya dengan tabib di depannya, ia sangat bersyukur karena mendapatkan ilmu baru.
Nindiya tidak bisa menyalurkan tenaga dalamnya karena percuma, Nehan tidak bisa menggunakan tenaga dalam. Maka ia hanya bisa memakai obat-obatan atau paling tidak, dari tumbuhan yang bisa mempercepat pertambahan darah. Setelah meletakan di gubug yang terbuat dari ranting dan tanaman itu, ia biarkan pedang itu di sisi lelaki itu. Ia yakin memiliki stamina yang bagus untuk menggunakan ilmunya. Ia melesat bagaikan angin, menuju ke Alas Igir Randu yang terkenal angker. Dan wanita itu bukan tidak tahu, ia hanya mengambil beberapa pakaian yang Nehan buat dan barang lainnya. Termasuk beberapa obat yang hebat. Yang didapatkan saat memanjat tebing atau menemukannya di area itu.
"Semoga di sini tidak ada makhluk itu lagi. Pedang Angin pun tidak bisa dipakai karena menghabiskan darah saja." Setelah menelusuri hutan, ia tidak yakin dengan tempatnya. Ia malah terperangkap di dalam dunia yang berbeda dari saat bersama Nehan. Ada banyak hewan dan tumbuhan yang memiliki kaki dan tangan. Ia merasakan keanehan saat berada di tempat yang tidak pernah ia jumpai.
"Hei, ada manusia! Lariii! Dia manusia sakti! Ampuuunnn! Kita tidak mau dibawa!" Mereka ketakutan karena melihat Nindiya.
Nindiya menjadi bingung karena makhluk-makhluk itu banyak yang berlarian ke sana ke mari. Tapi bodohnya, mereka malah berlarian masih berada di tempat itu. Beberapa kali mereka menjumpai Nindiya dan kembali berlari hingga kelelahan.
__ADS_1
"Kenapa kalian harus berlari? Harusnya aku yang berlari karena melihat kalian yang aneh. Sebenarnya kalian ini manusia atau apa? Kenapa bentuknya seperti manusia tapi seperti hewan?" Nindiya masih bingung atas apa yang terjadi. Hanya ingin mencari barang-barang dari Nehan. Tapi sampai sekarang pun belum ia temukan apapun. Hanya ada makhluk-makhluk yang aneh itu.
Wanita itu masih terdiam di tempatnya dan hanya melihat makhluk-makhluk itu mengelilinginya. Tapi mereka seperti ketakutan dan tidak banyak yang sudah kabur terlebih dahulu. Sementara sisanya tidak bisa kabur lebih jauh. Karena di sana adalah rumah mereka. Rumah yang selalu menjadi tempat bernaung dari hal-hal jahat. Setelah lelah berlari, beberapa dari mereka berhenti dan berlutut pada Nindiya.
"Ampuuunnn, Wahai Manusia. Kami akan menuruti apapun yang diminta asalkan kami tidak dibunuh! Kami juga makhluk juga sepertimu. Kami hanya jin-jin lemah yang tidak bisa melakukan apa-apa. Kalau anda mau membiarkan kami selamat, kami akan mengabdi padamu."
Sambil berlutut, mereka mendekat dan memegangi Nindiya. Melihat itu, Nindiya tidak yakin dengan ucapan mereka. Padahal dirinya tidak mengenal siapa mereka. Ini baru pertama kak Nindiya melihat makhluk-makhluk tersebut. Tapi ia tidak ingin apapun. Dirinya hanya ingin keluar dari tempat itu.
"Aku tidak memerlukan pengabdian. Aku juga tidak tahu tempat apa ini? Kenapa berbeda dengan tempat lain? Oh, apakah ini alam jin? Bagaimana aku bisa keluar dari sini?" tanya Nindiya dengan rasa malas. Ia membutuhkan banyak makanan untuk kembali' sehat.
"Keluar? Ini bukankah anda adalah orang sakti? Kenapa kami yang harus tahu? Eh, maafkan kami ... kami benar-benar tidak tahu. Tapi setahu kami, dulu seratus ribu tahun yang lalu, ada manusia yang datang ke sini dan menemukan jalan pulang setelah lima tahun di tempat ini."
Mendengar itu semua, membuat Nindiya kaget. Ia bahkan tidak punya waktu selama itu untuk keluar. Ia harus segera keluar dari dunia itu kurang dari satu hari. Tidak mungkin ia akan di dunia itu selama lima tahun lamanya.
__ADS_1
***