Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 59 Perguruan Macan Putih


__ADS_3

Chapt 59


Bayu dan Indera telah membersihkan kamar mereka. Sambil menggerutu, yang jelas didengar oleh harimau putih yang berada di samping Jumantara. Harimau putih, jelas memberitahukan semuanya pada pemuda tersebut.


"Sungguh kotor otak mereka. Di depan, bersikap patuh. Tetapi dibelakang, kalian ternyata memiliki hati dan pikiran yang begitu picik." Ia berucap sambil mendengus kesal.


"Grrrr!"(anggap saja suara harimau yang menggeram)


"Iya, kau sudah memberitahuku dengan baik. Harimau baik." Jumantara mengelus kepala harimau putih itu.


Seperti anak kucing yang patuh, harimau putih itu memejamkan matanya. Ia menikmati belaian dari majikannya tersebut.


"Saya akan membalas kalian berdua. Lihat saja nanti." Senyuman jahat dari raut wajah Jumantara.


Di tempat lain, berjarak lima ratus meter dari rumah milik Jumantara, para murid perguruan macan putih, telah berlatih. Murid dari perguruan macan putih, tidak banyak seperti perguruan lain. Alasannya adalah karena warga akan takut untuk memasuki perguruan.


Baik dari desa yang dekat, atau desa yang jauh. Mereka tidak berminat memasukan anak mereka atau kerabat mereka yang ingin berlatih bela diri. Mereka akan memilih tempat lain. Seperti perguruan Pedang Dewa yang setiap tahunnya dibanjiri ribuan calon murid. Tetapi sebagian besar, akan kecewa karena perguruan hanya mengangkat seratus murid setiap lima tahun sekali.


Hutan tempat berlatih perguruan macan putih, adalah hutan yang dihuni ratusan harimau putih yang berukuran sangat besar. Bisa dua atau tiga kali ukuran harimau normal lainnya.


Hutan macan putih, begitu luas. Hutan ini, jarang di datangi manusia waras. Karena hanya orang gila saja yang masuk kedalam hutan. Dan setelah masuk, mereka tidak akan kembali. Tetapi penyebab mereka tidak kembali, bukanlah karena mereka dimakan harimau, tetapi mereka dilatih menjadi pendekar. Sebelumnya, guru perguruan macan putih akan menyembuhkan gila mereka.

__ADS_1


Setelah para orang gila menjadi waras, mereka akan diberi pengetahuan dasar ilmu beladiri. Adapun yang tidak tahu aksara, mereka akan dibimbing sampai mereka bisa membaca dan menulis.


Guru macan putih, tidak memiliki aturan ketat, sederhana saja, mereka hanya memiliki tiga guru. Ketiga guru itu masing masing memiliki murid yang mereka pilih sendiri, atau karena keinginan muridnya. Bukan semua yang dulunya gila yang menjadi murid macan putih. Tetapi karena rata rata tidak berani berguru di tempat tersebut.


Hanya beberapa orang yang karena sudah tidak punya harapan hidup. Ingin bunuh diri, atau memang mereka ingin cari mati. Tetapi untuk kasus Jumantara adalah karena ia ditemukan oleh seorang guru saat masih bayi. Maka tidak ada yang tahu orang tua Jumantara.


Tiap murid, hanya ada tiga tingkatan, namun tiga tingkatan tersebut tidaklah tertulis.



Pertama, mereka yang baru masuk dan belajar jurus jurus dari Peru macan putih


Ketiga, mereka yang sudah bisa dengan bebas menguasai ilmu lainnya. Selain dari perguruan ajarkan.



Setiap murid perguruan macan putih, bebas berlatih di perguruan manapun, pada siapapun. Asal mereka dari golongan putih atau netral. Karena mereka tidak mau, murid perguruan macan putih masuk ke perguruan sesat. Karena rata rata Perguruan aliran hitam, rata rata mereka menggunakan bantuan dari makhluk astral, atau makhluk halus.


"Sudah. Kalian cukup berlatihnya. Kalian boleh istirahat." Ucap sang guru.


"Terima kasih guru." Mereka memberi hormat.

__ADS_1


Mereka semua membubarkan diri. Berbagai usia, dari tua sampai muda. Dari perempuan atau laki laki. Mereka yang berada di perguruan, adalah murid perguruan. Kecuali tiga guru pastinya.


Tiga guru di perguruan macan putih adalah ketiga pendekar sepuh yang berumur delapan puluh tahun, sembilan puluh tahun. Dan yang paling sepuh adalah guru yang berumur seratus tujuh puluh tahun.


Diusia mereka yang terbilang sudah tidak muda lagi, mereka tetap memiliki tenaga yang fit. Selain wajah dan tubuh mereka yang keriput, kekuatan dan daya tahan mereka tetap kokoh tidak dimakan usia.


Guru paling senior bernama Abiroma, ia adalah ketua dari perguruan macan putih. Ia sudah memimpin perguruan sejak usianya tiga puluh tahun. Ia juga pendiri perguruan tersebut. Guru kedua bernama Mahawira. Ia adalah murid dari Abiroma yang tersisa. Selain dia, mereka sudah meninggal. Guru ketiga, bernama Waranggana. Ia Murid dari seorang guru yang sudah meninggal. Salah satu rekan Mahawira.


Murid perguruan macan putih tinggal bebas di hutan tersebut. Maka dari itu, rumah rumah mereka juga bisa berjarak berjauhan. Seperti Jumantara dan Gemani. Mereka tinggal jauh dari tempat mereka berlatih.


Hanya Jumantara yang akan malas untuk berlatih. Meskipun demikian, ia adalah murid tercerdas di perguruan. Bukan karena semua harimau putih tunduk padanya. Tetapi ia sangat mudah menyerap ilmu seseorang hanya dari pandangan pertama.


Kemampuan untuk meniru jurus lawan, adalah ilmu yang menjadi andalan Jumantara. Tidak hanya bisa meniru jurus atau ajian lawan. Ia juga tahu kelemahan dan kelebihan jurus lawan. Maka dengan mudah, Jumantara kadang memperbaiki gerakan gerakan yang salah pada lawannya.


Ilmu tersebut dia dapatkan dari pendekar yang pernah menolongnya tempo hari. Dan ilmu tersebut sangat berguna baginya.


***


Jika ingin tahu jurus meniru jurus lawan seperti apa? Anggap saja kalian menonton Angling darma. Disitu ada ilmu yang seperti itu. Kalau nggak salah adalah "Desendria" benar atau tidak? Yah semoga saja benar. Karena jurus itu terinspirasi dari jurus yang digunakan oleh prabu Angling darma.


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2