
Chapt 51
Rombongan Puteri Padmasari telah sampai di desa Papringan. Tentu para penduduk desa Papringan menyadari lewatnya keluarga bangsawan. Sebuah kereta kuda mewah, merupakan tanda bahwa pemiliknya adalah orang dari golongan atas.
Apalagi rombongan prajurit yang berjumlah lima puluh orang. Saking banyaknya rombongan tersebut, sampai sampai mereka menyingkir dari jalanan.
"Wah ini hebat. Para penduduk pun minggir setelah melihat rombongan ini." Indera berdecak kagum.
"Kamu aja yang kurang pengalaman." Balas Bayu.
"Yah aku bukan dari golongan orang ningrat. Pantas saja saya kagum." Bela indera.
"Iya iya."
Mereka berdua sedang berada di satu kereta terpisah dari sang Puteri. Bayu dan Indera akan bergantian mengendalikan kuda penarik keretanya. Tentu jalannya pelan pelan. Karena para prajurit berjalan kaki.
"Bukankah Raditya akan siuman besok? Sebaiknya kau tidak perlu beritahu kalau perempuan yang bernama Nindiya itu sudah menikah." Indera memberi peringatan pada Bayu. Sesekali indera melihat ke dalam kereta, dimana Raditya terbaring di sana.
"Iya. Saya tahu. Memang sebaiknya seperti itu. Tetapi setidaknya Raditya harus tahu nama perempuan itu bukan?" Sebuah senyuman tersungging dari bibir Bayu.
"Terserah kau saja. Saya harap dia tidak perlu mengetahui sampai ia benar benar sembuh. Aku pikir Raditya memang menyukai perempuan itu."
"Sayang sekali. Raditya sudah kalah oleh seorang tabib."
"Sayang sekali."
__ADS_1
Sementara Puteri Padmasari, kini berada di belakang mereka. Puteri Padmasari bersama kepala prajurit. Kepala prajurit sendiri yang mengendalikan kuda penarik kereta tersebut.
"Kepala prajurit, apakah kita tidak bisa istirahat sebentar? Ini sudah mau sore. Tetapi aku belum makan." Keluh sang Puteri.
"Oh maaf tuan Puteri. Baiklah. Kita akan istirahat di sana." Tunjuk kepala prajurit pada rumah makan besar.
"Ooh baiklah. Aku sudah sangat lapar."
Mereka akhirnya sampai di rumah makan tersebut. Tetapi hanya Puteri Padmasari, beberapa pengawal juga indera dan Bayu. Para prajurit berada di luar. Mereka masih mempunyai persediaan makanan. Sementara Puteri Padmasari tidak mau makan makanan yang dibawa prajurit. Karena makanan mereka adalah makanan kering prajurit kerajaan. Itu adalah perbekalan perang. Tetapi juga untuk perjalanan jauh seperti ini. Makanan mereka keras, itu yang membuat Puteri Padmasari tidak kuat makannya.
"Bayu, Indera. Apa kalian pernah ke istana kerajaan Lokapraja?" Tanya sang Puteri.
"Tidak. Kami biasa berlatih di perguruan. Sebenarnya ini adalah misi pertama kami untuk melindungi Puteri." Jawab Bayu.
"Tetapi kenapa kalian tidak bergabung saja dengan kami waktu itu?"
Obrolan mereka berlanjut hingga petang. Mereka tidak melanjutkan perjalanan di malam hari. Apalagi mereka akan memasuki hutan lagi jika mereka meneruskan perjalanan.
Hutan adalah area berbahaya bagi para pedagang besar atau para pengusaha yang membawa barang berharga mereka. Karena banyak begal yang mungkin aktif di malam hari.
Mereka memutuskan untuk membuat tenda di ruang terbuka di desa tersebut. Walaupun desa tersebut memiliki penginapan, tetapi tidak akan cukup untuk semua prajurit. Apalagi penginapan tersebut ada yang sudah memesannya.
Kepala prajurit nampak berbincang dengan Bayu dan juga indera. Mereka sengaja tidak memberitahu Puteri karena rencana mereka.
"Kuharap malam ini tidak ada gangguan." Kata Indera.
__ADS_1
"Yah. Ini desa Papringan. Mungkin mereka tidak berani di desa ini. Kuharap tidak ada lagi ninja ninja itu." Sambung Bayu.
"Sebaiknya kita gantian berjaga. Walaupun kita berada di desa, tetapi bukan tidak mungkin ada penyerangan bukan?" Gagas kepala prajurit.
"Yah... Aku setuju." Sahut indera.
"Aku juga." Tambah Bayu.
"Baiklah. Saya akan memberitahu prajurit. Kami akan bergantian."
Kepala prajurit menuju para bawahannya. Mereka menurut apa yang kepala prajurit instruksikan.
Akhirnya mereka berjaga malam.
Api unggun sebagai penerang pun semakin meredup. Pertanda hari semakin malam. Para prajurit yang terjaga, pun mulai mengantuk.
Hanya nyamuk nyamuk yang setia menggigit tubuh mereka. Suara suara jangkrik saling bersahutan.
Satu persatu prajurit yang berjaga pun tumbang. Mereka merasa sangat mengantuk. Ketika asap asap berwarna hitam muncul diantara mereka. Mereka tidak ada yang terbangun malam itu.
"Sreeekkk.!" Suara langkah kaki terdengar dari dahan pohon.
"Wuuzzz!" Seseorang berpakaian serba hitam, meluncur dengan ilmu meringankan tubuh.
"Ayo." Ia memanggil dua rekannya.
__ADS_1
Tiga orang berpakaian serba hitam, merangsek ke dalam sebuah tenda yang mereka yakini Puteri Padmasari berada. Dan tentu saja benar. Ketiga orang berpakaian serba hitam itu membawa Puteri Padmasari tanpa sepengetahuan orang lain. Prajurit, Bayu bahkan Indera
***