Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 21 Desa Guntur 2


__ADS_3

Chapt 21


Seakan mengerti maksud kedatangan mereka, sang gadis meletakan bahan obat obatan yang dibawanya. Ia melihat kereta yang menurutnya mewah, tentu ia pikir itu kereta kerajaan.


"Maaf, benarkah ini rumah tabib?" Bayu langsung menanyakan itu. Ia sadar, rekannya lebih penting untuk saat ini.


Gadis muda tersebut mengamati kedua orang tersebut memandang Bayu yang juga menatapnya dengan intens. Ia memastikan bahwa mereka berniat baik. Setelah ia melihat seorang gadis muncul dari dalam kereta, ia yakin gadis itu dari kerajaan. Ia bisa melihat aura yang dipancarkannya nampak berwibawa.


"Benar, namun saat ini guru sedang ke hutan. Mungkin kembalinya nanti sore. Maaf ada yang bisa dibantu?"


"Hmm... Ini... Teman kami mengalami luka parah. Tertusuk pedang. Biasakan nona membantu?"


Gadis yang berusia sekitar enam belas tahun itu tidak terlalu mengerti ilmu pengobatan. Ia hanya membantu menjaga rumah sang tabib yang sudah sepuh. Ia sebenarnya mempunyai rumah sendiri tidak jauh dari tempat itu.


"Baiklah. Mari bawa masuk. Asalkan lukanya tidak terlalu parah, mungkin saya bisa bantu."


"Baiklah..." Bayu memberi tanda oke, dengan jarinya membentuk huruf 'o'


Segera mereka membawa Raditya ke dalam rumah sang tabib. Namun gadis itu begitu lemas dan syok. Ia melihat dan memeriksa luka yang ia sendiri tidak mungkin bisa mengobatinya.

__ADS_1


"Ini... Bagaimana mungkin?" Gadis itu merasa kecewa. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan pemuda yang tergeletak di ranjang itu.


"Bagaimana?" Ketiga orang di belakangnya pun penasaran. Akankah Raditya bisa terselamatkan.


"Aku tidak bisa menyembuhkannya. Lukanya sangat parah. Dan..." Ia bingung mau mengatakan apa. Karena kondisinya.


"Jangan buat kami khawatir. Apa kau bisa menolongnya?" Putri Padmasari kini yang bertanya. Tentu dengan masih khawatir.


"Mohon maaf, yang bisa menolong, hanya guruku. Tapi beliau pulangnya nanti sore. Aku khawatir."


"Jadi?"


"Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku belum pernah menangani kasus seperti ini. Tubuhnya tertembus pedang. Dan mungkin organ dalamnya..."


"Apakah gurumu bisa dipanggil pulang sekarang juga? Mungkinkah bisa menyembuhkannya. Aku khawatir nyawanya tidak tertolong." Indera geram. Saat saat seperti ini, ia tidak bisa berbuat apapun.


"Tidak bisa. Di hutan itu jauh. Bisa setengah hari perjalanan."


Seorang pemuda berjalan melewati perumahan yang masih sepi. Hari masih pagi, namun beberapa orang sudah berada di ladang atau kegiatan mereka. Desa yang mayoritas penduduknya bekerja pagi pagi sekali. Dan mereka rata rata menjadi petani dan peternak. Dan rumah yang ditujunya merupakan rumah yang berada paling ujung desa.

__ADS_1


Pemuda tersebut menggendong pedangnya di punggungnya. Ia melihat kereta kuda terparkir di depan rumah itu. Ia segera melihat ke dalam. Ia melihat orang orang cemas. Ia segera masuk ke dalam.


"Kirana. Ada apa?" Seketika itu, semua yang ada di dalam melihat ke arahnya.


"Ohh.. kak Nehan. Syukurlah..." Orang yang dipanggil Kirana itu tersenyum lega. Ia tahu jelas siapa orang yang ada dihadapannya.


"Ada ap..." Sebelum ia melanjutkan ucapannya. Ia melihat seseorang tengah terbaring lemah. Dengan darah terus merembes di kain yang membalutnya.


Sementara Bayu dan indera saling berpandangan. Sedangkan Puteri Padmasari terpana melihat nehan. Tanpa menunggu lagi, Nehan mendekati Raditya yang tengah diambang nyawa.


Nehan memeriksa dada Raditya. Ia memastikan masih ada detak jantung. Memeriksa nafasnya dengan mendekatkan jarinya ke ujung hidung Raditya. Lalu ia membuka perban itu. Darah masih mengalir. Ia mengamati sebentar.


"Kirana. Tolong ambilkan gunting, pisau alat jahit dan obat luar."


"Baik." Kirana segera menuju rak yang tidak jauh. Ia mengambil perlengkapannya.


Nehan meletakan pedang yang digendongnya ke lantai. Lalu bergegas kembali mendekati Raditya. Karena penasaran dengan pedang tersebut, Bayu dan indera saling berpandangan. Mereka tertarik dengan pedang yang dibungkus kain merah tersebut.


Sekilas terlihat pedang dan sarungnya yang sepanjang satu setengah meter itu. Mereka mendekati pedang tersebut.

__ADS_1


"Hmmm... Pedang ini cukup besar." Bayu jongkok mengamati pedang itu. Ia berniat mengangkatnya. Namun ia tidak bisa dengan satu tangan. Lalu kedua tangannya pun tidak bisa.


***


__ADS_2