Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Pengusiran Sekar


__ADS_3

Nehan terbangun dengan rasa sakit yang teramat di perutnya. Ia sudah tidak membayangkan bagaimana lagi nasibnya ketika masih ada wanita itu. Wanita yang telah membuatnya sakit seperti ini. Pria itu memegangi kepalanya yang terasa sakit. Setelah memuntahkan darah ia tidak sadarkan diri. Sehingga ia harus beristirahat dengan keadaan tersiksa dan menahan amarah.


Sementara Sekar berada depan kamar wanita yang dirawat oleh Nehan. Ia tidak berani masuk ke dalam karena bisa jadi, ia akan mengalami hal tidak terduga. Seperti serangan yang tiba-tiba darinya. Maka ia hanya bisa mengurung diri niatnya itu. Padahal ini sudah pagi dan seharusnya sudah makan. Ia dengan berusaha keras, mencoba membuat makanan seperti bubur yang ia bawa saat ini.


"Apa aku harus masuk atau bagaimana? Tapi kalau terjadi seperti kemarin, bagaimana?" lirih Sekar masih menimang-nimang keputusan yang harus ia ambil.


Tapi ia harus bertanggung jawab atas semua yang telah dilakukan. Dengan berat hati, ia masuk ke dalam ruangan yang terasa mencekam itu. Bagaimana tidak, ia akan memghadapi wanita yang ia pastikan seorang pendekar hebat. Karena ini tidak ada jalan untuk kembali. Jangan sampai membuat emosi wanita di dalam bangkit.


Sekar melihat wanita itu terbaring di tempat tidur. Ia sudah berusaha keras untuk membuat bubur yang entah bagaimana rasanya. Tapi karena wanita itu orang sakit, Sekar sangka wanita itu akan menelan apa saja yang diberikan.


"Maaf ... aku datang kali ini bukan untuk bertengkar denganmu. Aku yang salah kemarin. Tolong kamu jangan keluarkan ilmu apapun. Karena aku tidak ingin kita saling bertarung. Aku tidak mungkin menindas orang yang lemah sepertimu. Aku tahu, meskipun kamu dulunya pendekar hebat sekalipun, kau tak akan mampu mengalahkan aku. Tapi kali ini aku bermaksud baik padamu."


Sekar menghela nafasnya sejenak, tidak ada tanda-tanda pergerakan dari wanita di depannya. Yang berarti, sikap wanita itu sudah terbuka untuk Sekar.


"Aku membawakan makanan untukmu. Dan mohon untuk menghabiskan makana yang aku buat ini. Kamu tenang saja, aku tidak akan meracunimu. Aku kasihan dengan Nehan. Hem ... nama tabib itu adalah Nehan. Mungkin kamu tahu atau belum. Tapi sekarang ia sedang sakit. Maka aku akan menggantikan dia untuk merawatmu. Ayo, buka mulutmu untuk menerima makanan ini."

__ADS_1


Sekar mulai menyuapi wanita itu. Yang awalnya wanita itu menerimanya. Namun saat yang kedua kalinya, ia menolak dan tidak mau memakan bubur yang dibuat oleh Sekar. Hal itu membuat Sekar bingung. Padahal seharusnya wanita itu tidak pilih-pilih makanan karena sedang sakit.


"Hei ... kenapa kamu masih menolaknya? Apa yang membuat kamu menjadi seperti itu padaku, hemm? Ayolah, kamu harus makan ini agar cepat sembuh. Aku tidak bisa membuat makanan enak. Tapi aku bisa membuat bubur ini dengan berusaha keras. Aku sudah memasak susah-susah hanya untuk membuat kamu makan."


Sekar tetap berusaha menyuapi wanita itu. Namun tidak ada niatan dia untuk menerima makanan sedikitpun. Ia harus mencoba setidaknya sampai menghabiskan setengah dari bubur buatan Sekar.


"Apa yang kamu lakukan? Apa yang kamu berikan padanya?" Nehan baru datang ke kamar itu dan melihat Sekar sedang menyuapi pasiennya dengan makanan yang Nehan tidak tahu asalnya dari mana.


"Eh, Nehan? Ini aku dapat makanan ini dari bahan-bahan yang ada di dapur. Aku membuatkan bubur untuk orang ini. Tapi tidak mau memakan bubur yang sudah aku masak dengan susah payah."


"Apa yang kamu berikan ini? Apa kau mau meracuni pasirnku dengan ini? Apa kau tahu, kamu memberikan ini, jika makan ini, bisa-bisa sakit perut." Lalu ia memberikan bubur yang rasanya tidak enak itu kepada Sekar. "Nih, kamu harus menghabiskan sendiri! Awas kalau tidak habis!" ancam Nehan.


Dengan tidak percaya, Sekar harus menerima bubur itu. Ia mencicipi bubur buatannya sendiri dan memuntahkannya kembali. Kini ia tahu seperti apa rasa dari makanan yang dibuatnya. Meskipun tidak mengandung racun sedikitpun, yang makan juga pasti akan menderita. Sudah pantasnya kalau orang yang diberi itu akan menolak. Karena rasanya begitu membuat sakit perut.


"Lebih baik kau tinggalkan tempat ini! Aku tidak ingin kamu tinggal di rumahku! Orang seperti kamu hanya bisa membuat orang menderita. Pergi kau dari rumahku!" usir Nehan. Ia sudah memutuskan kalau memang Sekar yang selalu menjadi biang masalahnya.

__ADS_1


Sudah banyak yang telah dirusak oleh pendekar wanita itu. Yang awalnya sudah merusak meja yang sangat berharga, merusak dapurnya dan juga sudah membuat luka yang harus diderita oleh Nehan. Membuat Nehan tidak bisa melakukan pekerjaannya.


"Kau megusirku dari rumah ini? Kenapa kau tega sekali padaku? Aku hanya ingin membantu kamu. Tapi apa balasannya darimu, hah? Harusnya kau membayar aku karena telah membantu kamu!"


"Membantu seperti apa maksudmu? Membantu untuk merusak rumahku? Membantu untuk membuat aku tidak bisa melakukan apapun? Membantu untuk membunuh orang secara perlahan, hah?"


Sudah tidak ada toleransi lagi untuk Sekar. Sudah cukup Sekar membuatnya emosi. Tidak ada lagi Nehan yang gila itu. Tidak ada Nehan yang bersikap konyol dan suka menggoda. Itu membuat Sekar merasa aneh karena pemuda itu bisa menjadi dua orang yang berbeda.


"Kalau tidak diterima lagi di rumah ini, baiklah ... aku akan pergi saat ini juga. Oh iya, aku sebenarnya diurus oleh guruku untuk membunuhmu. Jadi lebih baik kau tinggalkan tempat ini segera. Aku permisi dulu, aku akan bilang pada guru kalau aku sudah membunuhmu."


Dengan berat hati, Sekar meninggalkan kamar itu. Ia sudah tidak ada harapan lagi untuk tinggal lebih lama lagi. Ia mengakuinya kalau tidak bisa memasak selama ini. Ia berjanji di dalam hatinya sendiri jika sudah sampai di perguruan nanti, ia akan belajar memasak. Sehingga ia tidak membuat orang menderita lagi di masa mendatang.


"Apa kau tidak apa-apa, hemm? Aku tidak tahu kenapa bisa memasukan wanita itu. Aku tidak akan membawa wanita lagi ke rumah ini. Akan aku pastikan bahwa, hanya ada kamu saja, wanita yang masuk ke rumahku ini. Kamu akan sembuh besok. Aku akan membuka matamu. Tapi sekarang kamu harus minum obat. Aku akan membuat obat untuk kamu. Tapi sebelum itu, aku akan memeriksa kamu, apa kau buang air lagi? Karena ada aku di sini, kamu bisa buang air kecil atau besar. Aku akan membersihkannya untukmu."


Menjadi seorang tabib yang merawat seseorang yang lumpuh, ia harus mengerjakan apa saja yang tidak bisa dilakukan orang itu. Termasuk membersihkan air kencing dan juga kotoran. Bukan sesuatu yang jorok tapi ini memang kenyataannya. Nehan sudah membantu wanita itu sudah berhari-hari. Tinggal menunggu waktu sampai wanita itu bisa melakukan pekerjaan seperti manusia normal.

__ADS_1


***


__ADS_2