Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Kesalahan Gayatri


__ADS_3

"Jebloskan dia di dalam penjara bersama anaknya. Dan tiga hari dari sekarang, penggal kepalanya!" perintah ketua perguruan. Dengan tatapan sinisnya, menatap wanita itu dengan tidak sukanya.


"Ketua ..." ucap Gayatri yang tidak tega melihat adik seperguruannya. "Kenapa harus seperti ini? Apa tidak ada maaf lagi untuknya?"


"Gayatri! Kau jangan pernah ikut campur. Kau jangan membela penghianat seperti dia! Tidakkah kamu sadari, perbuatannya sudah tidak termaafkan!" bentak sang pemimpin perguruan.


"Tapi dia ... dia adalah anggota dari perguruan kita, Ketua–" Ia tidak bisa meneruskan kalimatnya. Karena segera dipotong oleh sang ketua.


"Diam, Gayatri! Atau kau juga ingin dihukum juga?" bentaknya dengan sinis. Wanita paruh baya itu tidak akan segan pada bawahannya yang bersalah. Akan ia hukum siapapun yang telah berbuat kesalahan. Apalagi Lokalita sudah dianggap sebagai penghianat perguruan.


Gatatri tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan adik seperguruannya. Maka ia hanya bisa memilih untuk diam. Lokahita dibawa ke penjara bawah tanah bersama anaknya.


'Lokahita, maafkan aku. Harusnya dulu kau tidak menyelamatkanku. Dan kini kau yang menanggung akibatnya. Aku berharap, suatu hari nanti, aku bisa membalas kebaikanmu,' batin Gayatri, melihat semua yang telah terjadi. Itu adalah kesalahan baginya, yang telah membuat adik seperguruannya mengalami kejadian seperti itu.


Gayatri merasa tidak tenang, ia masuk ke dalam tahanan dan melihat Lokahita bersama anak kecil di dalam tahanan. Ia hanya melihatnya dengan tatapan sendu. Karena tidak pernah berfikir akan seperti itu akhirnya. Wanita yang telah ia anggap sebagai adiknya sendiri, mengalami kehidupan yang pahit. Batinnya pasti tersiksa karena hal itu.


"Kak Gayatri ... kau tidak perlu merasa bersalah. Aku sudah cukup bahagia selama ini." Lokahita menyambut kedatangan Gayatri yang menuju ke ruang tahanan. Ia terlihat masih tersenyum dengan luka-luka yang telah didapatkan.


"Maafkan aku yang tidak berguna ini, Lokahita. Seharusnya kamu tidak menyelamatkanku, dulu. Lihatlah, karena kesalahanku, kamu yang mendapat hukuman ini. Seharusnya itu aku yang mendapatkan ini semua." Gayatri juga menatap anak kecil tidak berdosa itu. Ia tidak tahu apa yang terjadi saat kepergian sang adik. Yang membuatnya menjadi seperti itu.


"Sudahlah Kak Gayatri. Ini bukan salahmu. Lagian aku bahagia hidup di luar perguruan, selama ini. Walaupun ini tidak bertahan selamanya. Tapi ini cukuk untuk aku merasakan bahagia. Dan apakah kamu tahu, kebahagiaan sejati, aku sudah memiliki seorang putra. Hanya saja ..." lirih Lokahita sambil melirik anaknya.


"Ada apa, Loka? Apa ada yang bisa saya lakukan untuk menyelamatkan kamu? Aku akan membebaskanmu dari sini." Setidaknya ia masih berfikir demikian. Apapun itu, ia pasti akan melakukannya. Walaupun nyawa adalah taruhannya.


"Tidak, Kakak Gayatri. Aku tidak ingin bebas. Ini memang salahku. Lagian suamiku sudah meninggal. Satu-satunya yang ku khawatirkan adalah putraku, Nehan." Rasa bersalahnya hanya pada sang anak yang ia lahirkan. Ia berharap kehidupan bahagia menyertai sang anak.


Gayatri melihat seorang anak sedang duduk termenung. Anak itu terlihat adanya ekspresi takut atau apa, hanya bersikap datar seperti tidak memiliki apapun yang diinginkan. Tapi memang seorang anak, tidak bisa dihukum atas kesalahan yang tidak pernah dilakukan. Tapi dalam perguruan itu memang tidak perlu kesalahan untuk menerima hukuman.

__ADS_1


'Bagaimana anak itu diam saja? Tanpa ekspresi sama sekali. Apakah benar, dia anaknya Lokahita?' pikir dalam hati Gayatri. Apapun yang ia lakukan, adalah yang terbaik yang akan terjadi.


"Gayatri," panggil Lokahita dengan ekspresi sedihnya.


"Iya? Aku pasti akan melakukan apapun yang kamu minta," janji Gayatri terhadap Lokahita.


"Bisakah kau menolongku?" pinta Lokahita. Ia kembali menatap sang anak dengan tatapan murungnya.


"Iya, aku akan menolong kamu, Loka! Aku akan membebaskanmu dari sini. Tenang saja, aku pasti bisa menyelamatkanmu."


"Tidak Gayatri. Aku sudah tidak ingin hidup lagi. Aku hanya ingin kau merawat dan membesarkan Nehan. Bisakah kau berjanji padaku?" pinta Lokahita dengan memohon dan memelas. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk sang putra.


"Aku berjanji padamu, Loka! Tapi bagaimana dengan kamu? Apakah kamu tidak mau membesarkan anakmu?"


Lokahita menggelengkan kepalanya. "Aku juga sudah pasti akan mati. Dan mungkin ini adalah permintaan egois dariku. Kamu akan dimusuhi oleh perguruan ini. Tapi aku hanya punya kamu yang bisa membantuku."


"Baiklah, aku jadi merasa tenang. Maaf merepotkan kamu." Lokahita bernafas lega. Ia tidak berharap hidup. Ia hanya tidak ingin pengorbanannya sia sia. Bagaimana jadinya, seorang anak yang tidak bersalah sama sekali, harus menanggung derita yang amat sakit. Dan harus meregang nyawa diusia yang bahkan belum memasuki usia remaja.


"Tidak masalah. Ini mungkin satu satunya cara untuk membalas kebaikanmu," balas Gayatri dengan nafas tersengal. Rasanya sesak saat ia mengetahui adiknya akan menerima eksekusi besok.


"Syukurlah ... aku jadi tenang. Aku bisa meninggalkan dia dengan baik."


***


Lamunan Gayatri terhenti, saat ia merasakan seseorang dari jarak yang jauh sedang mendekat. Wanita itu melihat Nehan yang datang padanya. Dan merasakan sesuatu sedang mendekat.


"Nehan," panggil Gayatri. Ia mengisyaratkan agar berlindung. "Cepat ke belakang bibi."

__ADS_1


"Iya." Nehan menurut saja apa yang diperintahkan oleh Gayatri.


Segerombolan pendekar wanita telah berada di depannya. Dengan aura pembunuh yang sangat kuat. Mereka menggunakan senjata yang sama yaitu pedang tanpa tuan.


"Kalian!"


"Halo apa kabar, Gayatri. Ooh aku lupa, maksudku bibi Gayatri yang cantik. Hmmm," ucap salah satu pendekar wanita.


"Tak kusangka kau masih hidup. Setelah melarikan diri dari perguruan. Ternyata hidupmu jadi gelandangan seperti ini?" Senyum sinis dari para pendekar wanita.


"Kurasa kalian datang bukan untuk bernostalgia denganku? Apa yang kalian inginkan?" Gantari memasang kewaspadaan. Ia tidak ingin salah atau gegabah.


"Hmmm, menarik. Sederhana saja, kami inginkan pedang bumi itu. Dan setelah kau serahkan. Akan kupastikan kalian berdua menyusul Lokahita dengan tenang."


"Jangan harap! Maju kalian semua!" tantang Gayatri dengan memasang kuda-kuda.


"Gayatri Gayatri. Baiklah, kami juga ingin lihat seberapa kehebatanmu sekarang. Saudari sekalian, biar aku yang urus penghianat ini."


Pertarungan satu lawan satu dimulai. Gayatri yang melindungi Nehan, kini harus berhadapan dengan perguruanya sendiri. Mereka menggunakan senjata yang sama. Maka mereka bertarung dengan imbang. Keduanya saling bertukar jurus hingga mereka tidak menyadari kehadiran seseorang.


"Ngiiiing .... Ngiiiing ..." suara melengking memekakan telinga mereka. Sehingga membuat mereka menutup telinganya.


"Sial! Ini ajian gelap Ngampar. Bagaimana ini?" Dari telinganya sampai keluar darah karena tidak tahan dengan suara yang didengarnya walaupun menutup telinganya.


"Jika kalian mau berkelahi di tempatku, lebih baik kalian pergi dari sini." Seorang pria tua tiba-tiba berada di dekat mereka.


"Ini ... ini belum selesai. Aku akan mendapatkan pedang itu, apapun yang terjadi." Para pendekar wanita itu pergi dengan cepat. Mereka berlari sampai tidak menginjak tanah.

__ADS_1


***


__ADS_2