Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 23 Arena Pertandingan Pendekar


__ADS_3

Chapt 23


Beberapa orang tengah berkerumun. Ditempat ramai di pasar, segerombolan pendekar tengah berkumpul di sebuah arena pertarungan. Sebuah pasar yang tidak asing bagi setiap pendekar yang ingin memperkaya diri. Inilah salah satu tempat untuk mendapatkan beberapa koin emas atau barang berharga lainnya.


Hanya dengan pertarungan diatas arena berbentuk persegi berukuran 5×5 meter itu, hampir setiap pekan mengadakan pertarungan bebas antar pendekar. Dan karena pertarungan bebas, maka aturannya pun bebas menggunakan senjata apapun. Dalam satu pertandingan, boleh membawa rekan sebanyak apapun asal muat di arena pertarungan.


Siapapun yang berhasil melawan lawan tarung dengan membuat lawan menyerah, mati atau keluar dari arena pertarungan. Maka pendekar tersebut layak mendapatkan hadiah dari panitia.


Namun tidak mudah untuk orang orang yang mengikuti pertarungan antar pendekar. Mereka harus lolos seleksi terlebih dahulu. Mereka harus mampu melawan anggota panitia terlebih dahulu. Apabila dianggap layak, maka petarung tersebut berhak mengikuti turnamen.


Namun sesungguhnya, diadakan pertandingan tersebut untuk menarik pendekar pendekar hebat untuk dijadikan sebagai anggota sebuah organisasi. Dimana organisasi itu tengah berkembang dengan pesat. Namun belum resmi diumumkan ke publik. Walaupun sudah memiliki anggota lebih dari ratusan pendekar. Tetapi mereka menutup rapat rahasia tersebut.


"Mari tuan. Anda silahkan naik ke arena." Ucap seorang petugas pada salah satu pendekar muda.


"Dan anda juga." Kemudian mempersilahkan pada pendekar paruh baya.


Pendekar muda tersebut, membawa senjata cambuk yang ujungnya diberi racun. Sementara pendekar paruh baya itu tidak seperti membawa senjata. Namun dari tadi, ia memegangi sebuah bola hitam. Dan seperti bola itu terbuat dari lembaran lembaran yang digulung.

__ADS_1


"Baik. Kita mulai saja pertandingannya. Kurasa tidak perlu kujelaskan peraturannya. Kurasa kalian sudah tahu." Wasit tidak menjelaskan banyak. Karena ia yakin semua yang ada disini sudah tahu peraturannya.


Kedua pendekar yang akan bertanding, sudah bersiap siap. Mereka sudah jelas tahu peraturannya. Hanya saja, kedua pendekar tidak terlalu antusias. Setelah pertandingan dimulai, mereka masih belum menyerang. Malah mereka mengobrol satu sama lain.


"Hmm... Kudengar kau pendekar muda yang sangat dikagumi. Kurasa kau cukup tampan. Namun sayangnya, ketampanamnu akan segera berakhir." Pendekar paruh baya itu memainkan bola hitam kecil ditangannya.


"Hhhh... Kurasa aku tidak sefamiliar itu. Dan aku tidak tahu siapa diri anda. Dan mengapa anda menggunakan bola itu sebagai senjata. Dan kurasa, anda meremehkan cambuk beracunku." Sinis pemuda tersebut.


"Oohh... Kau tidak mengenalku? Oh baiklah. Kurasa pendekar muda sepertimu harus menghadapi bola iblisku terlebih dahulu."


Hanya senyuman mengejek yang mereka tampilkan. Kepercayaan diri pemuda tersebut semakin tinggi karena ia pikir sangat mudah mengalahkan pendekar yang bahkan tidak bersenjata.


"Hmmm... Kau anak muda yang tidak sabaran ternyata. Mari kita selesaikan dengan cepat."


Pendekar muda tersebut mulai menyerang dengan mencambukan cambuk beracun ya ke segala arah. Ia tidak akan memberi ruang lawannya. Namun lawannya itu berhasil mengelak dari cambuk tersebut.


"Wahh... Hebat hebat."

__ADS_1


"Ayo ayo..."


"Serang serang ..."


Suara suara penonton yang menyaksikan pertandingan mendapatkan hiburan yang menurut mereka menyenangkan. Tetapi ketegangan masih dirasakan pemuda yang sedang bertarung. Tetapi ia masih dapat menguasai pertarungan.


"Kurasa sebagai pendekar tua, kau cukup gesit juga. Namun maafkan aku paman. Kau bukan tandingan ku." Pendekar muda tersebut semakin mempercepat cambukannya.


Sudah ratusan cambukan yang dilepaskan pemuda tersebut. Namun tidak ada yang bisa ia lakukan pada pendekar senior tersebut. Ia mengakui kelincahan pendekar yang sudah tidak muda lagi. Gerakannya sungguh lihai menghindari serangan.


"Anda hanya menghindari serangan. Tapi tidak menyerang. Apa kau cukup yakin untuk menguras tenagaku?" Ia terus mencambuk.


"Tidak juga anak muda. Sepertinya aku salah denganmu. Kau tidak cukup hebat melawanku. Terpaksa sampai disini." Sambil menghindari serangan, ia menatap celah tepat di dada pemuda tersebut.


"Apa maks..."


"Sraangg..." Pendekar itu melemparkan bola hitamnya yang sedari tadi dipegangnya.

__ADS_1


Bola hitam tersebut mengenai dada pendekar muda tersebut. Semua orang terpana menyaksikan pertarungan yang membuat jantung mereka berdebar. Pasalnya mereka pikir pemuda tersebut yang akan memenangkan pertandingan. Namun harapan mereka pupus sudah.


***


__ADS_2