Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Meyakinkan Nindiya Yang Polos


__ADS_3

"Pendekar rendahan sepertimu, beraninya menggunakan ajian seperti itu pada cucuku!" gertak sang pendekar sepuh. Ia sangat tidak suka dengan perbuatan Gayatri.


"Kakek, Rogo Sukmo itu apa?" Nindiya memang tidak tahu banyak ilmu kanuragan. Ia terlihat polos dengan tidak tahu banyak hal. Tetapi dalam kemampuan bela diri, cukup kuat untuk menghadapi lawan yang kuat.


"Ajian Rogo Sukmo itu ajian orang yang tidak tahu diri. Dengan itu seseorang dapat merasuki raga atau tubuh orang yang terkena ajian akan dikuasai olehnya. Dan kamu akan menuruti semua perintahnya. Jadi lebih baik kau hati-hati dengannya."


"Tidak, maafkan atas kelancanganku. Aku tidak bermaksud. Maafkan aku. Aku hanya ingin menikahkan keponakanku denganmu, Nindiya. Aku tidak ada niat lain, selain itu." Gayatri merasa takut pada pendekar sepuh itu.


Seorang yang mengetahui ajian yang ia gunakan adalah seseorang yang ilmunya setara atau lebih tinggi darinya. Sementara dirinya hanya menguasai tingkat dasar ajian tersebut. Ia berharap dengan ilmu yang dikuasainya mampu untuk mengendalikan Nindiya. Namun kenyataannya tidak seperti yang diharapkan.


"Maka kau carilah gadis lain! Jangan pernah mencoba menyakiti cucu perempuanku!" bentak pria itu penuh emosi.


"Tuan Guru, saya akui saya salah. Mohon pertimbangan sekali lagi," pinta Gayatri memohon. Ia bahkan rela menunduk dan berlutut di hadapan pria sepuh itu.


'Sebenarnya apa yang aku tidak ketahui, dia ketahui. Dan yang aku ketahui, dia mengetahuinya juga. Tidak mungkin aku mengalahkan orang tua ini,' batin Gayatri.


"Kalian pergi dari sini! Terutama untuk kamu, wanita iblis!" usir sang kakek dengan penuh emosi. Ia tidak terima dengan perbuatan yang tidak menyenangkan itu.


"Kakek, kenapa kamu marah-marah seperti itu? Sudahlah kakek, kita jangan begitu pada tamu kita." Nindiya mencoba menenangkan kakeknya yang dilanda emosi.


"Tidak akan, Nindiya. Dia adalah wanita yang sangat jahat." Pendekar sepuh itu menunjuk Gayatri, masih belum meredakan emosinya.


"Nindiya, bibi hanya ingin melamarmu untuk menikah dengan Nehan. Maukah kamu menikah dengan Nehan, keponakanku?" Dengan memberanikan diri, sekali lagi bertanya. Walau ia masih ketakutan dengan menunduk dan masih berlutut di hadapan pendekar yang lebih hebat darinya.


"Kakek, lihat. Kamu membuat bibi ini takut. Orang mau melamarku saja. Tapi melamar apa itu enak, Kek?" Dengan kepolosannya, Nindiya terlihat bingung dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Duh, cucuku ini memang tidak pernah kuajari apapun tentang dunia luar." Pria sepuh itu memegang jidatnya. Ia merasa bersalah untuk hal itu. Tapi ia bingung bagaimana menjelaskannya pada Nindiya.


"Apa aku salah? Maafkan aku yang tidak tahu apa itu," lirih Nindiya, menggaruk belakang lehernya. "Kakek, tolong beritahu aku, itu apa artinya?"

__ADS_1


"Kau lihat. Cucuku ini sangat bodoh. Apa kau ingin tetap melamarnya? Dan saya tidak akan membiarkan cucuku menjadi istri dari pemuda itu. Ini karena kau, Wanita busuk!" tunjuk pria itu pada wanita di depannya.


"Kakek guru." Nehan yang dari tadi diam memanggil pria itu dengan sopan. "Maafkan atas kelancanganku." Ia lebih sopan daripada Gayatri.


"Ada apa, anak muda? Kau dari tadi hanya diam saja." Ia melihat Nehan yang berjalan mendekatinya lalu memberi hormat. Dengan menundukkan kepalanya. "Apa yang kamu lakukan?"


"Jika lamaran kami diterima, dan saya akan menjadi suaminya. Di kemudian hari, aku akan mengajari semuanya. Aku yakin dia anak yang cerdas. Hanya saja pengetahuan dunia luar yang kurang. Aku yakin, dia bisa belajar dengan baik dan cepat."


Perkataan Nehan begitu jelas dan lugas. Sebagai seorang anak yang memiliki sopan santun yang tinggi, membuat dirinya lebih bijak. Ia menjadi seorang pria yang bertanggung jawab di kemudian hari.


"Kau lebih bijak dari wanita sialan itu." Menunjuk gantari yang dari tadi tidak sopan padanya. Tentu dengan kesopanan, membuat dirinya lebih menghargai.


"Kakek. Aku berjanji akan mengajarinya. Dan melindunginya, walaupun tidak memiliki ilmu tenaga dalam." Nehan merasa yakin dan membuat semuanya tersenyum kecuali Nindiya yang masih bingung.


"Kau sungguh pintar, Anak muda. Tetapi bagaimana kita menjelaskan itu pada Nindiya? Aku tidak tahu. Dan aku tidak tahu dia mau atau tidak. Sebaiknya kau tunggu sampai dia paham."


"Apa maksudmu? Kamu belum tahu, dia tidak pernah aku ajari tentang dunia luar. Dan orang-orang dunia luar sangat berbahaya. Dan saya tidak ingin cucu satu-satunya ini disakiti orang. Kulihat kamu anak yang baik."


"Izinkan saya bertanya langsung padanya. Saya tidak akan berbuat kotor atau apapun itu. Bolehkah saya bertanya langsung padanya?" Nehan pun merasakan kalau dirinya akan cocok dengan Nindiya. Selama ini ia ingin mencari gadis yang baik untuk dijadikan sebagai seorang istri. Bukan berarti ia mencari istri yang bodoh.


Mereka melihat Nehan sejenak dengan tatapan tidak percaya. Sementara Nindiya menunggu, mungkin akan ada penjelasan yang mungkin didapatkan. Karena ia benar-benar tidak tahu menahu. wajah polosnya itu terlihat menggemaskan.


"Nindiya ... itu namamu, bukan? Apakah kamu benar-benar tidak tahu apa itu menikah? tanya Nehan dengan tenang. Ditatapnya gadis itu yang begitu polosnya.


"Iya. Menikah itu ... sepertinya aku pernah dengar kata itu. Tapi dimana yah?" Nindiya melihat Nehan. Ia memandangi wajah lelaki itu dengan polosnya.


"Menikah itu. Berarti kita akan selalu bersama. Aku akan jadi suamimu. Kamu akan menjadi istriku–" Sebelum melanjutkan. Nindiya memotong ucapannya.


"Tunggu dulu! Suami? Benarkah? Aku sudah lama memancingnya di sungai. Tapi tidak dapat-dapat. Tiap pagi aku pergi ke sungai memancing tapi belum dapat suami." Nindiya membayangkan saat ia memancing suami di sungai. Memang katanya harus dilakukan oleh seorang wanita yang ingin menikah.

__ADS_1


"Apa harus memancing di sungai? Apa kau tidak tahu arti dari kata itu?" tanya Nehan sambil menggelengkan kepala.


"Iya. Aku pernah dengar orang-orang. Dulu waktu ke desa sebelah ada orang yang mengatakannya. Untuk mendapat suami atau istri itu harus memancing. Dan memancingnya pakai uang. Betul kan itu, Kakek?" Nindiya menoleh pada kakeknya.


Namun kakeknya itu hanya menutup mukanya karena tindakan bodoh sang cucu. Ia tidak menyangka kalau dirinya telah berbuat salah, dengan tidak mengajarkan sesuatu yang penting di dalam hidup. Selama Nindiya hidup, ia selalu berada dalam bahaya. Bisa saja di dunia luar akan tertipu oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.


"Hmmm ... " Gayatri memalingkan mukanya untuk tersenyum. Ia menutup mulutnya agar tidak tertawa. Itu adalah hal yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.


"Iya aku paham. Jadi kalau kamu sudah mendapatkan suami, kamu mau apa?" tanya Gayatri dengan masih menahan senyumnya.


"Hmmm ... ya seperti ayah dan ibuku." Ia tiba tiba menundukkan kepalanya. Tak terasa air matanya mengalir, mengingat ayah dan ibunya.


"Ayah-ibumu? Apa yang dilakukan oleh mereka?" tanya Gayatri untuk ke dua kalinya. Kali ini ia tidak tahan untuk ikut campur pembicaraan mereka.


Tiba-tiba saja Nindiya memeluk Nehan. Membuat kakek berdiri dan ia melihat Nehan juga menatapnya meminta penjelasan. Tidak ada yang tahu sebabnya Nindiya menangis setelah itu.


"Nindiya ditinggal oleh kedua orang tuanya. Keduanya meninggal karena pembantaian lima belas tahun lalu. Dan ia sampai sekarang masih trauma dengan kejadian itu. Dan sampai saat ini, dia tidak berani tidur sendirian. Tiap malam ia akan ketakutan jika sendirian," terang sang kakek dengan singkat.


"Jadi, apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu tidak seperti itu lagi?" Nehan menyentuh kepala Nindiya. Melihat gadis yang begitu mudahnya menangis itu.


Sang kakek pun menatap sang pemuda yang hendak melamar Nindiya. Dilihatnya sejenak wajah pemuda itu, terpancar ketulusan. Ia dapat membaca pikiran seseorang hanya dengan menatapnya. Ia menganggukan kepalanya sejenak sebelum memutuskan.


"Kau nikahilah dia, jadikan istri yang baik untuk kamu! Tapi tolong jangan kau memaksanya untuk melakukan hal atau memaksakan kehendakmu padanya! Dia belum memahami semua ini. Sepertinya kamu pemuda yang baik. Ajari dia melihat dunia."


"Baiklah, Kakek Guru. Aku akan mengajari semua tentang dunia ini. Saya berjanji," pungkas Nehan.


"Terima kasih ...."


***

__ADS_1


__ADS_2