Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Serangan Tiba-tiba


__ADS_3

Karena Nehan tidak bisa keluar dari rumah, untuk pemulihan diri, Sekar yang keluar dari rumah untuk mencari makanan di pasar. Di mana dirinya pernah bertemu dengan tiga pendekar gemuk tersebut. Setelah memastikan keadaan, Sekar harus berhati-hati agar tidak bertemu dengan pendekar yang lebih hebat darinya.


"Hei, kenapa kalian pada menjauhiku? Apa ada yang salah denganku? Sehingga semua orang pada nggak ada yang mau aku dekati? Permisi ... saya mau beli ini," kata Sekar dengan raut wajah bingung.


Namun pemilik toko yang dimaksud tidak berani mendekat kepada Sekar. Mereka takut dengan para pendekar, apalagi yang menggunakan senjata seperti yang saat ini Sekar bawa. Senjata berupa pedang yang berada di tangan kirinya.


"Hei, ini berapaan? Kenapa orang-orang ini, sih? Haruskah aku ratakan pasar ini, untuk membuat kalian mengatakannya?" ancam Sekar yang bersiap untuk mengeluarkan pedang dari sarungnya. "Kalau kalian tidak mau menjawab, akan ku hancurkan lapak kalian!"


Mendengar ancaman itu, banyak di antara mereka yang pasrah. Memang kebanyakan pendekar semaunya sendiri. Bahkan tidak banyak yang merampok demi untuk popularitas. Seperti yang dilakukan oleh Tiga Pendekar Lembah Kematian. Tapi yang dilakukan Sekar hanyalah ingin belanja, sesuai apa yang dipesankan oleh Nehan.


"A-a-an-anu ... se-se-semu-a itu gratis. Iya, gratis," jawab seorang wanita paruh baya. Wanita kurus dengan pakaian lusuh serta rambutnya yang kering, berantakan seperti jarang mandi.


"Gratis? Yang benar saja? Saya mau membeli ini, sesuai yang dikatakan oleh tabib kurang ajar itu." Ia menaruh koin emas ke lapak jualan wanita itu. Tidak tahu itu mencukupi untuk membayar atau tidak.


"Aku akan membayar untuk ini, berapa koin emas yang harus ku berikan?" tanya Sekar yang berganti lapak lain. "Tolong jangan katakan terserah! Karena saya hanya menuruti orang untuk membeli. Dan kalian tolong, jangan membuatku menjadi susah! Tapi berikan harga yang lebih murah untukku!"


"Walau sudah mengatakan itu, tetap saja mau harga yang murah, dasar pendekar bodoh," lirih seorang pria yang berada di tempat yang lebih jauh sedikit.


"Nona pendekar, mau membeli apa? Ini untuk satu ikat sayuran, hanya dua koin emas saja," kata seorang gadis muda, yang baru berusia belasan tahun.


Melihat ada yang mengatakan itu, Sekar tersenyum dan menepuk pundak gadis itu dengan pelan. Hal seperti itulah yang seharusnya dikatakan untuk membuat mereka tidak terlalu mengalami kerugian. Setelah mendapatkan belanjaan, ia meninggalkan pasar itu. Ini pertama kalinya dirinya belanja dengan uang yang diberikan oleh Nehan.

__ADS_1


Setelah Sekar meninggalkan pasar, barulah para pedagang itu berkumpul kembali. Mereka mulai bergunjing tentang pendekar itu. Mereka mulai membicarakan hal yang kemarin, saat dikalahkan oleh tiga pendekar yang melawannya.


"Hei, tahukah kalian, itu bukannya pendekar yang kemarin itu? Pendekar yang dibuat kewalahan melawan tiga perampok itu?" ujar seorang pedagang kain.


"Oh, benarkah? Bukannya itu yang kemarin hampir menolong kita? Tapi untungnya dia tidak apa-apa," balas salah seorang yang menyahuti.


Tidak sampai segitu, mereka juga menyayangkan sikap mereka barusan. Karena tidak menyadari wanita itu. Tapi mereka bersyukur karena masih ada pendekar yang masih selamat dari tiga pendekar tersebut.


Nehan berada di ruang pengolahan obat, meracik sejumlah bahan-bahan alami yang bisa digunakan untuk penyembuhan. Saat ia ingin menumbuk obat, luka di perutnya juga mengeluarkan darah kembali. Tidak menyangka, tusukan pedang milik Sekar, mampu menusuk bagian dalam.


"Ughh ... itu pendekar wanita sungguhan menusukku sampai terdalam seperti ini," lirih Nehan menahan sakit.


Pemuda itu lalu mengambil obat dan membuka perban itu. Menaburi bubuk yang digunakan untuk menyembuhkan luka. Ia kembali memberi perban dan mencampurkannya dengan obat lain. Setelah ia menyembuhkan dirinya dengan obat-obatan itu ia masuk ke kamar. Di mana ada seorang wanita yang masih belum bisa apa-apa.


Dengan perlahan, Nehan memberikan obat cair hangat itu dengan menggunakan sendok. Dengan telaten, tabib itu menyuapi walau perutnya terasa sakit.


"Ughh, kamu minum obatnya yang banyak. Ohh, kenapa wanita itu sangat kejam padaku? Sungguh pendekar tidak tahu diri," keluh Nehan.


Mendengar Nehan mengeluh dan seperti menahan sakit, wanita itu mencari tangan sang tabib. Saat ia memegang tangan itu, digenggamnya tangan itu, yang memberikan semangat untuk Nehan. Pemuda itu tahu, wanita itu perduli dan bermaksud untuk memberikan semangat.


"Hei, apakah kau ingin memberiku semangat? Terima kasih sekali untukmu. Di dunia ini, jarang sekali aku bertemu orang baik. Kuharap kau masih ada di sisiku saat kau sembuh nanti. Jangan pernah kau tinggalkan aku, setidaknya aku punya teman untuk mengobrol. Sudahlah ... aku tahu kamu khawatir padaku."

__ADS_1


Nehan merasa sangat dekat dengan wanita yang ditolongnya. Setiap wanita yang ia temui, tidak seperti wanita yang saat ini tengah terbaring lemah itu. Berkat dukungan semangat itu, juga membuat Nehan senang. Sudah cukup senang mendapatkan perhatian kecil itu.


"Jika kau menurut, cepatlah sembuh ... aku tidak tahu sampai kapan aku bertahan. Eh, perutku juga sangat sakit. Bolehkah aku tidur di sampingmu sebentar?" tanya Nehan yang sudah tidak kuat. Lukanya kambuh karena membuat obat. Dan ia harus berjalan sampai ia tidak kuat lagi.


Respon wanita itu membuat Nehan terharu. Karena ini pertama kalinya wanita itu menganggukkan kepalanya. Tabib itu pun naik ke atas tempat tidur dengan perlahan. Ia merebahkan dirinya di tempat tidur yang nyaman itu.


"Hari ini biarkan aku istirahat sebentar. Aku sangat lelah sekali, setelah aku merasa lebih baik, aku akan meninggalkan tempat tidur ternyaman ini. Ketahuilah, aku bukan seorang yang hebat. Aku juga bukan orang yang pintar atau orang yang jago bela diri di dunia persilatan yang kejam ini. Tapi asalkan mau berusaha, pasti aku akan menggapai impianku untuk menjadi seorang tabib yang hebat."


Semakin lama, Nehan semakin mengantuk sambil tangannya yang berpegangan dengan wanita di sebelahnya, hingga terlelap.


Sekar yang sudah mendapatkan bahan makanan, berupa sayuran dan daging. Serta beberapa bumbu yang dipesan oleh Nehan. Ia tidak melihat tabib itu di manapun. Membuatnya ingin mencari keberadaan Nehan berada. Awalnya Sekar menuju ke dapur untuk menaruh bahan masakan. Sesampainya di dapur, ia tidak melihat siapapun.


"Kenapa tabib gila itu tidak ada di dapur? Ke manakah si kunyuk itu pergi, hemm? Ah, mungkin berada di ruang obat? Aku akan ke sana untuk mencarinya."


Sekar ke ruang obat dan tidak ditemukan Nehan di sana. Karena tidak melihat siapapun, Sekar pun mencari Nehan ke setiap ruangan. Hingga semua ruangan telah ia periksa. Hingga tinggal ruangan terakhir yang belum ia periksa.


Sekar menuju ke kamar terakhir, di mana Nehan merawat seorang yang tidak berdaya di kamar itu. Betapa kagetnya ketika ia melihat Nehan sedang terlelap di samping wanita itu.


"Dasar tabib gila dan mesum! Orang sekarat pun kamu nodai! Akan aku bunuh, kau!" gertaknya sambil mengeluarkan pedangnya. Lalu menyerang Nehan.


Sekar kaget karena tiba-tiba pusaran angin tiba-tiba menyerangnya. Ia pun dipaksa mundur dan melihat wanita yang di sebelah Nehan yang menggerakkan tangannya.

__ADS_1


***


__ADS_2