Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 81 Kisah Wiyakta Dan Pedang Langit


__ADS_3

Chapt 81


Nyimas Arum, adalah seorang pendekar wanita hebat. Bisa dikatakan, ia adalah seorang guru di perguruan pedang dewa. Selain sifatnya yang lemah lembut, ia adalah seorang pendekar keturunan dari kalangan bangsawan.


Keberadaannya sebagai seorang guru, ia juga bisa menjadi seorang ibu bagi murid muridnya. Empat belas tahun sudah ia menikah dengan seorang pendekar hebat, yaitu Wiyakta. Sebuah perjuangan ketika ia dan Wiyakta belum menjadi sepasang suami-isteri.


Bakat hebat yang dikembangkannya saat masih berusia muda, serta parasnya yang ayu, serta meneduhkan. Tidak heran jika banyak pendekar satu perguruan yang ingin bersanding dengannya. Adapun mereka hanya bisa berharap. Namun ada satu pendekar hebat yang berhasil mencuri hatinya. Yaitu Wiyakta, yang saat ini menjadi seorang guru dari Raditya dan juga lainnya.


Kisah cinta Wiyakta dan Nyimas Arum, tidak semudah membalikan telapak tangan. Perjuangan mereka patut diacungi jempol. Karena orang tua Nyimas yang tidak merestui hubungannya dengan Wiyakta tempo dulu. Alasannya adalah karena Wiyakta adalah seorang yang tidak memiliki orang tua. Selain itu, karena Wiyakta adalah seorang pendekar tanpa harta melimpah, sehingga orang tua Nyimas Arum tidak akan pernah merestui mereka.


Hingga suatu hari, Wiyakta sedang di luar perguruan pedang dewa. Saat itu, ia sedang berada di desa Banyuasih. Saat itu, ia juga melihat pertarungan Daniswara secara langsung.


"Diakah Daniswara itu?" Wiyakta bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Tidak menyangka, ia bisa melihat secara langsung pendekar terkenal yang memiliki Kanuragan tinggi.


"Pedangnya itu ...," ia melirik sebuah pedang berwarna biru langit, dengan ukiran burung Phoenix di gagangnya.


Jiwa mudanya bergejolak, ia tahu, siapapun yang memiliki pedang langit akan menjadi pendekar terhebat. Tetapi untuk menghadapi ratusan pendekar, Daniswara menggunakan kekuatan yang tidak sedikit. Wiyakta tahu, jika Daniswara sudah terlihat lelah. Apalagi lawannya saat ini adalah seorang pendekar hebat.


Wiyakta melihat pertarungan Ubhaya dan Daniswara, karena kelelahan dan kekuatan Daniswara terlihat sudah hampir habis, sehingga serangan golok Ubhaya berhasil membuat Daniswara terpojok. Hingga akhirnya pedang tersebut terlepas dari tangan Daniswara.


Crashhh!!!


Pedang tersebut melayang hingga di depan Wiyakta, dengan gemetar, Wiyakta menyentuh pedang tersebut, hal pertama yang dirasakan adalah sebuah aura aneh. Yaitu sebuah energi luar biasa yang bercampur dengan aura yang dimiliki Wiyakta.


"Aura pedang ini ... luar biasa." Ia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Gemetar karena kekaguman dan rasa tidak percaya dirinya.


"Dimana pedang itu?" Ubhaya mendekati Daniswara. Ia pun menggenggam pundak Daniswara.


"Terlepas ...," jawab Daniswara


"Baiklah! Akan kuserap saja kekuatanmu. Sehingga kau tidak bisa mengumpulkan tenaga dalam lagi. Hyaa!!"


Karena takut akan menjadi korban kekejaman Ubhaya, Wiyakta berlari dengan membawa pedang langit tersebut. Ia berlari dengan ilmu meringankan tubuhnya. Walaupun ia termasuk pendekar hebat di perguruannya, tetapi jarak kekuatannya dengan Ubhaya terlalu jauh. Jika ia menghadapi Ubhaya, walaupun ia menggunakan pedang langit sekalipun, ia tidak mungkin bisa mengalahkannya.


"Aku harus menyelamatkan pedang ini. Pedang ini tidak boleh jatuh di tangan pendekar golongan hitam. Baiklah, aku akan membawa pedang ini ke perguruan pedang dewa." Ucapnya sembari terus bergerak menjauh dari pertarungan Ubhaya dan Daniswara.

__ADS_1


Untungnya, ia tidak menemui pendekar dari golongan hitam. Karena pendekar pendekar tersebut sudah tidak bernyawa lagi akibat tebasan pedang langit.


"Mataku menjadi saksi sendiri. Melihat pertarungan Daniswara dan Ubhaya, sungguh menegangkan. Apa yang harus ku jelaskan pada semua orang?" pikirannya terpaku atas jawaban yang akan ia berikan saat pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan diajukan oleh pihak perguruan.


Setelah berlari cukup jauh, ia sampai di tepi sungai dan melihat seorang pendekar sepuh. Dan matanya terbelalak saat mengetahui siapa pendekar sepuh yang sedang memeluk seorang gadis berusia lima tahun.


"Maha Guru Mahadri?! inikah mimpi?" tidak sempat ia memikirkannya terlalu dalam, sosok bayangan yang mirip Mahadri tersebut, telah berada di depannya.


Sosok Mahadri yang terlihat transparan tersebut, telah melihat Wiyakta yang merasakan takjub sekaligus takut. Mahadri adalah pendekar sepuh terhebat yang Wiyakta ketahui. Wiyakta pernah mendengar, jika para sesepuh perguruan pedang bumi bertarung dengan Mahadri, mereka tidak akan mendapatkan kemenangan dengan mudah.


Menggunakan ajian Ngrogosukmo, Mahadri melepaskan sukmanya untuk menemui Wiyakta. Dengan begitu, ia tidak perlu meninggalkan Nindiya kecil yang sedang dipeluknya.


"Kau berasal dari perguruan pedang dewa?" tanya Mahadri yang terlihat tenang.


"Kau ... maaf," ia merasakan takut karena bisa saja, Mahadri berniat menyerangnya.


"Tenanglah! Aku tidak ingin berbuat apapun kepadamu. Melihatmu memegang pedang langit itu," Mahadri menatap pedang tersebut. Sejenak ia berpikir dengan mengulur janggut panjangnya.


"Maaf, aku tidak bermaksud," ia takut-takut, kalau dirinya dalam bahaya. Meskipun ia memegang pedang langit, dirinya tidak akan mampu menghadapi Mahadri seorang diri.


"Sepertinya terjadi sesuatu pada Daniswara. Coba kau katakan apa yang terjadi?"


Rasa takut Wiyakta membuat nyalinya menciut. Meskipun Mahadri adalah tokoh pendekar aliran hitam, bukan tidak mungkin Mahadri akan membunuh Wiyakta. Apalagi karena pedang langit berada di tangannya.


"Jadi begitu. Hhh ... tidak kusangka, Ubhaya sebenarnya orang baik. Hanya saja ...," setelah itu, Mahadri menatap Wiyakta yang terlihat masih diselimuti rasa takut.


"Kenapa kau takut padaku?" tanyanya karena ia tahu, ketakutan Wiyakta karena dirinya.


"Maaf ... aku menemukan pedang ini karena terjatuh. Aku akan mengembalikan pedang ini pada anda." Wiyakta dengan tangan gemetar, mengangkat pedang tersebut, berniat menyerahkan pedang tersebut.


"Aku tidak bisa menerima pedang tersebut, karena aku hanyalah Sukma. Yang bisa menyentuh pedang itu adalah raga kita. Aku titipkan pedang langit pada perguruan pedang dewa, sebelum aku atau keturunan Daniswara yang mengambilnya, tolong jaga baik-baik pedang itu."


"Mahaguru ...." Panggil Wiyakta sambil berlutut dan mengangkat pedang tersebut.


"Bangunlah anak muda! dengan menyimpan pedang langit di tempat yang aman, berarti kau juga merupakan seorang pendekar. Memang tidak mungkin kau bisa menghadapi Ubhaya. Tetapi Ubhaya bukanlah tandinganmu. Kau masih muda. Jadi kau masih memiliki harapan untuk menjadi seorang pendekar hebat."

__ADS_1


"Terima kasih Mahaguru." Jawabnya sambil bangun dari berlututnya.


"Baiklah. Cepat kau bawa pedang itu pada gurumu. Dan aku berharap, perguruan pedang dewa bisa menjaga pedang tersebut." Mahadri menghilang dari hadapan Wiyakta.


"Baiklah Mahaguru Mahadri. Aku berjanji akan menjaga pedang ini."


Setelah itu, Wiyakta kembali menggunakan langkah anginnya untuk segera sampai ke perguruan sejenak, ia melihat sosok gadis kecil yang sedang bersama dengan Mahadri.


"Siapa anak tersebut? Apakah dia anak dari Daniswara?" gumam Wiyakta sambil terus melesat.


Setelah mengetahui bahwa Wiyakta telah dipercayai untuk menjaga pedang langit, itu membuat orang tua Nyimas Arum luluh. Ia dengan senang hati, menerima Wiyakta yang dianggap pahlawan oleh para guru dan murid perguruan. Dan berita tersebut segera menyebar di sekitar wilayah kerajaan Lokapraja.


Karena ketenaran Wiyakta yang dianggap pahlawan itulah, yang membuat orang tua Nyimas Arum segera menikahkan puterinya dengan Wiyakta. Tentu saja Wiyakta tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menikahi wanita yang dicintainya.


Saat mengingat perjuangan cinta Wiyakta, membuat Nyimas Arum merasa terharu sendiri. Ternyata kekuatan ketenaran tersebut memang berguna. Apalagi dengan cap pahlawan yang didapatkan oleh Wiyakta. Dengan menikahkan Nyimas Arum dengan Wiyakta tersebut, orang tua Nyimas Arum berharap akan menambah popularitas bisnisnya.


Hingga saat ini, usia pernikahan Wiyakta dan Nyimas Arum sudah berusia empat belas tahun setelah setahun setelah peristiwa tersebut, Wiyakta menjadi orang yang terkenal di wilayah kerajaan Lokapraja. Itu semua berkat penyebar berita yang beredar melalui mulut ke mulut.


Tentu saja resiko karena menyimpan pedang bumi, perguruan pedang dewa pun menjadi incaran bagi para pendekar. Mereka ingin merebut pedang tersebut. Maka untuk meminimalisir terjadinya perang, para sesepuh telah melindungi perguruan pedang dewa dengan rajah pelindung. Semua yang berasal dari luar perguruan tidak bisa masuk ke dalam. Bahkan pintu gerbang pun tidak bisa dilihat oleh orang biasa juga para pendekar.


Yang tahu, hanya murid dan guru dari perguruan itu sendiri. Namun ada saja murid yang membocorkan rahasia pedang dewa. Mereka juga yang sebagai penyebar berita, karena penyebar berita penting seperti itu, akan mendapatkan imbalan uang yang tidak sedikit.


Untuk mengantisipasi pihak luar, maka para guru sepuh dan guru muda, telah berusaha untuk mencari tahu penghianat tersebut, yang sampai saat ini belum diketahui.


***


note:


Alur ceritanya memang maju mundur. Jadi mohon maaf, karena ini cara saya untuk membawakan cerita ini


Mungkin banyak yang tidak paham dan bertanya-tanya kok nggak fokus ke tokoh utama Thor? kok banyak cerita cerita tentang orang lain?


Karena saya, mencoba untuk menerangkan siapa sih tokoh-tokoh tersebut, asal-usul atau mencoba menggali identitas setiap tokoh. Dari chapter awal, mungkin banyak yang tidak tahu siapa tokoh utamanya. Karena saya menuliskan atau memperkenalkan tokoh tokoh yang berbeda-beda. Tapi kalau sampai saat ini belum tahu tokoh utamanya? Terlalu!!!


Bagi yang belum tahu tentang penokohan dalam cerita ini, atau sekedar bertanya-tanya, waktu dan tempat, silahkan di tempat komentar, atau bisa masuk ke dalam grup

__ADS_1


Terima Kasih !!!


.


__ADS_2