Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Kemunculan Pedang Dari Dalam Tanah


__ADS_3

Berhari-hari sampai berminggu-minggu mereka berada di dalam hutan. Nindiya sudah bisa melakukan aktifitas seperti biasanya. Hanya saja masih memiliki bekas luka di tubuhnya, juga wajahnya yang masih tidak bisa dikenali lagi.


Nehan tahu kalau di tempat itu adalah tempat yang cukup banyak tanaman obat. Namun terkadang tempat itu menjadi gerbang antara dunia manusia dan dunia ghaib. Hari ini mereka tidak tahu sudah berjalan sampai ke mana. Bahkan mereka sudah memasuki hutan semakin ke dalam. Suasana berkabut dan terdengar berbagai suara yang aneh. Seperti lolongan srigala, burung hantu, jangkrik dan lain sebagainya. Juga di sana terasa begitu mencekam.


"Hei, kalian kembalilah! Di sini bukan tempat kalian para manusia!" Sesosok makhluk berbentuk asap hitam, serba hitam dan tidak terlihat wajahnya. Hanya mata yang berwarna bercahaya hijau.


"Kalian hanya akan mati di tangan raja jin di hutan ini! Apa kalian mau mati karena tidak mau mendengar nasihat kami, hahh?" Sesosok makhluk yang berbentuk berupa sosok tengkorak. Tapi tidak memiliki kaki. Berwarna keperakan dan berasap yang berwarna keperakan.


"Kami mencari tanaman obat di sini. Kenapa kami harus pergi? Aku sering mengunjungi tempat ini kenapa hari ini kalian muncul kembali? Padahal baru saja kami mau masuk ke puncak bukit." Begitu Nehan berkata untuk meyakinkan makhluk-makhluk itu.


Karena sudah memperingatkan Nehan yang tidak mau keluar itu, membuat dua makhluk itu murka dan menyerang Nehan. Akan tetapi Nindiya menghadang dua makhluk itu. Ia memukulnya namun makhluk itu menyebar menjadi asap. Tapi saat kedua makhluk itu menyerang, Nindiya merasakan dampak dari serangan itu. Sehingga terlempar ke belakang, saking kerasnya.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Nehan yang menghampiri Nindiya. "Ayo, kita teruskan atau kembali ke sana? Tapi biasanya aku lewat ke sini, tidak ada makhluk itu."


"Hei, kami ini hanya memperingatkan kalian berdua! Karena raja jin telah bangkit kembali. Setelah seratus ribu tahun terkurung di dalam gunung ini, akhirnya terbebas juga. Kelak, raja jin juga akan menjadi salah satu iblis yang menguasai tiga dunia."

__ADS_1


"Lebih baik kita tinggalkan saja tempat ini, Nehan!" ujar Nindiya, menahan sakit karena terkena serangan dari makhluk itu.


Mereka baru beberapa saat masuk ke dalamnya. Nehan mengangkat tubuh Nindiya yang terlihat lemah karena belum sembuh total. Nehan membawa tubuh Nindiya, dan keluar dari dunia ghaib tersebut. Saat mereka sudah berganti di dunia manusia, mereka masih berada di tepi hutan. Nehan terus membawa Nindiya untuk menuruni bukit. Karena tidak ingin kembali berhadapan dengan makhluk-makhluk ghaib itu.


"Kita tidak perlu ke sana lagi, Nehan. Biarkan wajah ini seperti ini. Lagian kamu katanya tabib hebat, pasti bisa membuat wajahku kembali seperti semula. Kalaupun membutuhkan waktu yang lama, aku akan menunggumu." Nindiya masih digendong oleh suaminya sendiri. Walau saat ini sang suami tidak tahu kalau dirinya adalah istrinya yang masih hidup. Yang dikabarkan mati oleh orang yang tidak dikenal itu.


Mereka kembali ke rumah Nehan yang sudah rata dengan tanah. Sebagian sudah terkubur dengan tanah dan sudah tidak ada bekas rumah Nehan lagi. Dan hal yang membuat Nehan tidak menyangka, bekas rumah Nehan itu sudah ditumbuhi rumput yang cukup tinggi. Padahal Nehan merasa hanya meninggalkan tempat itu sebulan. Tapi itu seperti sudah ditinggal beberapa tahun lamanya.


"Kenapa rumah ini seperti ini? Apakah karena efek kebakaran itu, membuatnya cepat ditumbuhi rumput dan semak ini?" Nehan meletakan Nindiya ke batang kayu yang sudah lapuk. "Kau tunggu saja di sini!"


Nehan mencoba mencari barang yang mungkin tersisa. Namun rumput dan semak belukar itu membuatnya kesulitan. Ia merasa sudah meninggalkan desa selama bertahun-tahun jika dilihat dari semak belukar dan rumput itu tumbuh.


Sementara Nindiya berusaha berdiri. Namun ia terantuk batu dan membuatnya terjatuh terlentang. Sementara di bawahnya adalah ranting kering yang posisi ujung runcingnya menghadap ke atas.


"Awhh! Tolong!" teriak Nindiya yang tubuhnya ambruk. Ia merasakan sakit di punggungnya dan yakin kalau sudah mengeluarkan darah. Ia merasakan sakit yang teramat dan ia merasa lukanya cukup dalam.

__ADS_1


Mendengar Nindiya berteriak, Nehan langsung berlari dan menghampiri wanita itu. Darah mengalir dan merembes dan masuk ke dalam tanah yang kering itu. Sesaat tabib itu akan membantu, ledakan besar terjadi dari dalam tanah. Yang membuat Nindiya terlempar cukup jauh. Begitu juga Nehan yang ikut terlempar ke arah yang berbeda.


Nindiya merasakan sakit yang luar biasa karena efek ledakan yang membuatnya terlempar jauh ke belakang. Apalagi darahnya terus mengalir dengan derasnya. Nehan pun mengalami luka di wajahnya karena tergores daun alang-alang. Ia kembali berlari menuju ke arah wanita malang itu.


"Hosh hosh hosh ... sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba saja ada ledakan?" Dengan nafas yang tersengal-sengal karena rasa lelah menghinggapi. Ia menghampiri wanita yang harus ia tolong itu.


Nehan lalu melihat ke kanan dan ke kiri hanya melihat tanaman liar. Ia membalikan tubuh Nindiya dan merobek bagian belakangnya. Lalu ia memetik daun bandotan yang tumbuh dengan liar. Ia mengambil daun yang muda dan mengunyahnya. Lalu ia membalurkannya pada luka di punggung wanita itu.


"Sabarlah ... ini akan segera menutup luka. Hanya ada ini yang terlihat, jadi aku hanya bisa mengobati dengan ini," cetusnya dengan terburu-buru karena khawatir. Lalu ia menengok ke kanan dan ke kiri, tidak ada tanaman yang bisa membantunya untuk memperban luka tersebut. Maka ia melepaskan pakaiannya yang sebenarnya sudah kotor.


"Auhh! Sakit ..." lirih Nindiya, menahan perih. "Pelan-pelan ...." Ia sudah merasa baikan walau terasa sakit. Tapi setelah lukanya diberi daun yang dikunyah itu, darah tidak lagi mengalir dengan deras. Walau masih tetap saja, tidak menutup seluruhnya.


"Sementara ini saja. Kau akan segera sembuh setelah beristirahat. Kamu duduk saja di sini! Mungkin aku akan mencari obat yang lebih berguna! Kuharap tanaman obat yang kutanam itu masih ada." Nehan meninggalkan Nindiya untuk mencari obat yang ia tanam sebulan lalu.


Akibat ledakan yang terjadi, dari dalam tanah, ada asap putih yang muncul dari dalam tanah. Sebuah pedang yang melayang di atas tanah dengan pusaran angin di sekelilingnya. Beberapa benda yang terbawa angin itu memutari pedang itu. Nindiya hanya bisa melihatnya dari jarak yang cukup jauh.

__ADS_1


"Itu pedang? Kenapa muncul dari dalam tanah? Apakah ...." Nindiya menyadari kalau dirinyalah yang membuat pedang itu muncul dari dalam tanah. Ia tidak melihat suaminya yang sudah menghilang di balik rimbunnya semak belukar. Tapi ia yakin kalau darahnya yang membuat pedang itu keluar dari tanah.


***


__ADS_2