Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 27 Kematian Masal


__ADS_3

Chapt 27


"Cuih... Lelaki tua sepertimu masih masih doyan gadis muda. Dasar br*ng**k!"


"Diam!" Kurasenta melempar beberapa senjata dan membunuh wanita tersebut. "Siapapun yang berbicara, maka akan kupastikan bernasib sama dengannya."


Mereka yang mendengarnya pun tidak berani berbicara. Mereka memilih diam. Karena tidak ada gunanya berbicara. Ia mengingat pemimpin mereka yang kabur saat mereka dalam bahaya. Mereka pun sudah tidak punya harapan lagi.


"Sebagai seorang murid dari perguruan Gendani Ireng, pasti kalian tidak menyangka. Bahwa pimpinan atau guru kalian itu adalah wanita pengecut yang hanya mementingkan keselamatannya sendiri."


Semua wanita tersebut diam. Tidak ada gunanya membantah. Memang kenyataannya demikian. Disaat mereka tengah dalam bahaya, hanya pemimpin mereka yang melarikan diri tanpa mengajak mereka. Ia bahkan tega membiarkan seorang gadis kesayangan pemilik perguruan. Ini jelas kejahatan besar bagi perguruan.


"Kau cukup pintar Kurasenta. Kau mau memanfaatkan gadis itu? Apa kau akan menikahinya. Atau hanya sebagai pemuasmu?" Tanya Jayasetya.


"Tidak tuan. Aku tidak punya nafsu seperti itu. Aku akan mengangkatnya sebagai puteriku."


"Hmmm... Menarik." Gumam Jayasetya.


"Melihat gadis ini, aku teringat isteriku yang sampai saat ini belum memiliki anak. Dan sebelumnya ia mengatakan ingin memiliki anak perempuan. Bolehkah aku menjadikannya puteriku, tuan?" Jujur Kurasenta.


"Baiklah. Tetapi kau harus tetap waspada."

__ADS_1


"Baik tuan. Tenang saja. Aku bukan orang yang bodoh. Tentu saja aku akan memastikan gadis ini tidak membahayakan ku. Setidaknya aku akan menghilangkan tenaga dalamnya. Ia akan menjadi gadis lemah dan penurut. Sehingga bisa menemani isteriku." Tuturnya kemudian menatap lekat gadis tersebut.


"Baiklah. Tetapi aku tidak butuh para wanita tersebut. Sebaiknya kau selesaikan semuanya." Ungkap Jayasetya.


"Baik tuan. Memang sebaiknya kita singkirkan mereka. Takutnya kedepannya mereka merepotkan kita. Atau bisa saja mereka menusuk dari belakang.


Kurasenta berdiri. Ia mengambil sebuah benang hitam. Lalu menyabetkannya pada para wanita tersebut.


Wanita wanita tewas seketika. Karena benang yang digunakan sangat tajam. Hanya sekali sentakan, sayatan sayatan itu membuat mereka mengalami luka serius. Darah bercucuran, darah merah bercampur warna hitam, tanda racun telah menyerang seluruh aliran darah.


"Tidak." Gadis tersebut merasa ketakutan.


"Kenapa? Kau takut?" Tanya Kurasenta menggosok kepala sang gadis.


"Untuk ku gadis cantik, minumlah racun ini." Kurasenta menyerahkan botol racun dan langsung saja gadis tersebut meminumnya. Karena ia pikir dengan minum racun, akan membuatnya mati.


"Gadis penurut. Kau meminum racunnya dengan baik. Beristirahatlah..." Ucapnya lalu membawa gadis tersebut.


Jayasetya dan Kurasenta membiarkan mayat mayat wanita berserakan. Jayasetya menatap beberapa orang yang ketakutan. Pembunuhan masal itu akan menjadikan berita besar dikemudian waktu.


"Kau urus mayat mayat itu!" Perintahnya. Setelah menyerahkan kantong berisi koin emas.

__ADS_1


"Ba... Baik tuan." Lelaki tua itu terbata menjawab perintah Jayasetya. Ia terlalu takut menatap kedua orang yang membunuh dengan kejam.


Setelah kedua pendekar pergi, orang yang menerima koin emas tersebut menyuruh orang orang disekitar untuk membantunya dan membagi koin koin emas tersebut. Beberapa dari mereka merasakan ketakutan pula.


Para pendekar memang terbiasa kehilangan nyawa mereka, tetapi mereka tidak pernah membayangkan. Sebelas wanita mati sia sia. Sungguh sayang.


***


"Kurasenta. Kupikir kau mau menikah lagi, atau mau menikmati gadis itu. Tak disangka, seorang Kurasenta begitu mencintai isterinya." Jayasetya dari tadi diam kini bersuara. Mereka memasuki sebuah penginapan satu satunya di desa.


"Yah... Meskipun kita dari aliran hitam, tetapi setidaknya masih ada secuil cinta pada seorang wanita. Kurasa gadis ini begitu manis. Aku sangat tertarik dengan gadis ini." Ditatapnya wajah gadis yang digendongnya.


"Selamat datang tuan. Mau makan atau menginap?" Tanya seseorang begitu masuk di dalam.


"Keduanya. Tolong siapkan dua kamar." Jayasetya memberikan beberapa koin emas padanya.


"Baik tuan. Mari ikut denganku."


Kedua pendekar tersebut mengikuti pria tua yang memandu ya memasuki kamar yang telah dipesan sebelumnya oleh dua orang dari perguruan Kobra Ireng untuk kedua pendekar tersebut.


Kedatangan mereka diketahui oleh dua orang dari perguruan kobra Ireng. Mereka senang, akhirnya targetnya telah memasuki perangkap yang mereka siapkan.

__ADS_1


***


__ADS_2