
Chapt 41
"Trang Trang Trang!" Benturan senjata golok beradu.
"Kau cukup gesit Adipala." Seorang wanita paruh baya sedang melatih seorang pemuda.
"Terima kasih guru."
Mereka terus saling menyerang. Dengan sigap, pemuda tersebut menangkis serangan gurunya tersebut. Golok yang saling berbenturan membuat bising bagi yang mendengarnya. Lihat saja murid yang lain menatap guru dan murid hampir sama sama hebat.
Kecepatan dan ketangkasan bertarung mereka cukup mumpuni. Pemuda bernama Adipala tersebut dapat mengimbangi gerakan gurunya walau ia sempat kewalahan menangkis serangan yang terlalu cepat untuknya.
"Isterimu masih begitu lincah, Kurasenta." Ucap Jayasetya.
"Yah... Dia masih cantik bukan? Tetapi sayangnya..." Kurasenta melamunkan dirinya bersama isterinya tersebut.
Dua puluh tahun pernikahan mereka. Tetapi saat ini mereka tidak diberikan keturunan. Kebahagiaan mereka belum sempurna karena belum memiliki keturunan.
Jayasetya meninggalkan Kurasenta yang tengah membawa seorang gadis. Kurasenta menghampiri isterinya itu. Ia menatap wajah isterinya yang tersenyum. Senyuman bahagia karena melihat suaminya kembali.
"Kau sudah kembali?" Isteri Kurasenta tersenyum dan menyambut suaminya itu. Ia melirik kearah seorang gadis yang di belakang Kurasenta.
"Iya... Oh iya. Aku membawakan seorang gadis untuk menemanimu." Kurasenta melihat rasa penasaran dari isterinya.
"Siapa dia, kakang?" Tanyanya penuh selidik. Ia khawatir akan kesetiaan suaminya.
"Aku menemukannya saat dalam perjalanan pulang. Aku melihat gadis ini, aku teringat ucapanmu dulu. Kamu ingin punya anak gadis bukan?" Kurasenta menyentuh pipi isterinya.
__ADS_1
"Kakang?" Ia tersipu malu. Memang ia menginginkan anak seorang gadis. Lagian dalam perguruan tidak ada murid perempuan. Maka ia sangat senang karena ia merasa ada yang menemani. Setidaknya ia seorang perempuan.
"Ohh... Baiklah. Isteriku. Kau boleh membawanya. Aku yang menggantikanmu melatih murid murid ini." Ucapan Kurasenta itu membuat isterinya senang. Ia menarik gadis itu dan membawanya ke dalam rumah.
Kurasenta juga melihat beberapa pemuda yang melirik ke arah perempuan yang dibawa Kurasenta ke kediamannya. Para murid tersebut tentu akan tertarik dengan perempuan cantik yang dibawa. Sehingga membuat mereka terbengong.
"Apakah kalian sudah selesai?" Kurasenta mengatakan itu, membuat murid muridnya mendadak patuh.
Mereka tahu kekejaman Kurasenta dalam melatih murid. Sepasang suami isteri yang bertugas menjadi guru cabang perguruan Golok Darah.
Setiap guru cabang, setidaknya memiliki masing masing dua puluh murid. Para guru pun ada tingkatannya masing masing.
Tingkatan atau jabatan guru perguruan Golok Darah.
Guru tingkat satu. Yaitu seorang guru yang berhasil menang tanding melawan setidaknya lima guru tingkat dua. Guru tingkat satu memimpin setidaknya lima sampai sepuluh guru tingkat dua.
Guru tingkat tiga. Seorang guru yang jabatannya paling rendah. Mereka adalah seorang murid yang berhasil mengalahkan setidaknya dua puluh murid tingkat satu.
Tingkatan murid perguruan Golok Darah
Murid tingkat satu adalah murid senior yang memiliki kemampuan dan berhasil menang melawan dua puluh murid tingkat dua.
Murid tingkat dua. Merupakan murid yang telah berhasil mengalahkan dua puluh murid tingkat tiga.
Murid tingkat tiga. Murid yang berhasil melawan dua puluh murid senior yang tidak memiliki tingkat.
Murid senior. Murid yang sudah lama di perguruan. Tetapi belum bisa naik ke tingkat tiga.
__ADS_1
Murid junior. Murid yang baru bergabung ke dalam perguruan.
***
Kurasenta sebenarnya merupakan guru yang berada di tingkat dua. Namun karena isterinya yang berposisi sebagai guru tingkat tiga, membuatnya sering membantu isterinya melatih murid secara langsung.
Sementara Mirah Diahjeng adalah isteri Kurasenta. Saat ini ia berada di dalam rumahnya. Ia sedang membawa seorang gadis yang menurut kemanapun ia pergi.
"Ehh... Aku sampai lupa. Siapa namamu gadis manis?"
"Kinanti." Jawabnya lirih.
Kinanti, seorang gadis yang dulunya adalah seorang murid emas perguruan Gendani Ireng. Ia dibawa Kurasenta yang telah menyegel kekuatannya. Ia kini seperti gadis lemah. Dan saat ini, ia tidak bisa berbuat apa apa. Tubuhnya pun tidak bisa untuk berlatih bela diri. Walaupun ia masih ingat gerakan gerakan bela diri yang ia pelajari di perguruan Gendani Ireng.
"Kamu manis sekali? Apakah suamiku memperlakukanmu dengan baik?" Mirah bertanya padanya. Ia merasa sangat gembira.
"Tidak." Jawabnya jujur. Terlihat wajah ketakutan dari wajah manis Kinanti.
"Tidak? Mengapa dia tidak bersikap baik pada seorang gadis lemah sepertimu? Aku mengenalnya sangat baik. Meskipun kami dari perguruan aliran hitam. Kurasenta tidak pernah menunjukan kekejamannya di hadapanku." Mirah merasa aneh. Menurutnya, suaminya itu orang baik.
"Dia?" Kinanti belum sempat meneruskan ucapannya.
"Sudahlah. Aku sangat senang. Aku akan memiliki seseorang yang akan menemaniku. Aku harap kau mau menganggapku ibumu." Terlihat wajah sedih dari mirah.
Sementara Kinanti tidak tega membuat Mirah lebih sedih lagi kalau ia tahu tentang suaminya yang begitu kejam kepada wanita.
***
__ADS_1