
Setelah diminumkan obat oleh Nehan, Cempaka mengalami muntah darah berwarna hitam pekat. Membuat Sekar dan Kenanga yang di dalam, berubah sikap waspada. Mereka menghunuskan pedang ke arah Nehan. Namun Nehan terlihat tenang tanpa melawan. Ia tidak merasa bersalah.
"Kenapa kalian malah mau menyerang diriku? Apa kalian berdua bodoh? Lihat, dia sudah memuntahkan darahnya yang kotor. Yang berarti, darahnya sudah membawa racun itu keluar. Adik kalian berdua sudah aman, sekarang!" ungkap Nehan tenang.
"Hentikan! Sarungkan kembali pedang kalian! Biar guru yang memeriksa!" ujar sang guru yang mendekati Cempaka. Wanita paruh baya itu memeriksa keadaan Cempaka yang baru saja memuntahkan darah.
Sementara Nehan mundur sejenak agar wanita itu leluasa. Dua kakak seperguruan Cempaka kembali mengarahkan pedangnya yang masih tersarung ke leher Nehan.
"Kalau terjadi apa-apa terhadap Cempaka, kau akan menerima akibatnya," ancam Sekar. "Kita lepaskan saja dia, Kak," lanjutnya, lalu melepaskan Nehan.
"Ya sudahlah ... lagipula sepertinya Cempaka sudah aman," balas Kenanga. Ia melepaskan dan membiarkan Nehan.
"Syukurlah ... Cempaka sudah tidak apa-apa. Kalian bisa tenang sekarang. Oh, Sekar. Aku ingin berbicara berdua denganmu! Ayo ikuti guru!" ajak sang guru kepada Sekar.
"Baik, Guru," balas Sekar. Sekar pun mengikuti sang guru yang mengajaknya.
Sekar dan sang guru keluar dari ruangan itu. Menuju ke sebuah tempat yang sepi. Tanpa ada yang mendengar satu pun. Sebelum mengatakan sesuatu, ia melihat keadaan Sekar yang mengalami luka di sekujur tubuhnya. Ia mengira kalau ada yang melecehkannya. Tapi selama Sekar bisa masuk ke dalam perguruan, tandanya Sekar masih terjaga kesuciannya.
"Ada apa dengan lukamu ini, Sekar? Tabib itu tidak melakukan sesuatu atau melecehkanmu, kan?" tanya wanita paruh baya itu. Ia memeriksa beberapa luka di pipi Sekar.
__ADS_1
"Oh tidak, Guru. Aku tidak mungkin bisa diperlakukan seperti itu olehnya. Lagipula, untuk membunuhnya, hanya memerlukan menjentikkan jariku," ujar Sekar. "Ini, aku mendapat luka ini karena melawan tiga pendekar gemuk. Yang memakai senjata rantai, gada dan trisula."
"Apa? Kau melihat mereka? Kau masih bisa selamat setelah melihat tiga pendekar itu? Kau sungguh beruntung, Sekar. Tapi kenapa kau bisa bebas dari mereka?" tanya sang guru penasaran. Ia mendengar kalau tiga pendekar Lembah Kematian adalah pendekar keji dan suka memberontak seenaknya. Tapi dirinya sendiri pun tidak berani berhadapan dengan tiga pendekar itu.
"Oh, aku mendengar suara seruling dan suara orang berkata dengan keras. Dan suaranya seperti berada di mana-mana. Dan setelah mendengar suara itu, tiga pendekar gemuk itu pergi begitu saja, Guru."
"Pendekar Seruling Kematian? Kenapa kau bisa bertemu dengan kedua aliran tersohor bersamaan? Tiga pendekar yang kau hadapi adalah Tiga Pendekar Lembah Kematian. Mereka sebenarnya seorang pandai besi yang frustasi. Karena desanya dibantai oleh pendekar golongan hitam. Mereka bertiga masih hidup dan berniat akan mencari pendekar-pendekar yang turut serta dalam penyerangan itu. Makanya mereka berbuat onar dan membunuh orang dengan keji juga."
"Lalu, kalau Pendekar Seruling Kematian, itu siapa?" tanya Sekar penasaran. Ia belum pernah mendengar nama itu sebelumnya.
"Entahlah ... tapi menurut kabar angin, pendekar tua itu adalah seorang pendekar dengan seruling yang bisa membuat angin besar. Dan dia adalah seorang pendekar yang berusia lebih dari seratus tahun, berambut putih dan sangat hebat. Beruntung bagi yang pernah melihatnya. Oh, apakah kau melihatnya? Seperti apa, rupa Pendekar Seruling Kematian itu?" tanya sang guru penasaran.
Guru wanita itu mengangguk, lalu memalingkan badannya. "Baiklah ... kalau begitu, kau bisa ikuti saja tabib itu ke rumahnya. Guru memberimu tugas untuk membunuh tabib itu!" perintah sang guru, berbalik ke arah Sekar.
Sekar tidak tahu bagaimana pemikiran sang guru. Sebelumnya yang melarang untuk membunuh Nehan, tidak diperbolehkan. Namun saat Sekar tidak ingin membunuh penyelamat adiknya, ia malah diharuskan untuk membunuhnya.
"Ke-kenapa harus membunuhnya? Bukankah dia sudah menyembuhkan adik kami, Guru?" tanya Sekar penasaran.
Sebenarnya Sekar juga tidak menginginkan kalau Nehan mati, bagaimana nasib wanita yang sedang ia rawat itu? Ia bingung, antara harus patuh atau menolak. Tapi ia harus mematuhi perintah sang guru. Sementara di sisi lain, ia harus membiarkan Nehan menyelamatkan wanita yang sekarat di rumahnya.
__ADS_1
"Bodoh! Dia sudah tahu perguruan kita. Maka harus dibunuh! Kalau tidak, bagaimana kalau dia menyebarkan di mana perguruan kita? Apa kau mau, perguruan kita dimasuki oleh orang lain?"
"Oh ... kalau begitu, kenapa tidak kita lepaskan saja? Lagipula, dia juga tidak tahu caranya masuk ke sini juga, kan?" elak Sekar. Ia sangat menyayangkan akan kematian tabib muda itu. Walau kadang ia seperti orang gila dan kadang waras dan saat waras, terlihat sangat tegas dan berwibawa.
"Kau memang murid paling bodoh, Sekar! Dengan pemikiran polosmu, bagaimana kamu bisa menghadapi dunia persilatan yang kejam ini? Apa kau mau mati konyol karena pikiran kamu yang bodoh itu, mampu membunuhmu?"
Sekar tidak bisa membantah apa yang dikatakan sang guru. Tapi sebagai seorang pendekar, harus memiliki rasa tanggung jawab dan berpikiran seperti pahlawan. Yang membantu siapa saja yang memerlukan. "Tidak, Guru. Hanya saja–"
"Diam!" potong sang guru dengan lantang. "Kalau kamu tidak mau membunuhnya, lebih baik, kau ku usir dari sini! Guru tidak mau kau seperti seorang murid yang memiliki hubungan dengan seorang pria. Apa kau pernah mendengar, sebuah perguruan wanita yang hancur karena salah satu muridnya mencintai seorang pria?"
"Tidak, Guru. Aku tidak tahu. Tapi, bagaimanapun, dia juga manusia yang telah menolong Cempaka, Guru."
"Guru tidak punya pilihan lain, Sekar. Guru hanya tidak ingin perguruan kita hancur karena seorang pria. Seperti yang dialami oleh perguruan dari negri sebrang. Apa kau pernah mendengar Perguruan Gendani Ireng? Itu adalah perguruan wanita paling tersohor di kerajaan Lokapraja. Mereka memiliki senjata yang sangat berbahaya, yang disebut dengan Pedang Tanpa Tuan. Dan pedang itu adalah senjata yang tidak mengenal musuh atau lawannya. Jika perguruan itu masih ada, mungkin perguruan kita tidak ada apa-apanya bagi mereka."
Sekar benar-benar tidak mengerti. Bagaimana cerita perguruan yang ia dengar, semua dari gurunya. Ia sudah mendengar beberapa informasi tentang dunia persilatan. Dan baru kali ini ia mendengar perguruan wanita selain di tempat mereka. Tapi letaknya berada di kerajaan sebrang. Jadi tidak mungkin dirinya tahu dan mendengar. Orang dirinya bersama murid-murid lainnya, selama ini berada di perguruan. Mereka boleh keluar karena sang guru sudah merasa Sekar dan Kenanga sudah cukup ilmu kanuragan yang dimiliki. Tapi sang guru wanita itu tidak menyangka, akan ada kejadian saat ini.
"Sepertinya guru tidak bisa melanjutkan lebih jauh. Guru harap kau tidak menikah dengannya. Karena kau masih sangat dibutuhkan di perguruan ini, Sekar! Lebah-lebah akan tahu kalau kamu berbohong. Jika tubuhmu sudah tidak suci lagi, maka lebah-lebah itu akan menyerangmu dan akan membunuhmu. Jadi harus segera membunuhnya! Camkan itu!" perintah tegas sang guru.
"Baiklah, Guru. Murid akan membunuhnya agar Guru senang," tandas Sekar.
__ADS_1
***